Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Tanpa Ibu dan Bapak, Begini Kisah Pilu Pelajar Korban Pengeroyokan di Jalan Pramuka Banjarmasin

Maulana Radar Banjarmasin • Rabu, 11 Maret 2026 | 11:33 WIB

MASIH PEMULIHAN: Siswa SMAN 9 Banjarmasin Ady Mufadhdhol yang mengalami pengeroyokan saat bekerja.
MASIH PEMULIHAN: Siswa SMAN 9 Banjarmasin Ady Mufadhdhol yang mengalami pengeroyokan saat bekerja.

BANJARMASIN - Ady Mufadhdhol (17) masih menjalani masa pemulihan setelah menjadi korban pengeroyokan oleh rekan sesama pekerja pemasangan tiang internet. Pelajar kelas XI SMAN 9 Banjarmasin itu mengalami luka bacok gunting dari salah satu pelaku bernama Adit yang hingga kini masih diburu kepolisian.

Ady merupakan warga Kelayan Kecil RT 19, Kelayan Timur, Banjarmasin Selatan. Ia mengaku baru sekitar sepekan bekerja sebagai buruh pemasangan tiang internet, setelah mengetahui lowongan pekerjaan tersebut dari media sosial Facebook.

Peristiwa pengeroyokan itu terjadi saat ia bersama rekan-rekannya bersiap berangkat bekerja untuk pemasangan tiang internet di Desa Sungai Batang, Kabupaten Banjar. Saat itu Edo, adik dari Adit, tiba-tiba menghampirinya dan mengayunkan jaket ke arah wajahnya. "Sebelum memukul, dia bertanya, eh kamu kah karyawan baru itu? Saya jawab iya. Langsung dipukul pakai jaket itu," ujar Ady kepada Radar Banjarmasin, Selasa (10/3).

Ady mengaku tidak mengetahui pasti penyebab kemarahan para pelaku. Ia menduga persoalan bermula karena dirinya diajak bekerja oleh Daus, pengawas proyek pemasangan tiang tersebut.

Ia tergabung dalam tim 1 yang dikoordinir langsung oleh Daus. Sementara para pelaku berada di tim 2. Selama bekerja mereka jarang bertemu.

Sebelumnya, tim Ady telah menyelesaikan pekerjaan pemasangan tiang di wilayah Handil Bakti dan Pemurus. Sementara tim pelaku belum mendapatkan pekerjaan, karena masih menunggu proses perizinan. "Sebelum mereka dapat pekerjaan di Sungai Lulut, sempat ada penolakan warga karena izin belum ada. Jadi pekerjaan mereka ditunda," jelasnya.

Belakangan perusahaan mengarahkan tim Ady untuk melanjutkan pekerjaan di Sungai Lulut yang sebelumnya dikerjakan tim pelaku. "Saya juga tidak tahu kenapa perusahaan mengarahkan pekerjaan itu ke tim kami. Mungkin karena pekerjaan harus segera diselesaikan," katanya.

Ia menduga persoalan tersebut memicu kemarahan para pelaku. Sebagai pekerja baru, ia merasa menjadi sasaran luapan emosi. "Saya berharap para pelaku bisa segera ditangkap, dan kasus ini bisa terang benderang. Saya tidak kenal mereka, dan tidak pernah punya masalah selama bekerja," tegasnya.

Di balik kejadian itu, Ady menyimpan kisah hidup yang tidak mudah. Ia bekerja sambil sekolah untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup bersama adiknya.

Ibunya meninggal dunia saat pandemi Covid-19, ketika ia masih duduk di bangku SMP. Sementara ayahnya menikah lagi, dan pergi ke Pulau Jawa tanpa kabar.

Saat ini, Ady tinggal bersama bibinya, kakak dari almarhum ibunya. Sedangkan suami sang bibi bekerja sebagai buruh angkut di pelabuhan. Adiknya yang perempuan masih duduk di bangku SMP. "Saya kerja untuk membantu kebutuhan sehari-hari, dan membantu bibi yang merawat kami," tuturnya.

Sejak 2025, Ady sudah mencoba berbagai pekerjaan untuk menyambung hidup. Mulai dari buruh bangunan, karyawan lepas di ekspedisi pengiriman barang, hingga berjualan pentol dan membantu warung makan. "Kalau kerja pasang tiang itu upahnya sekitar Rp100 ribu per hari. Katanya kalau sudah lama nanti digaji sistem borongan," katanya.

Ia juga pernah bekerja sebagai karyawan lepas di salah satu gudang sortir paket pada malam hari. Selama sembilan jam bekerja, ia menerima upah Rp130 ribu per hari. "Kerja malam sampai subuh, habis itu langsung ke sekolah. Kalau ngantuk, ya ditahan saja," ujarnya.

Ady bahkan sempat menunda masuk SMA selama satu tahun karena keterbatasan biaya. Berkat bantuan bibinya, ia akhirnya bisa kembali melanjutkan pendidikan. "Tidak ada kartu bantuan seperti kartu sehat atau yang lain. Biaya pengobatan kemarin juga keluarga yang membantu, sekitar Rp3 juta. Untuk kondisi sekarang kaki saja agak lemah. Kalau lukanya 10 jahitan, dan kedalaman luka 5 cm," ungkapnya.

Kapolsek Banjarmasin Timur AKP Morris Widhi Harto melalui Ipda Sukma Yudhistira Nugroho mengatakan pelaku masih dalam proses penyelidikan. Polisi telah mendatangi sejumlah lokasi, termasuk kediaman pelaku. "Kita sudah identifikasi pelakunya. Masih dalam dalam pengejaran," pungkasnya.

Baca kumpulan berita terpopuler RADAR BANJARMASIN di Google News. Klik di sini

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#Pengeroyokan #kalimantan selatan #Kriminalitas Kalsel #kota banjarmasin #pelajar