KANDANGAN – Puluhan hektare lahan perkebunan dan persawahan di Desa Padang Batung, HSS, rusak parah akibat banjir luapan Sungai Kuangan, Sabtu (3/1/2026) lalu.
Meski hanya berlangsung sekitar satu jam, banjir yang membawa lumpur pekat dan material tambang ini menimbulkan kerugian ekonomi besar bagi para petani.
Ditaksir mencapai ratusan juta rupiah.
Banjir diduga kuat dipicu oleh pembukaan tanggul secara mendadak di kawasan pertambangan sekitar.
Air yang meluap deras membawa lumpur tebal, pasir, dan kerikil tambang yang kini menutupi lahan warga.
Dampaknya, struktur tanah berubah menjadi masam dengan tingkat pH menurun drastis, sehingga lahan kehilangan kesuburannya.
Ketua Kelompok Tani Campur Sari, Fadli mengatakan sektor hortikultura menjadi yang paling terdampak, meski ancaman serius kini juga membayangi lahan persawahan.
“Banjirnya memang singkat, sekitar satu jam saja. Tapi yang terdampak itu area persawahan dan perkebunan, seperti kebun buncis, tomat, timun, cabai, dan terong,” jelas Fadli.
Saat kejadian, petani padi memang belum memasuki masa tanam.
Namun, endapan lumpur tambang yang menutup lapisan tanah subur (topsoil) membuat petani terancam gagal tanam.
Material tambang yang tidak mengandung unsur hara itu memaksa petani melakukan pengerukan atau pengolahan ulang lahan.
Tentu membutuhkan biaya besar.
Kerugian besar dirasakan Suhaimi, pekebun dengan total lahan 17 borongan di dua lokasi.
Separuh kebun tomatnya hancur.
Padahal panen direncanakan saat bulan Ramadan.
“Harusnya Ramadan nanti sudah panen. Sekarang jadi gagal total dan rugi besar. Penghasilan itu yang kami harapkan,” keluhnya.
Hal serupa dialami Sahid, petani dengan lahan 28 borongan.
Tanaman buncisnya menguning dan gagal berbuah, sementara timun tidak tumbuh normal.
Bahkan lahan yang belum ditanami ikut rusak.
“Modalnya besar. Mulsa satu set saja lima juta rupiah. Belum olah tanah, bibit, pupuk, dan lainnya. Semua seakan hilang akibat banjir ini,” ujarnya.
Menanggapi kondisi tanah yang menjadi masam, pihak perusahaan tambang mulai melakukan penanganan darurat dengan menyalurkan kapur pertanian (dolomit) kepada petani terdampak.
Pengapuran ini bertujuan menetralkan pH tanah sebagai langkah awal pemulihan lahan.
Fadli membenarkan adanya bantuan tersebut.
“Pihak tambang sudah mengirim kapur pertanian. Ini solusi sementara yang cukup membantu menekan keasaman tanah,” pungkasnya.
Editor : Eddy Hardiyanto