BANJARMASIN - Nasib malang dialami salah satu pelajar di Kota Banjarmasin bernama Ady Mufadhdhol (17).
Pelajar kelas XI SMAN 9 Banjarmasin itu mengalami luka bacok gunting saat bekerja sebagai buruh pemasangan tiang internet.
Peristiwa itu terjadi di Jalan Pramuka Gang Satria RT 26, Kecamatan Banjarmasin Timur, Senin (9/3/2026) sekitar pukul 09.00 Wita.
Kondisi ini memantik perhatian Anggota DPRD Kalimantan Selatan (Kalsel), Muhammad Syaripuddin. Menurutnya, insiden ini tidak bisa dipandang sebagai peristiwa kriminalitas belaka.
Melainkan, terdapat tantangan lain yang ternyata disandang oleh siswa sekolah di Banjarmasin terlepas dari mendapatkan akses pendidikan.
“Kasus ini tidak bisa dipandang dari hal pendidikan dan kriminalitas. Tapi bisa dibaca sebagai isu kemiskinan dan perlindungan anak,” jelasnya. Rabu (11/3/2026).
Ia menegaskan, informasi seperti ini sudah selayaknya sampai ke telinga pemerintah agar menjadi catatan untuk ditindaklanjuti.
Terutama, sudah berkaitan dengan kondisi pelajar di belakang layar yang lazimnya fokus mengenyam pendidikan, bukan membiarkannya menyandang beban ekonomi sejak dini.
“Saya minta Kepala Bidang SMA menindaklanjuti, informasi seperti ini penting untuk membantu masyarakat,” jelas Bang Dhin, sapaan akrabnya.
Meski secara tidak langsung bukan wewenang Dinas Pendidikan, peristiwa ini menjadi catatan yang cukup penting untuk menjadi perhatian pemerintah.
Senada, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalsel, Galuh Tantri Narindra juga menyampaikan perhatian serupa.
Ia berkomitmen untuk menindaklanjuti dan mencarikan solusi bersama atas insiden yang menimpa siswa sekolah yang juga terpaksa bekerja tersebut.
“Mungkin larinya akan ke Dinas Perlindungan Anak, tapi kita coba cari solusi bersama,” tutur Galuh.
Diwartakan sebelumnya, Ady merupakan warga Kelayan Kecil RT 19, Kelayan Timur, Banjarmasin Selatan. Ia mengaku baru sekitar sepekan bekerja sebagai buruh pemasangan tiang internet.
Bekerja harus ia lakukan untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup bersama adiknya.
Ibunya meninggal dunia saat pandemi Covid-19, ketika ia masih duduk di bangku SMP. Sementara ayahnya menikah lagi, dan pergi ke Pulau Jawa tanpa kabar.
Saat ini, Ady tinggal bersama bibinya, kakak dari almarhum ibunya. Sedangkan suami sang bibi bekerja sebagai buruh angkut di pelabuhan.
Adiknya yang perempuan masih duduk di bangku SMP. "Saya kerja untuk membantu kebutuhan sehari-hari, dan membantu bibi yang merawat kami," tuturnya.
Sejak 2025, Ady sudah mencoba berbagai pekerjaan untuk menyambung hidup. Mulai dari buruh bangunan, karyawan lepas di ekspedisi pengiriman barang, hingga berjualan pentol dan membantu warung makan.
Sampai akhirnya, peristiwa pengeroyokan itu terjadi saat ia bersama rekan-rekannya bersiap berangkat bekerja untuk pemasangan tiang internet di Desa Sungai Batang, Kabupaten Banjar.
Ady menjadi target pengeroyokan salah satu pelaku bernama Adit yang hingga kini masih diburu polisi.
Korban sendiri tidak mengetahui pasti penyebab kemarahan para pelaku. Ia menduga persoalan bermula karena dirinya diajak bekerja oleh Daus, pengawas proyek pemasangan tiang tersebut.
Editor : Arif Subekti