BANJARBARU – Tren kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kota Banjarbaru pada 2025 mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.
Berdasarkan data UPTD PPA pada DP3APMP2KB Kota Banjarbaru, pada 2024 tercatat sebanyak 81 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Jumlah tersebut meningkat menjadi 94 kasus pada 2025.
Kepala UPTD PPA pada DP3APMP2KB Kota Banjarbaru, Lia Rahmawati menjelaskan, sepanjang 2025 pola kekerasan terhadap perempuan masih didominasi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), baik kekerasan fisik maupun psikis. "Sementara pada anak, jenis kekerasan yang paling banyak dilaporkan adalah kekerasan seksual," jelasnya, Jumat (6/2).
Ia berharap, tren kenaikan tersebut dapat dimaknai sebagai indikator positif meningkatnya keberanian korban dan masyarakat dalam melapor.
“Kami berharap kenaikan ini dipahami sebagai hal positif, bahwa kesadaran masyarakat meningkat, bukan karena kasus kekerasan di Banjarbaru benar-benar melonjak,” ungkapnya.
Terkait penanganan kasus, UPTD PPA Banjarbaru menyediakan enam jenis layanan sesuai kebutuhan korban, mulai dari pengaduan, pendampingan hukum dan non-hukum, hingga mediasi.
“Mediasi biasanya untuk kasus kekerasan yang masih memungkinkan, selain kekerasan seksual. Kami juga melakukan penjangkauan melalui home care, pengelolaan kasus, sampai proses penyelesaian,” tuturnya.
Untuk kasus perundungan atau bullying, laporan diterima dari berbagai pihak, termasuk sekolah, orang tua, maupun guru bimbingan konseling (BK). Penanganan dilakukan melalui asesmen terhadap korban dan pelaku sebelum menentukan bentuk pendampingan lanjutan.
“Setelah asesmen psikologis, baru kami komunikasikan hasilnya kepada pihak sekolah dan orang tua,” ucap Lia.
Namun demikian, ia menegaskan jumlah kasus bullying di Banjarbaru relatif kecil. Sepanjang 2025, tercatat hanya tujuh kasus kekerasan psikis, termasuk perundungan. “Jumlahnya tidak terlalu signifikan. Persepsi banyak biasanya muncul karena ada satu atau dua kasus yang viral di media sosial,” pungkasnya.
Editor: Sutrisno
Editor : Arief