Kalsel memasuki akhir tahun dengan ancaman ganda. Banjir dan longsor. Sembilan kabupaten dinyatakan rawan bencana hidrometeorologi, dengan Tabalong mencatat lima kecamatan berpotensi longsor menengah hingga tinggi.
*****
BANJARMASIN - Cuaca ekstrem tak hanya berpotensi terjadinya banjir. Potensi gerakan tanah longsor, tak luput dari ancaman. Ada sembilan daerah di Kalsel yang patut waspada terhadap bencana hidrometeorologi tersebut.
Sembilan daerah tersebut adalah Kabupaten Balangan, Banjar, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Kotabaru, Tabalong, Tanah Bumbu, Tanah Laut dan Tapin. Kecamatan di Tabalong yang paling banyak berpotensi terjadi tanah longsor. Jumlahnya sebanyak lima kecamatan.
Kecamatan tersebut adalah, Bintang Ara, Haruai, Jaro, Muara Uya dan Upau. Semuanya berpotensi menengah-tinggi. Kecamatan yang berpotensi tinggi terjadinya longsor juga terdapat di Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan.
Selain itu, Kecamatan Aranio, Paramasan, Sungai Pinang, Kabupaten Banjar. Untuk di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, potensi gerakan tanah terdapat di Kecamatan Loksado, Padang Batung dan Telaga Langsat.
Di Kabupaten Tanah Laut termasuk banyak, jumlahnya empat kecamatan. Yakni Kecamatan Bajuin, Batu Ampar, Jorong dan Kintap. Semuanya dengan potensi gerakan tanah menengah tinggi. “Data ini kami terima dari bagian geologi Kementerian ESDM,” terang Plt Kepala BPBD Kalsel, Gusti yanuar Noor Rifai, Kamis (4/12).
Dia menjelaskan, sesuai arahan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), pihaknya sudah menyiapkan antisipasi sebagai bentuk kesiapsiagaan. “Penyebarluasan informasi, khususnya bagi masyarakat yang bermukim di wilayah dengan risiko tinggi sudah kami sampaikan. Termasuk menyiagakan posko BPBD se-kalsel,” paparnya.
Sisi lain, wilayah Kabupaten Banjar, Tanah Laut, dan Kota Banjarbaru diprediksi bakal diguyur curah hujan tinggi sepanjang Desember. Data prediksi curah hujan yang dirilis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Kelas I Kalimantan Selatan menunjukkan, ketiga daerah tersebut berpotensi menerima hujan lebih tinggi dibanding sembilan daerah lain di Kalsel.
Kepala Stasiun Klimatologi Kalsel, Klaus Johannes Apoh Damanik, menyampaikan, periode akhir tahun perlu dihadapi dengan kewaspadaan tinggi. Berdasarkan analisis klimatologis yang diterima pada Kamis (4/12) siang, curah hujan di Kalsel diprediksi berada pada kisaran 200 hingga 500 milimeter, dalam kriteria menengah hingga tinggi.
POTENSI HUJAN TINGGI
Dari hasil analisis klimatologis, wilayah dengan potensi hujan tertinggi pada kisaran 400–500 milimeter per bulan meliputi Kecamatan Aranio dan Karang Intan di Kabupaten Banjar. Di Kabupaten Tanah Laut, wilayah yang masuk kategori ini adalah Kecamatan Pelaihari, Bajuin, Bati-Bati, Bumi Makmur, Kurau, dan Tambang Ulang. “Kawasan Cempaka, Landasan Ulin, dan Liang Anggang di Kota Banjarbaru juga termasuk wilayah dengan curah hujan tinggi,” ujar Klaus.
Ketiga wilayah tersebut dinilai berpotensi menghadapi hujan intens dan berkepanjangan, sehingga memerlukan kewaspadaan lebih. Terutama di kawasan lereng, bantaran sungai, dan permukiman padat yang rawan banjir dan tanah longsor.
Adapun kategori curah hujan 300–400 milimeter mendominasi sebagian besar wilayah provinsi. Wilayah ini termasuk Kabupaten Balangan, Banjar, Barito Kuala, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, Tabalong, Tanah Bumbu, Tanah Laut, Tapin, dan seluruh wilayah Kota Banjarmasin.
Sementara itu, daerah yang berada pada kisaran hujan lebih rendah, yakni 150–200 milimeter dalam satu bulan, adalah sebagian kecil Kabupaten Tanah Bumbu, Kabupaten Kotabaru di Pulau Laut, dan sebagian kecil wilayah Tanah Laut seperti Kintap dan sekitarnya.
BMKG mencatat bahwa sifat hujan pada Desember diprediksi berada pada kategori normal (85–115%) hampir di seluruh Kalimantan Selatan. Artinya, hujan diperkirakan berlangsung sesuai pola klimatologis tanpa indikasi anomali signifikan.
Meski demikian, potensi bencana hidrometeorologi perlu tetap diantisipasi. Terutama bagi daerah yang secara historis rentan mengalami kejadian banjir dan longsor. Langkah antisipatif dini akan sangat membantu meminimalkan risiko kejadian bencana hidrometeorologi di saat puncak musim hujan ini.
“Kami berharap masyarakat lebih waspada menghadapi dinamika cuaca ekstrem dan tetap mengikuti informasi resmi BMKG sebagai dasar pengambilan keputusan di lapangan,” tutupnya.
Editor: Oscar Fraby
Editor : Arief