Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Larangan Pelangsir di Pom, Membuat Langka Dipinggiran, Pengecer Pertalite di Kotabaru Tiarap

Jumain Radar Banjarmasin • Rabu, 6 Mei 2026 | 15:14 WIB
KOSONG: Botol penjual Pertalite pinggir jalan pusat kota rata rata kosong.
Foto: Jumain/ Radar Banjarmasin. 
KOSONG: Botol penjual Pertalite pinggir jalan pusat kota rata rata kosong. Foto: Jumain/ Radar Banjarmasin. 
 
 
RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Kotabaru – Ada yang hilang dari wajah jalanan di pusat kota Bumi Sa-Ijaan beberapa hari ini. Pemandangan rak-rak kayu berisi botol bensin yang biasanya menjamur di sepanjang trotoar kini tak lagi tampak. 
 
Tak hanya pedagang botolan, mesin-mesin digital Pertamini yang biasanya menjadi penyelamat pengendara di jam-jam krusial pun terpantau mati total. Kota Kotabaru mendadak sunyi dari aktivitas jual beli BBM di pinggir jalan.
 
Hasil pantauan lapangan Radar Banjarmasin Rabu (6/5) siang sampai sore menyisir sudut-sudut kota hingga ke pinggiran, menunjukkan fenomena yang seragam. 
 
Di mana para pedagang eceran memilih tiarap. Hal ini disinyalir sebagai dampak sistemik dari pengetatan aturan pengisian BBM subsidi yang mulai diberlakukan secara masif di setiap Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).
 
Di kawasan wisata Siring Laut, yang biasanya hidup 24 jam, Abah Akbar tampak lesu. Pemilik unit Pertamini ini biasanya menjadi tumpuan para pengendara yang kehabisan bahan bakar di tengah malam atau menjelang subuh. Namun kini, selang Pertamininya hanya tergantung mati.
 
“Saya biasanya ambil stok di SPBU menggunakan jerigen. Sekarang aturan sudah sangat ketat, pengisian menggunakan jerigen atau secara berulang sudah tidak diperbolehkan lagi. Kalau tidak ada barang (Pertalite), apa yang mau dijual. Kami terpaksa tutup,” ungkap Abah Akbar kepada Radar Banjarmasin.
 
Bagi Abah Akbar dan kawan-kawan seprofesinya, ini bukan sekadar urusan regulasi, melainkan urusan piring nasi.
 
Ia berharap ada solusi jalan tengah dari pemerintah daerah maupun pihak terkait. 
 
“Kami berharap ada pendataan atau izin khusus bagi pedagang kecil seperti kami. Ini usaha kami untuk makan, untuk menyambung hidup keluarga,” rintihnya.
 
Hilangnya pengecer bensin ini langsung berdampak pada psikologis masyarakat. Gilang Ramadhan, salah satu warga, mengaku kini sering didera rasa was-was saat berkendara. 
 
Jika dulu ia merasa aman meski jarum bensin sudah menyentuh garis merah karena banyaknya pengecer, kini kondisinya berbalik 180 derajat.
 
“Sekarang tiap kali mau berangkat harus cek tangki dulu. Harus hitung-hitungan, kuat tidak sampai ke pom (SPBU) terdekat. Kalau dulu kan santai saja karena eceran menjamur di mana-mana,” ujar Gilang.
 
Meski demikian, Gilang sedikit bernafas lega karena operasional SPBU di Kotabaru kini mulai membaik. Beberapa SPBU yang biasanya sudah tutup pada pukul 15.00 atau 16.00 WITA, kini terpantau melayani warga hingga larut malam.
Editor : Arif Subekti
#Kotabaru #pelangsiran BBM #BBM #pedagang