Kedua korban masing-masing Suryadi alias Isur (48) dan M Syafi’i (32) mengalami luka akibat sabetan senjata tajam.
Isur menderita luka di bagian tangan dan punggung, sementara Syafi’i mengalami luka di tangan, kaki, dan perut.
Baca Juga: Satlantas HSU Petakan Jalan Berlubang Jelang 5 Rajab dan Nataru
Saat ini Isur telah kembali beraktivitas, sedangkan Syafi’i masih menjalani pemulihan di rumah.
Kapolsek Banjarmasin Selatan Kompol Christygus Lirens melalui Kanit Reskrim AKP Joko Sulistiyo Sriyono menjelaskan, pelaku merupakan kelompok remaja yang awalnya hendak melakukan tawuran dengan kelompok lain di kawasan Banjarmasin Selatan.
“Namun karena lawan yang dicari melarikan diri, para remaja ini justru melampiaskan emosi kepada dua petugas SPBU yang sedang berjaga,” ujar Joko.
Baca Juga: Stok Bahan Pokok Kalsel Aman Jelang Nataru dan 5 Rajab
Polisi bergerak cepat dan berhasil mengamankan 11 remaja yang diduga terlibat dalam pengeroyokan tersebut.
Mayoritas pelaku masih berstatus pelajar tingkat SMP dan SMK, sementara sebagian lainnya telah lulus sekolah.
Dari tangan para pelaku, petugas menyita tiga bilah senjata tajam, terdiri dari dua celurit dan satu parang. Senjata tersebut diketahui dibeli secara daring melalui media sosial Instagram.
Baca Juga: KPH Tanah Laut Amankan Puluhan Kayu Diduga Hasil Illegal Logging
“Orang tua dan pihak sekolah sudah kami panggil. Ini terjadi di luar kegiatan sekolah dan menjadi perhatian bersama agar pengawasan orang tua lebih ditingkatkan,” tegas Joko.
Ia menambahkan, proses pengungkapan kasus sempat terkendala minimnya saksi di lokasi kejadian.
Namun berkat rekaman kamera pengawas (CCTV), polisi berhasil mengidentifikasi dan menangkap para pelaku secara bertahap.
Baca Juga: Puluhan Residen YPR Kobra Layani Jemaah 5 Rajab Sekumpul
“Total ada 11 remaja yang kami amankan, padahal jumlah mereka saat kejadian lebih dari belasan orang,” ungkapnya.
Diketahui, sebelum pengeroyokan terjadi, kelompok remaja tersebut mendapat tantangan tawuran dari kelompok lain. Namun karena kalah jumlah, kelompok penantang mengurungkan niatnya.
“Akibatnya, dua petugas SPBU ini justru menjadi sasaran pelampiasan. Mereka dikeroyok menggunakan parang dan celurit. Beruntung lukanya tidak sampai fatal,” jelas Joko.
Baca Juga: Hadapi 5 Rajab, Satlantas Banjarbaru Pasang 190 Rambu Lalu Lintas
Meski demikian, kasus ini tidak dilanjutkan ke proses hukum. Pihak korban memilih menyelesaikan perkara secara kekeluargaan dengan syarat para pelaku bertanggung jawab atas seluruh biaya pengobatan hingga korban sembuh.
“Kami tetap mengimbau para orang tua agar meningkatkan pengawasan terhadap anak-anaknya, terutama pada jam-jam rawan di dini hari,” tambah Joko.
Sementara itu, korban Isur mengaku tidak mengetahui adanya rencana tawuran. Ia menyebut serangan terjadi secara tiba-tiba saat dirinya sedang berjaga.
Baca Juga: Jualan Kembang Api di Tengah Larangan, Ini Curhat Pedagang di Pasar Lima Banjarmasin
“Tiba-tiba diserang saja. Saya langsung berusaha menjauhkan diri,” katanya.
Isur mengaku memilih tidak melanjutkan proses hukum karena para pelaku masih di bawah umur dan sebagian masih berstatus pelajar.
“Itu yang membuat saya tidak melanjutkan proses hukum, cukup minta biaya pengobatan saja,” pungkasnya. (*)
Editor : M. Ramli Arisno