Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Terapkan Sarana Edukasi dan Asimilasi, Lapas Kelas IIA Banjarmasin Komitmen Tingkatkan Kualitas WBP

Maulana Radar Banjarmasin • Rabu, 11 Februari 2026 | 09:59 WIB
KOMITMEN: Wakil wali kota Banjarmasin, Hj Ananda dan Kalapas, Akhmad Herriansyah bersama Kepala Bidang PP Kantor Wilayah Direktorat Jendral Kalsel, Sugito memanen hasil tanaman hidroponik
KOMITMEN: Wakil wali kota Banjarmasin, Hj Ananda dan Kalapas, Akhmad Herriansyah bersama Kepala Bidang PP Kantor Wilayah Direktorat Jendral Kalsel, Sugito memanen hasil tanaman hidroponik

BANJARMASIN - Harapan kembali menyala dari balik tembok pemasyarakatan. Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banjarmasin terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas pembinaan bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP).

Beragam program pembinaan digencarkan sebagai upaya membekali WBP dengan keterampilan dan kemandirian, sehingga siap kembali ke tengah masyarakat setelah masa pidana berakhir.

Salah satu bentuk keseriusan tersebut diwujudkan melalui penyediaan Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) yang telah diresmikan Wakil Wali Kota Banjarmasin Hj Ananda, Selasa (9/2) siang.

Fasilitas ini dimanfaatkan warga binaan selama menjalani masa pembinaan, sebagai wadah pembelajaran dan pengembangan keterampilan yang produktif.

SAE 2 hadir sebagai ruang pembinaan produktif yang dirancang untuk membekali warga binaan dengan keterampilan kerja, etos produktif, serta kesiapan mental menghadapi kehidupan setelah bebas. Kehadiran SAE ini juga dimaknai sebagai sarana pembelajaran bagi warga binaan untuk membangun kemandirian dan memiliki keterampilan yang aplikatif, melalui proses belajar dan praktik langsung yang berorientasi pada perubahan nyata.

Berbagai fasilitas pembinaan disiapkan di SAE 2, antara lain kolam budidaya ikan papuyu, gurami, nila, dan lele, budidaya maggot, serta instalasi hidroponik. Fasilitas tersebut tidak hanya mendukung ketahanan pangan, tetapi juga menjadi media pembelajaran keterampilan yang bernilai ekonomi dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Ananda menegaskan bahwa pembinaan melalui SAE memiliki dampak langsung terhadap kemandirian ekonomi dan pengurangan angka pengangguran. "Dengan adanya SAE ini sebagai sarana pembelajaran, warga binaan dibekali keterampilan agar dapat mandiri. Ketika mereka sudah bebas nanti dan memiliki kemampuan kerja, hal ini tentu akan membantu mengurangi angka pengangguran," ujarnya.

Selain itu, wakil wali kota menekankan pentingnya peran SAE dalam mendukung ketahanan pangan dan stabilitas ekonomi lokal.

"Saya senang melihat apa yang dilakukan di SAE Lapas Banjarmasin, karena yang kita butuhkan saat ini adalah ketahanan, dan program ini menjawab tantangan tersebut. Di sini juga ada kolam budidaya ikan papuyu. Kita tahu, papuyu merupakan salah satu komoditas yang berkontribusi terhadap inflasi di Kota Banjarmasin, karena masyarakat Banjar sangat gemar mengonsumsi ikan papuyu," tambahnya.

Sementara itu, Kepala Lapas Kelas IIA Banjarmasin, Akhmad Herriansyah, menyampaikan bahwa peresmian SAE 2 merupakan langkah strategis dalam memperluas ruang pembinaan yang berdampak langsung dan berkelanjutan.

"SAE 2 kami siapkan sebagai laboratorium pembinaan kemandirian. Di sini warga binaan belajar bekerja, bertanggung jawab, dan menyiapkan bekal hidup agar siap kembali ke masyarakat," tegasnya.

Herriyansyah, menjelaskan bahwa program Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) merupakan bagian penting dari target kinerja pemasyarakatan yang wajib dilaksanakan.

Menurutnya, program tersebut merupakan penjabaran dari program aksi kementerian yang harus diimplementasikan secara nyata di lapangan, salah satunya mendukung program ketahanan pangan, pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi warga binaan.

"Program ini sejalan dengan kebijakan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, termasuk mendukung ketahanan pangan, pendidikan kesetaraan, serta pengembangan UMKM bagi warga binaan," jelasnya.

Heriyansyah mengatakan, Lapas Kelas IIA Banjarmasin juga mendorong warga binaan agar memiliki pendidikan yang memadai. Pendidikan kesetaraan Paket A, B, dan C terus diupayakan agar warga binaan memiliki ijazah setara SD, SMP, hingga SMA saat bebas nanti.

Dalam pengembangan ketahanan pangan, pihaknya memanfaatkan potensi geografis Kota Banjarmasin sebagai kota sungai. Berbagai jenis ikan dibudidayakan, mulai dari papuyu, lele, nila, hingga gurame.

"Kita fokus ke perikanan karena Banjarmasin identik dengan sungai. Kolam yang digunakan juga menyesuaikan kondisi air pasang surut," ujarnya.

Selain perikanan, warga binaan juga dibekali keterampilan bercocok tanam. Sejumlah tanaman seperti terong, kangkung, dan bayam ditanam, termasuk dengan memanfaatkan botol plastik bekas sebagai media tanam hidroponik sederhana.

"Dengan memanfaatkan limbah botol plastik, kami ingin menunjukkan bahwa ketahanan pangan bisa dimulai dari hal sederhana, bahkan untuk skala keluarga," katanya.

Tak hanya itu, Heriyansyah menambahkan, Lapas Kelas IIA Banjarmasin juga telah menghasilkan sedikitnya 10 produk UMKM warga binaan yang telah mengantongi sertifikat halal, mulai dari produk makanan olahan hingga kerajinan.

"Termasuk kain sasirangan yang merupakan ikon khas Banjarmasin. Warga binaan kami latih agar memiliki keterampilan membuat kain khas daerah,"tambahnya.

Antusiasme juga datang dari warga binaan. NV, salah satu warga binaan yang tergabung dalam program pembinaan kemandirian, mengaku bangga dan semakin termotivasi.

"Kami merasa diperhatikan. Kehadiran Ibu Wakil Wali Kota dan peresmian SAE ini membuat kami semakin semangat mengikuti program kemandirian dan membuktikan bahwa kami bisa berubah menjadi lebih baik,"katanya.

Editor : Arief
#warga binaan #banjarmasin #Narapidana #Lapas