Banjir rob kembali menunjukkan keganasannya di pesisir Kalsel, menyasar permukiman, jalan raya, hingga kawasan religi. Memaksa ribuan warga hidup dalam kecemasan setiap kali air laut pasang menerjang tanpa ampun.
*****
KOTABARU – Banjir rob atau air pasang laut seakan menjadi sebuah rutinitas penghujung tahun warga bagi warga pesisir Kabupaten Kotabaru. Menyasar jalan raya, permukiman warga hingga melumpuhkan roda perekonomian dan aktivitas warga.
Tingginya Rob membuat beberapa wilayah terkepung air. Di Kampung Sasak, Kotabaru, ketinggian air sudah masuk ke dalam rumah. Kawasan Kotabaru Tengah ini hampir seluruhnya dikelilingi genangan karena memang posisinya yang sangat dekat dengan laut.
Paling parah, jalan aspal di dekat siring, di depan Pelabuhan jalanan sudah tidak bisa dilalui. Dampak genangan kian meluas. “Malam Senin dan malam Selasa sudah mulai berkurang, tapi banjir rob ini lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Jalan semua gang di Rampa tenggelam, padahal tahun dulu tidak,” keluh Hamdani, salah satu warga Desa Rampa, Selasa (9/12).
Dampak rob ini bukan lagi dalam hitungan ratusan, tetapi sudah mencapai ribuan rumah yang tersebar di Pulau Laut Utara. Daerah terdampak parah antara lain Desa Hilir Muara, Rampa, Semayap, Dirgahayu, hingga Sungai Taib, dan seluruh wilayah pesisir lainnya di Kotabaru.
Warga di kawasan paling rendah, seperti di Perikanan, Barak, dan Hilir, harus menghadapi air pasang setiap hari. Masyarakat tetap bertahan di rumah masing-masing, meski dihantui rasa waswas. “Kami takutkan kalau angin kencang, badai, rumah kami bisa hancur, apalagi kalau ombak besar," tambahnya.
Air laut pasang juga menghantam wilayah pesisir Kecamatan Aluh-Aluh, Kabupaten Banjar. Hadriani, warga setempat mengaku harus ektra hati-hati setiap air merendam lantai rumahnya. Selain karena ketinggian air, ia juga khawatir dengan derasnya angin laut yang belakangan ini sering menerjang kawasan Aluh-aluh. “Ketinggiannya bervariasi, dari lutut hingga setinggi pinggang orang dewasa,” ungkapnya, Selasa (20/12).
Di halaman depan Kantor Camat Aluh-Aluh turut terendam hingga mencapai lutut orang dewasa. Sementara di Desa Simpang Warga, genangan lebih tinggi hingga menyentuh bagian pinggang. Kondisi ini menjadi pola tahunan bagi kawasan yang dikelilingi rawa, sungai-sungai kecil, dan muara yang langsung terhubung ke Laut Jawa. “Saat ini total ada sebanyak 19 desa yang berada di dataran rendah terendam air,” terang Camat Aluh-Aluh Aditya Yudi Dharma.
Fenomena ini bukan dipicu curah hujan tinggi, melainkan karakter geografis Aluh-Aluh sebagai daerah dataran rendah pesisir yang rentan terhadap pasang air laut. “Setiap akhir tahun sampai awal bulan, air laut biasanya dalam kondisi pasang. Jadi rob seperti ini memang sering terjadi. Bukan karena hujan, tetapi murni karena pasang laut,” tambahnya.
Baca Juga: Trauma Banjir Rob, Nenek Salasiah Tak Bisa Tidur Saat Air Naik
Aditya menjelaskan, kecamatan yang terdiri dari desa-desa sungai seperti Aluh-Aluh Besar, Aluh-Aluh Kecil, Tambak Padi, Podok, hingga Balandean itu berada pada elevasi hanya sedikit di atas permukaan laut.
Topografi yang rata dan minim tanggul alami membuat air laut mudah masuk melalui alur sungai saat pasang besar. Meski seluruh desa terdampak, ia memastikan durasi genangan tidak berlangsung lama. “Biasanya 5 sampai 6 jam air akan surut lagi,” imbuhnya.
Sementara, di Banjarmasin, banjir rob tidak hanya merendam jalan dan rumah warga. Kali ini giliran Kompleks Wisata Religi Kubah Basirih di Kecamatan Banjarmasin Barat yang terendam, Selasa (9/12) dini hari.
Pukul 01.30 Wita, Kubah Habib Hamid bin Abbas Al Bahasyim, situs ikonik ziarah terkenal di Kalimantan Selatan, tak luput dari genangan air pasang. Air rob yang berwarna coklat keruh membasahi lantai putih di area makam, bukan hanya di teras luar, tapi sampai rembes mengintari makam salah satu ulama kharismatik yang dikenal dengan sebutan Habib Basirih itu.
Sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarmasin telah merilis informasi puncak tertinggi banjir rob fase 1. Tepatnya dini hari tadi, sekitar pukul 01.00 hingga 02.00 waktu setempat dengan ketinggian air diprediksi mencapai tiga meter di atas permukaan laut.
Muka Air Riam Kanan Sempat Naik
Sementara, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel mengeluarkan peringatan waspada potensi banjir menyusul meningkatnya tinggi muka air di Sungai Riam Kiwa dan Sungai Riam Kanan, Senin (9/12).
Peringatan tersebut diterbitkan berdasarkan laporan Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III yang mencatat kenaikan signifikan pada dua sungai utama tersebut. Data menunjukkan tinggi muka air Sungai Riam Kiwa mencapai 8,60 meter. Sementara Sungai Riam Kanan berada di angka 6,80 meter. Keduanya masuk dalam kategori Waspada pada skala elevasi pengamatan muka air.
Kasubbid Kesiapsiagaan BPBD Kalsel, Ariansyah, mengungkapkan bahwa pada sore hari status ketinggian muka air telah berada di level Siaga 1. Informasi tersebut juga telah disampaikan kepada pemerintah kabupaten/kota serta masyarakat yang berada di wilayah hilir.
“Level tadi pagi sudah di Siaga 1, masuk peringatan waspada, dan sudah kami sampaikan ke kabupaten/kota serta masyarakat di bagian bawahnya,” ujar Ariansyah saat dikonfirmasi, Selasa (9/12) sore.
Hingga pukul 17.00 Wita, BPBD belum menerima laporan adanya permukiman warga yang terendam banjir. “Tidak ada laporan terendam sampai sore ini,” tambahnya.
Ia menjelaskan bahwa debit air saat ini cenderung stabil dan tidak menunjukkan kenaikan. Informasi dari petugas BWS juga menyebutkan bahwa kondisi di bagian hulu sungai mulai mengalami penurunan.
Meski demikian, BPBD Kalsel tetap mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama warga yang tinggal atau beraktivitas di bantaran sungai. Masyarakat diminta segera melapor apabila melihat tanda-tanda potensi bencana melalui call center Pusdalops BPBD Kalsel di nomor 0857-7603-2729.
“Kami meminta warga menyiapkan jalur evakuasi, titik kumpul, tas siaga, hingga surat-surat penting. Jika kondisi mengkhawatirkan, lakukan evakuasi mandiri,” kata Ariansyah.
Editor: Oscar Fraby
Editor : Arief