Aksi jilid II ini menyusul aksi sebelumnya yang berakhir ricuh pada Senin (24/11) lalu.
Massa terpantau mulai memadati Jalan Lambung Mangkurat. Mereka membawa spanduk berisi sindiran sambil menyanyikan lagu-lagu perjuangan.
Massa tetap menginginkan Ketua DPRD Kalsel, Supian HK untuk menemui dan berdialog dengan mereka.
Mereka yang sebelumnya masih kecewa bahkan mulai mencoreti foto para pimpinan DPRD yang terpasang di depan Rumah Banjar.
Hingga kini, massa masih berorasi di depan kantor DPRD Kalsel di bawah pengamanan aparat kepolisian.
Demonstran membawa empat tuntutan utama. Pertama, penolakan terhadap KUHAP yang baru disahkan DPR RI.
Mereka menilai beberapa pasal dalam KUHAP terbaru tidak berpihak kepada kepentingan masyarakat.
"Perluasan wewenang Polri dan penyidik lebih besar sehingga tidak sesuai dengan narasi keamanan terhadap putusan-putusan yang dihadirkan," tegas Adi.
Kedua, penanganan tambang ilegal di Kalsel yang dinilai masih menimbulkan banyak masalah di beberapa kabupaten.
Ketiga, kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax yang belakangan kerap menyulitkan masyarakat. Keempat, pengesahan UU Masyarakat Adat yang bersifat prorakyat.
Editor : Sutrisno