RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, KANDANGAN – Praktik penangkapan ikan dengan cara disetrum di Danau Bangkau, Hulu Sungai Selatan, sudah modern. Aktivitas ilegal yang merusak ekosistem perairan ini tidak lagi sekadar mengandalkan alat setrum tradisional, melainkan sudah memanfaatkan teknologi canggih untuk menghindari pengawasan aparat.
Kepala Desa Bangkau, Syamsudin, menuturkan para pelaku diduga berasal dari luar daerah dan masuk melalui jalur sungai. “Sekali setrum, ikan langsung mati dan mudah dipanen. Ini sangat merusak,” ujarnya, Senin (27/4).
Kerusakan yang ditimbulkan bukan hanya pada ikan dewasa, tetapi juga benih yang mati seketika, memutus siklus reproduksi dan mengancam masa depan perikanan warga.
Pemerintah daerah bersama aparat dan masyarakat telah memperketat pengawasan. Kepala Bidang Perikanan HSS, Fatmadiansyah, memastikan patroli rutin dilakukan dengan koordinasi kelompok pengawas dan Polairud. “Setiap laporan langsung ditindaklanjuti,” katanya.
Selain pengawasan, upaya pemulihan juga dilakukan melalui penebaran benih ikan secara berkala untuk menjaga populasi.
Namun, patroli kini menghadapi tantangan baru. Dalam operasi terbaru, aparat menemukan indikasi penggunaan drone oleh pelaku. Anggota Polairud, Bripda Fajar, mengungkapkan bahwa patroli gabungan kerap bocor. “Ada drone saat kami patroli. Diduga untuk memantau pergerakan kami,” ujarnya.
Menghentikan praktik ilegal ini, aparat harus menyusun strategi baru. Jika tidak, Danau Bangkau terancam kehilangan salah satu sumber penghidupan utama masyarakatnya.
Editor: Oscar Fraby
Editor : Arief