BANJARMASIN – Puluhan ribu ekor ikan bawal milik pembudi daya ikan air tawar di Jalan Benua Anyar RT 4, Kelurahan Benua Anyar, Kecamatan Banjarmasin Timur, lepas dan hanyut di Sungai Martapura, Rabu (4/2) siang sekitar pukul 14.00 Wita. Peristiwa itu terjadi setelah keramba apung milik H Supian Noor (73) putus akibat derasnya arus sungai. Setidaknya 50 keramba apung, masing-masing berisi sekitar 900 ekor ikan bawal, terseret arus hingga hancur.
Sumirah (71), istri pemilik keramba, mengatakan kejadian berlangsung sangat cepat dan sulit diantisipasi. "Kami tahunya setelah rumah ini bergoyang. Pas dicek, ternyata tali keramba putus dan keramba sudah terbawa arus sungai," ujar Sumirah.
Mengetahui keramba hanyut, H Supian bersama putranya sempat berusaha mengejar menggunakan perahu, dibantu warga sekitar. Namun derasnya arus membuat upaya tersebut gagal. "Sempat dikejar pakai perahu, dibantu saudara dan warga. Tapi, tidak bisa dihentikan sama sekali. Akhirnya keramba terbawa arus dengan bebas," katanya.
Sumirah mengungkapkan, sebagian besar ikan bawal tersebut sudah siap panen. Bahkan, dua hari sebelumnya sebagian hasil panen telah dikirim kepada pelanggan. "Ukuran ikannya besar-besar, semuanya ikan bawal. Rencananya mau dipanen lagi untuk dikirim ke pelanggan," ungkapnya.
Usaha keramba apung ini telah dijalani keluarga H Supian selama sekitar 15 tahun. Awalnya hanya memiliki 20 keramba, kemudian berkembang menjadi 50 unit. Pemasaran ikan menjangkau Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, hingga Kalimantan Tengah.
Menurut Sumirah, keramba sebenarnya ditambatkan dengan sembilan titik jangkar. Namun kuatnya arus sungai diduga menjadi penyebab utama putusnya tali. "Kemungkinan awalnya satu tali putus di arah hulu. Setelah itu keramba tertarik ke tengah sungai, arusnya sangat deras sehingga tali-tali berikutnya tidak kuat menahan beban dan ikut putus," jelasnya.
Setelah terseret cukup jauh, sebagian besar keramba hancur dan ikan di dalamnya lepas ke sungai. Hanya dua keramba yang masih utuh dan berhenti di depan dermaga Pasar Terapung Jalan Pierre Tendean, dekat Jembatan Merdeka.
Warga sekitar sempat membantu menyelamatkan ikan menggunakan tangguk. Namun, jumlah ikan yang berhasil diamankan sangat sedikit.
Kasat Polairud Polresta Banjarmasin, Kompol Dading Kalbu Adie membenarkan kejadian tersebut. "Berdasarkan keterangan korban, keramba hanyut setelah tali tambat yang mengikat keramba putus," ujar Dading.
Saat kejadian, korban juga meminta bantuan Ma’ruf Hamim (26) yang berada di lokasi. Ma’ruf kemudian menghubungi H Mahyuni (64), pemilik kelotok, untuk membantu proses evakuasi. "Upaya penyelamatan telah dilakukan, namun hingga sekitar pukul 17.00 Wita, keramba tidak berhasil dievakuasi sepenuhnya," jelasnya. Akibat peristiwa tersebut, kerugian korban ditaksir mencapai sekitar Rp1 miliar.
Dading mengimbau para pembudi daya ikan di sungai agar lebih waspada, terutama saat debit air meningkat. "Kami mengimbau masyarakat, khususnya pemilik keramba apung, untuk memastikan kondisi tali tambat dan konstruksi keramba dalam keadaan kuat dan aman guna menghindari kejadian serupa," pungkasnya.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief