MARTAPURA - Kalimantan Selatan memasuki fase rawan bencana seiring puncak musim hujan yang masih berlangsung. Curah hujan tinggi, disertai dinamika atmosfer yang aktif, meningkatkan potensi banjir, angin kencang, hingga banjir pesisir (rob) di sejumlah wilayah.
Bencana hidrometeorologi mulai terjadi. Angin kencang hingga merobohkan bangunan terjadi di beberapa daerah. Seperti di desa Melayu, Kecamatan Martapura Timur, Kabupaten Banjar. Angin kencang berputar datang mendadak hanya dalam hitungan detik, Selasa (23/12) subuh.
Terjangan singkat namun kuat itu merusak 13 rumah warga, sebagian besar mengalami kerusakan berat. Peristiwa terjadi sekitar pukul 05.30 Wita, tak lama setelah Salat Subuh. Angin kencang tiba-tiba, disertai suara deru keras, lalu menghantam permukiman di kawasan Jalan AMD. Atap rumah beterbangan saat sebagian warga masih tertidur. “Angin datang mendadak dan berlangsung sangat singkat. Seperti berputar, lalu atap langsung terbang,” ujar Yusran, salah satu warga terdampak.
Kejadian teranganya hanya berlangsung beberapa detik. Dalam kondisi pagi masih gelap karena awan mendung menutup langit. Meski rumahnya rusak parah, Yusran bersyukur seluruh anggota keluarga, termasuk anak dan cucu selamat. “Alhamdulillah tidak ada yang luka parah. Kami langsung saling memastikan semua aman,” tuturnya.
Hal serupa dialami Yusuf, warga lain yang atap rumahnya terlepas tersapu angin. Ia saat itu ingin keluar rumah, namun memilih kembali masuk demi keselamatan. “Tidak ada tanda-tanda sebelumnya. Tahu-tahu atap sudah berhamburan,” ungkapnya.
Dari kejadian ini, tercatat sementara ada delapan rumah rusak berat dan lima buah rumah rusak lebih dari 60 persen. “Yang parah ada delapan rumah. Lima lainnya masih bisa ditempati sementara, tapi tidak untuk jangka lama,” terang Ketua RT 06 Desa Melayu, Saibur Rahman.
Tak hanya itu, billboard besar di seberang Pasar Gambut, Jalan Ahmad Yani, Kabupaten Banjar turut roboh akibat angin kencang, Selasa (23/12) subuh.
Hujan deras disertai angin kencang juga melanda Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) pada Selasa (23/12) pagi. Mengakibatkan sejumlah pohon bertumbangan. Sekitar pukul 09.00 Wita, rentetan peristiwa pohon tumbang terjadi di wilayah tiga kecamatan sekaligus, yakni di Kandangan, Telaga Langsat, dan Simpur. Bahkan, dampak pohon tumbang merusak permukiman warga.
Salah satunya rumah Baserian di Desa Gambah Luar Muka yang mengalami kerusakan ringan. Tak hanya itu, rumah Siah di Desa Gumbil, bahkan mengalami kerusakan berat. Selain merusak hunian, pohon tumbang juga sempat menutup akses jalan provinsi serta jalan desa di Wasah Hilir dan Sungai Paring.
Kepala Pelaksana BPBD HSS Kusairi meminta masyarakat waspada terhadap potensi cuaca ekstrem. “Kami mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir, khususnya bagi warga yang tinggal di bantaran sungai. Untuk rumah yang sudah langganan terendam, harap siapkan segala sesuatu sejak dini,” pesannya.
Sementara, di wilayah pesisir Tanah Bumbu, hujan yang turun hampir setiap hari sepanjang Desember, membuat banjir rob di sejumlah kawasan. Salah satu titik yang terdampak banjir rob berada di area Pelabuhan Ferry Batulicin.
Air laut pasang juga dilaporkan sempat naik hingga ke Jalan Raya Batulicin, tepatnya di sekitar Hotel Surya Batulicin. Ketinggian air diperkirakan mencapai mata kaki orang dewasa, sehingga mengganggu aktivitas warga dan arus lalu lintas di sekitar lokasi.
Sementara, di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), meski hujan deras dengan intensitas cukup tinggi yang mengguyur, Selasa (23/12), kondisi debit air sungai masih dalam batas aman dan belum mengkhawatirkan. “Untuk sementara debit Sungai Barabai masih aman. Tim TRC sudah melakukan pemantauan sejak pagi, situasi masih terkendali,” ujar Kasidarlog BPBD HST, Fitriadinoor.
Sisi lain, Analis Iklim Stasiun Klimatologi (Staklim) Kelas I BMKG Kalimantan Selatan, Muhammad Arif Rahman, mengatakan intensitas hujan di Kalsel saat ini masih tergolong tinggi. Bahkan di beberapa wilayah mengalami peningkatan dibandingkan hari-hari sebelumnya. “Kondisi ini dipengaruhi oleh aktifnya dinamika atmosfer musim hujan,” ujar Arif, Selasa (23/12) petang.
BMKG mencatat wilayah yang berpotensi terdampak banjir umumnya berada di dataran rendah, kawasan sekitar aliran sungai besar dan anak sungainya, serta daerah dengan sistem drainase terbatas.
Dalam beberapa hari ke depan, cuaca di Kalsel secara umum diprakirakan memang masih didominasi kondisi berawan hingga hujan ringan. Meski demikian, masyarakat diminta tetap waspada terhadap potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat terjadi secara tiba-tiba di berbagai wilayah. “Saat ini Kalsel berada pada periode puncak musim hujan yang umumnya berlangsung pada November hingga Januari,” ujarnya.
Kondisi tersebut turut diperkuat oleh fenomena La Nina Lemah yang berdampak pada peningkatan curah hujan di wilayah Kalsel. “Secara umum, curah hujan bulanan yang tinggi masih diprediksi terjadi hingga Januari 2026,” beber Arif
Tak hanya banjir daratan, ancaman juga datang dari wilayah pesisir. Fenomena ini dipicu oleh fase bulan baru pada 20 Desember 2025 yang berpengaruh terhadap peningkatan ketinggian muka air laut maksimum. “Berdasarkan data water level dan prediksi pasang surut, banjir pesisir berpeluang terjadi di beberapa wilayah pesisir Kalimantan Selatan,” jelasnya.
Berdasarkan pantauan BMKG, banjir pesisir atau rob berpeluang terjadi di Pesisir Barito Kuala, Pesisir Banjar, Pesisir Banjarmasin, dan Pesisir Tanah Laut. “Rob di wilayah ini dipredisksi akan pada periode 19–28 Desember 2025,” sebutnya.
Sementara itu, Pesisir Kotabaru dan Pesisir Tanah Bumbu, juga masuk dalam daftar wilayah yang berpotensi mengalami rob pada 18–26 Desember 2025. “Masyarakat agar lebih meningkatkan kewaspadaan, terutama di wilayah rawan banjir dan pesisir, dengan mengamankan barang-barang di area rendah serta rutin memantau informasi peringatan dini cuaca dan pasang surut,” pesannya.
Editor: Oscar Fraby
Editor : Arief