Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Hotspot Kalsel Naik 75 Persen dalam 24 Jam, Tapin Jadi Titik Terbanyak

M Fadlan Zakiri • Jumat, 24 April 2026 | 13:42 WIB
Peta BMKG menunjukkan tingkat kemudahan terbakar (FFMC) di Kalimantan Selatan didominasi zona kuning hingga merah, menandakan kondisi vegetasi kering dan rawan kebakaran, Jumat (23/4). (BMKG KALSEL)
Peta BMKG menunjukkan tingkat kemudahan terbakar (FFMC) di Kalimantan Selatan didominasi zona kuning hingga merah, menandakan kondisi vegetasi kering dan rawan kebakaran, Jumat (23/4). (BMKG KALSEL)
 
 
RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM,  Banjarbaru - Aktivitas titik panas (hotspot) di Kalimantan Selatan menunjukkan tren peningkatan. 
 
Dalam kurun 24 jam terakhir, jumlah hotspot naik signifikan dari 4 titik pada 23 April 2026 menjadi 7 titik pada 24 April 2026, atau meningkat sekitar 75 persen.
 
Data Stasiun Meteorologi Kelas II Syamsudin Noor BMKG mencatat, pada 23 April sebaran hotspot masih terpencar di empat wilayah, masing-masing di Kabupaten Balangan (Kecamatan Awayan), Kota Banjarbaru (Landasan Ulin), Kabupaten Kotabaru (Kelumpang Hulu), dan Kabupaten Tanah Bumbu (Satui).
 
Namun, pada 24 April, pola sebaran berubah. Titik panas mulai terkonsentrasi di wilayah daratan bagian tengah hingga utara. 
 
Kabupaten Tapin menjadi penyumbang terbanyak dengan empat titik yang seluruhnya berada di Kecamatan Lokpaikat. 
 
Sementara itu, dua titik terdeteksi di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, tepatnya di Kecamatan Sungai Raya, dan satu titik lainnya di Kabupaten Tabalong, Kecamatan Haruai.
 
Seluruh hotspot yang terdeteksi tersebut berada pada tingkat kepercayaan menengah atau level 8. 
 
Artinya, meski tetap memerlukan verifikasi lapangan untuk memastikan kondisi sebenarnya, level tersebut menunjukkan indikasi kebakaran cukup kuat.
 
Peningkatan jumlah dan perubahan pola sebaran hotspot ini sejalan dengan data kondisi tingkat kemudahan terbakar bahan bakar permukaan yang dirilis BMKG melalui indikator Fine Fuel Moisture Code (FFMC). 
 
Berdasarkan peta per 23 April 2026, sebagian besar wilayah Kalimantan Selatan didominasi zona kuning hingga merah.
 
Zona kuning menunjukkan kondisi vegetasi permukaan seperti alang-alang dan dedaunan dalam keadaan kering dan mudah terbakar. 
 
Sementara zona merah mengindikasikan kondisi sangat kering, sehingga sangat mudah memicu kebakaran.
 
Wilayah utara seperti Balangan, Tabalong, dan Hulu Sungai Utara, serta sebagian wilayah selatan seperti Tanah Laut, masuk dalam kategori sangat mudah terbakar. 
 
Adapun wilayah tengah, termasuk Banjar dan Tapin, didominasi zona mudah terbakar.
 
Kondisi ini dinilai memperbesar potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan, terutama di wilayah daratan yang memiliki tutupan vegetasi kering. 
 
Pergeseran hotspot ke Tapin dan Hulu Sungai Selatan, juga menguatkan indikasi bahwa kawasan tersebut tengah mengalami tingkat kekeringan permukaan yang cukup tinggi.
 
Sebaliknya, sebagian wilayah Kotabaru dan kawasan pegunungan Meratus masih berada pada kategori relatif aman karena tingkat kelembapan yang lebih tinggi.
 
BMKG mengingatkan, pada kondisi bahan bakar yang kering hingga sangat kering, percikan api kecil sekalipun dapat dengan cepat berkembang menjadi kebakaran lahan yang luas. 
 
Karena itu, Forecaster on Duty (Prakirawan Cuaca) Stasiun Meteorologi Syamsudin Noor, Shaa Imul Qadri, mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran terbuka, terutama saat membuka lahan.
 
“Selain itu, warga juga diminta segera melaporkan apabila melihat adanya titik api atau kepulan asap di area hutan maupun semak belukar guna mencegah kebakaran meluas,” ungkapnya.
Editor : Arif Subekti
#Hotspot #kalimantan selatan #meningkat #bmkg