RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BARABAI - Dinas Perdagangan (Disdag) Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) meminta masyarakat berperan aktif mengawasi distribusi BBM bersubsidi jenis Bio Solar, termasuk dengan memviralkan SPBU yang diduga memainkan harga di lapangan.
Seruan itu disampaikan sebagai bagian dari upaya menekan praktik penjualan BBM bersubsidi di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan Pemerintah.
Disdag HST mengimbau warga mengamati, mendokumentasikan, dan menyebarluaskan temuan jika ada indikasi pelanggaran.
Kepala Disdag HST, Irfan Sunarko menegaskan keterlibatan masyarakat menjadi kunci dalam mengungkap praktik kecurangan distribusi BBM subsidi.
“Kami minta masyarakat tidak ragu untuk mendokumentasikan dan memviralkan jika menemukan SPBU yang menjual Bio Solar di atas harga yang ditentukan. Itu penting sebagai bentuk pengawasan bersama,” ujarnya, Senin (4/5/2026).
Ia menjelaskan, harga resmi Bio Solar saat ini sebesar Rp6.800 per liter. Jika ditemukan penjualan melebihi harga tersebut, maka hal itu sudah termasuk pelanggaran dan dapat ditindak.
“Dengan adanya bukti dari masyarakat, tentu akan memudahkan kami dalam melakukan penelusuran dan penindakan,” tambahnya.
Menurut Irfan, langkah memviralkan temuan di lapangan bukan semata untuk menyebarkan informasi, tetapi juga menjadi tekanan sosial agar pelaku usaha mematuhi aturan yang berlaku.
Disdag HST sendiri berkomitmen menindaklanjuti setiap laporan yang masuk, baik dari masyarakat maupun hasil pengawasan langsung di lapangan. Pengawasan juga akan diperkuat dengan melibatkan instansi terkait guna memastikan distribusi BBM subsidi tepat sasaran.
Langkah ini diharapkan mampu menekan praktik permainan harga serta menjamin ketersediaan Bio Solar bagi masyarakat, khususnya sektor transportasi dan pelaku usaha yang bergantung pada BBM bersubsidi.
Sebelumnya, puluhan sopir truk di HST mengadu ke DPRD setempat karena sulit mendapatkan BBM subsidi tersebut.
Dalam rapat dengar pendapat, para sopir mengeluhkan stok yang langka serta harga yang kerap melebihi ketentuan. Bahkan, di lapangan harga Bio Solar disebut bisa mencapai Rp8 ribu per liter sampai Rp10 ribu per liter, jauh di atas HET Rp6.800 per liter.
Koordinator sopir truk, Yayan menyampaikan mereka meminta jaminan ketersediaan BBM, serta transparansi distribusi di setiap SPBU. Para sopir juga berharap pengisian BBM bisa dilakukan secara rutin dan merata.
Selain itu, DPRD HST juga menemukan adanya ketidaksesuaian antara aturan dan praktik di lapangan. Sejumlah SPBU disebut belum menjalankan distribusi secara optimal, bahkan ada dugaan prioritas kepada pelangsir dibanding sopir angkutan.
Kondisi ini memicu keresahan di kalangan sopir, karena Bio Solar merupakan kebutuhan utama operasional angkutan barang.
Editor : M Oscar Fraby