Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Empat Daerah di Kalsel Masih Kebanjiran, Wilayah Ini Jadi Perhatian Khusus

M Fadlan Zakiri • Jumat, 9 Januari 2026 | 15:17 WIB

JAGA RUMAH : Warga Desa Sungai Tabuk Keramat, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, sedang naik sampan di halaman rumahnya. (FADLAN ZAKIRI/RADAR BANJARMASIN)
JAGA RUMAH : Warga Desa Sungai Tabuk Keramat, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, sedang naik sampan di halaman rumahnya. (FADLAN ZAKIRI/RADAR BANJARMASIN)
MARTAPURA - Banjir yang melanda Kalimantan Selatan (Kalsel) tahun ini masih berdampak di sejumlah kabupaten dan kota. Meski tidak separah banjir besar 2021 silam, dampaknya masih dirasakan hingga kini.

Kepala Bidang Penanganan Bencana Dinas Sosial Provinsi Kalimantan Selatan, Achmadi mengatakan, saat ini Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalsel mencatat, terdapat empat daerah yang masih terdampak banjir. 

Wilayah tersebut meliputi Kabupaten Banjar, Kabupaten Barito Kuala, Kota Banjarmasin, dan Kabupaten Tanah Laut.

Kondisi ini menurutnya relatif lebih terkendali dibandingkan 2021 lalu.

“Kalau dibandingkan dengan tahun 2021 memang berbeda. Dulu ada 11 kabupaten/kota terdampak, sekarang sekitar sembilan, dan yang masih terdampak sampai hari ini tinggal empat daerah,” ungkap Achmadi saat ditemui di Posko Dapur Umum Lapangan Desa Sungai Tabuk Keramat, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, Jumat (9/1/2026) siang.

Ia menyebut, salah satu wilayah yang menjadi perhatian khusus saat ini adalah Kecamatan Kurau, Kabupaten Tanah Laut. Banjir di kawasan tersebut tergolong cukup parah.

Di wilayah itu, genangan air merendam jalan poros serta fasilitas umum seperti pasar dan sekolah. Tercatat sebanyak 1.315 jiwa terdampak akibat banjir.

Menurut Achmadi, kondisi tersebut dipicu tingginya curah hujan yang bertepatan dengan fase pasang air laut. Akibatnya, aliran sungai dari wilayah hulu tertahan dan memperparah genangan.

“Di Kurau banjirnya cukup parah. Tapi sudah ditangani oleh Dinas Sosial Kabupaten Tanah Laut dengan mendirikan dapur umum,” jelasnya.

Dapur umum di Kecamatan Kurau mampu memproduksi hingga 8.000 paket makanan siap saji setiap hari, untuk disalurkan ke sejumlah desa terdampak banjir.

Achmadi menambahkan, cuaca ekstrem turut memperburuk kondisi banjir. Pola hujan deras yang diselingi panas menyebabkan debit air dari wilayah pegunungan terus meningkat.

“Curah hujan tinggi, kemudian air laut menahan aliran sungai, jadi air cukup lama bertahan. Cuacanya juga ekstrem, hujan-panas-hujan lagi,” tambahnya.

Untuk wilayah hulu sungai, ia memastikan kondisi relatif mulai membaik. Tren genangan menunjukkan penurunan, meski beberapa daerah masih terendam cukup tinggi.

Berdasarkan laporan lapangan BPBD Kalsel per 5–6 Januari 2026, banjir di Kabupaten Tapin merendam wilayah Candi Laras Selatan, Bakarangan, dan Binuang. Sebanyak 1.474 jiwa atau 602 kepala keluarga terdampak. 

Bahkan, di Desa Masta, air telah merendam permukiman warga selama lebih dari tiga pekan.

“Selain di Tapin, banjir di sejumlah wilayah Kabupaten Barito Kuala seperti Marabahan dan sekitarnya juga masih cukup tinggi, walaupun sudah mulai menurun,” sebutnya.

Sementara itu, Kabupaten Banjar disebut sebagai salah satu wilayah yang menerima limpahan air dari daerah hulu. 

Daerah ini menjadi titik akhir aliran sebelum air mengalir ke Kota Banjarmasin dan Kabupaten Barito Kuala.

“Air dari Pengaron dan Sungai Pinang itu turunnya terakhir di Kabupaten Banjar, kemudian menyambung ke Banjarmasin dan Barito Kuala, seperti Mandastana dan Jejangkit. Itu yang masih jadi perhatian kita,” ujar Achmadi.

Meski demikian, ia mengungkapkan kondisi banjir di Kecamatan Sungai Tabuk mulai menunjukkan perkembangan positif.

“Alhamdulillah, di Sungai Tabuk ini sudah ada penurunan air yang cukup signifikan,” pungkasnya

Editor : Sutrisno
#Banjir #Banjar #Kalsel