https://radarbanjarmasin.jawapos.com, Banjarbaru – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Banjarbaru mulai menunjukkan tren peningkatan sejak awal tahun 2026. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mencatat sedikitnya 25 kejadian kebakaran terjadi sepanjang Januari hingga Maret.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Banjarbaru, Harun Arrasyid, saat dikonfirmasi Minggu (12/4) mengungkapkan peningkatan kejadian terjadi signifikan pada akhir Februari hingga Maret, terutama di wilayah rawan seperti Cempaka dan Sungai Tiung.
“Luas kebakaran berkisar antara 3,3 hingga 3,8 hektare. Pola kejadian menunjukkan adanya peningkatan intensitas dan indikasi wilayah rawan berulang,” ujarnya.
Menurutnya, sejumlah faktor menjadi pemicu meningkatnya risiko karhutla, di antaranya kondisi cuaca yang mulai kering, karakteristik lahan gambut yang mudah terbakar, serta aktivitas manusia.
Jika tren tersebut terus berlanjut, BPBD memperkirakan potensi kebakaran akan semakin meluas, bahkan dapat merambah kawasan padat penduduk. Dampak yang ditimbulkan antara lain kabut asap, kerusakan lingkungan, hingga terganggunya aktivitas masyarakat.
Sebagai langkah pencegahan, BPBD Banjarbaru telah melakukan berbagai upaya, seperti sosialisasi larangan pembakaran lahan, patroli rutin di wilayah rawan, serta pemasangan spanduk peringatan.
Selain itu, kesiapsiagaan juga diperkuat melalui pembentukan tim reaksi cepat, penyediaan sarana seperti pompa dan tandon air, serta pemantauan titik panas (hotspot) secara berkala.
BPBD Banjarbaru juga berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait, termasuk BPBD Provinsi Kalimantan Selatan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), untuk membahas kemungkinan peningkatan status siaga karhutla.
“Rekomendasi kami kemungkinan akan menuju penetapan status siaga karhutla, dengan pertimbangan peningkatan kejadian, luas area terbakar, serta adanya wilayah rawan berulang,” jelasnya.
Sejalan dengan itu, Pemerintah Kota Banjarbaru menegaskan bahwa penanganan karhutla berada dalam satu garis komando dengan BPBD Provinsi Kalimantan Selatan. Kebijakan yang diambil pemerintah provinsi, seperti pengelolaan kanal air maupun pembangunan sekat bakar, telah melalui berbagai pertimbangan teknis dan strategis.
Berdasarkan prediksi BMKG, musim kemarau di Banjarbaru diperkirakan datang lebih awal, yakni pada akhir April atau awal Mei 2026.
Kondisi musim kemarau tahun ini juga diprediksi lebih kering dari normal, seiring siklus El Nino yang diperkirakan kembali terjadi.
Durasi kemarau diperkirakan berlangsung lebih panjang hingga akhir tahun, dengan puncak suhu panas pada Agustus hingga September.
BPBD memastikan kesiapan personel dan peralatan dalam kondisi optimal. Peralatan yang rusak akan segera diperbaiki, sementara yang usang akan diganti dan kekurangan akan dilengkapi.
“Kami berharap dukungan semua pihak agar penanganan karhutla dapat berjalan maksimal,” pungkas Harun.
Editor : Arif Subekti