KOTABARU- Jagat maya Kalimantan Selatan, khususnya di Bumi Saijaan, mendadak gempar. Sebuah rekaman video amatir berdurasi singkat menyebar cepat melalui rantai pesan WhatsApp, memperlihatkan aksi fisik yang melibatkan Tenaga Kerja Asing (TKA) asal China dengan karyawan lokal di area tambang PT Sumber Daya Energi (SDE).
Dalam video tersebut, seorang karyawan Indonesia tampak melayangkan tendangan telak ke arah pekerja asing.
Tak butuh waktu lama, narasi mengenai arogansi pekerja impor yang bertindak seenaknya langsung memicu amarah netizen dan masyarakat.
Kabar ini pun berbuntut panjang hingga memaksa jajaran kepolisian turun tangan untuk meredam potensi konflik sosial yang lebih luas.
Informasi yang dihimpun Radar Banjarmasin, insiden panas itu ada yang mengatakan terjadi pada Kamis (29/1) pagi.
Namun, karena lokasi tambang yang tertutup dan masing-masing pihak sempat bungkam, kabar tersebut baru meledak setelah videonya bocor ke publik.
Puncaknya, pada Senin (2/2) siang sekira pukul 13.40 WITA, jajaran Polres Kotabaru bergerak cepat mendatangi kantor PT SDE.
Polisi mencium adanya aroma ketegangan yang belum tuntas di internal perusahaan. Mediasi ketat pun digelar, dipimpin langsung oleh Kasat Intelkam Polres Kotabaru AKP Muhammat Hari Saputro dan Kapolsek Kelumpang Barat Iptu Hendrie Ade.
Di hadapan aparat, Kepala Teknik Tambang (KTT) PT SDE, Sambas, mencoba memberikan klarifikasi. Ia mengakui bahwa perselisihan tersebut bermula dari masalah pekerjaan. Mr. Wu, seorang TKA China, menegur karyawan dari PT BES (subkontraktor PT SDE) karena hasil pekerjaannya dianggap tidak standar.
"Mungkin cara penyampaiannya yang kasar atau ada perbedaan budaya, sehingga terjadi perselisihan paham antara karyawan asing dan lokal. Tapi menurut kami, berita yang beredar di media sosial itu sangat berlebihan," kilah Sambas.
Mendengar pembelaan pihak manajemen, aparat kepolisian, Kasat Intelkam AKP Muhammat Hari Saputro memberikan peringatan keras (warning) kepada manajemen PT SDE.
Ia menegaskan bahwa isu arogansi TKA adalah isu sensitif yang bisa memicu kerusuhan massa jika tidak dikelola dengan serius.
"Kami memonitor kisaran suara, baik di internal karyawan maupun masyarakat sekitar perusahaan. Berita ini mengangkat isu bahwa tenaga kerja asing arogan. Jangan sampai hal ini berkembang liar dan memicu konflik baru. Permasalahan ini harus memiliki kekuatan hukum agar tidak muncul spekulasi yang meluas," tegas AKP Hari.
Senada dengan itu, Kapolsek Kelumpang Barat Iptu Hendrie Ade juga menuntut manajemen PT SDE untuk melakukan pembinaan mental terhadap para TKA mereka.
"Kami mengharapkan PT SDE memberikan sosialisasi atau imbauan kepada para TKA. Bagaimana culture dan cara bersikap yang sesuai dengan masyarakat lokal pada umumnya. Jangan sampai harga diri pekerja kita terusik hanya karena mereka (TKA) tidak mengerti etika di sini," pesan Kapolsek.
Buntut dari mediasi yang berlangsung alot tersebut, kedua belah pihak akhirnya dipertemukan untuk damai.
Karyawan asing yang menjadi korban tendangan, yakni Mr Wu dan Mr Jang, dipertemukan langsung dengan pelaku penendangan, yakni Syahrul dan Uda Rianto.
Di bawah pengawasan ketat aparat desa dan manajemen perusahaan, mereka akhirnya menandatangani surat kesepakatan damai bermaterai.
PT SDE pun diminta untuk lebih aktif mempublikasikan kegiatan positif dan merangkul media massa guna menangkal pemberitaan negatif yang bisa memperkeruh suasana.
Meski hitam di atas putih sudah diteken, insiden ini menjadi catatan kelam bagi PT Sumber Daya Energi.
Publik kini menanti, apakah perusahaan mampu membina tenaga kerja asingnya agar lebih manusiawi dalam berkomunikasi, ataukah surat damai tersebut hanya menjadi obat sementara bagi luka sentimen yang sewaktu-waktu bisa kembali meledak.
Hingga berita ini diturunkan, situasi di area tambang dilaporkan telah kembali kondusif, namun personel kepolisian tetap memantau perkembangan situasi di lapangan untuk memastikan tidak ada aksi balasan maupun provokasi lanjutan.
Editor : Arif Subekti