BATULICIN – Sebanyak 261 penumpang tujuan Pelabuhan Garongkong, Sulawesi Selatan, masih menunggu kedatangan kapal di Pelabuhan ASDP Batulicin, Kabupaten Tanah Bumbu, Rabu (18/3).
Sebelumnya, para penumpang tersebut diturunkan dari Kapal Motor Penumpang (KMP) Awu-Awu pada Selasa (17/3) dini hari karena kapal mengalami kelebihan kapasitas (overkapasitas).
Salah satu penumpang, Enceng, mengaku telah membeli tiket bersama suaminya, Nawir. Ia menyebut pembelian dilakukan melalui anak buah kapal setelah diarahkan oleh petugas loket karena tiket resmi dinyatakan telah habis.
Keduanya pun membeli dua tiket dengan total harga Rp800 ribu. Tarif resmi penumpang pejalan kaki golongan dewasa sebenarnya hanya sekitar Rp128 ribu per orang.
"Tapi kami diberi tiket untuk golongan anak-anak," ujarnya. Berdasarkan situs resmi ASDP, harga tiket ini hanya Rp13 ribu.
Enceng sendiri tengah dalam perjalanan menuju kampung halaman di Bone, Sulawesi Selatan. Pasangan ini tiba di Batulicin pada Jumat (13/3) setelah menempuh perjalanan darat selama sekitar 20 jam menggunakan travel dari Kapuas, Kalimantan Tengah.
Enceng yang sedang hamil tua berencana melahirkan anak sekaligus berlebaran di kampung halaman. Ia bahkan sempat mengalami pendarahan saat menunggu keberangkatan kapal. “Karena kata bidan, persalinannya tinggal menghitung hari,” ujarnya.
Harapan untuk segera berlayar sempat membubung ketika mereka berhasil naik ke atas kapal pada Senin lalu. Namun, kapal tak kunjung berangkat hingga mereka harus menunggu di atas geladak selama lebih dari 20 jam.
Puncaknya terjadi pada Selasa (17/3) dini hari, sesaat sebelum kapal angkat sauh. Petugas yang melakukan pemeriksaan mendadak menyatakan tiket milik Enceng, Nawir, dan ratusan penumpang lainnya tidak sah. Mereka pun dipaksa turun oleh petugas. Kericuhan sempat pecah di atas kapal lantaran para penumpang merasa sudah membayar tiket.
"Banyak yang tidak terima karena orang-orang sudah bayar tiket. Kami merasa tertipu," katanya.
Berbeda dengan Enceng, penumpang lain, Alfiandi, justru membayar perjalanan langsung ke Makassar, Sulawesi Selatan, melalui sopir travel dari Kapuas. Ia bersama istri dan anaknya mengeluarkan biaya Rp2,5 juta dengan janji akan diantar hingga ke depan rumah.
"Kami tidak dapat tiket dan diarahkan langsung naik ke atas kapal saja," jelasnya.
Praktik pembayaran melalui sopir travel ini, kata Alfiandi, banyak dilakukan penumpang. Tarifnya bervariasi, berkisar antara Rp1 juta hingga Rp1,5 juta per orang. Sementara itu, pembelian melalui anak buah kapal, seperti yang dialami Enceng, berkisar antara Rp400 ribu hingga Rp700 ribu per orang.
Ia juga menyebut pengeluaran selama menunggu di pelabuhan terus bertambah. Kondisi tersebut juga dialami ratusan penumpang lain yang hingga kini masih bertahan di sekitar pelabuhan. Beruntung, beban biaya makan sedikit berkurang setelah Pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu mendirikan dapur umum bagi para penumpang.
Sementara itu, General Manager (GM) Pelabuhan ASDP Batulicin, Ardian, mengatakan para penumpang dijadwalkan diberangkatkan pada Kamis (19/3). Ia menjelaskan, penurunan penumpang sebelumnya dilakukan karena pertimbangan keselamatan, mengingat jumlah penumpang melebihi kapasitas kapal. Kapasitas KMP Awu-Awu sendiri tercatat sebanyak 240 orang.
Ardian juga memastikan para penumpang tidak akan kembali dibebani biaya untuk keberangkatan selanjutnya. Terkait dugaan praktik percaloan yang melibatkan anak buah kapal, ia menyatakan pihaknya masih fokus pada proses pemberangkatan penumpang dalam masa angkutan Lebaran.
“Kalau memang ditemukan (calo), nanti kami tindak sesuai aturan,” katanya.
Editor: Arif Subekti
Editor : Arief