Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Aktivitas Tambang Makin Dekat Permukiman, Warga Rantau Bakula Cemas Keselamatan Terancam

Sheilla Farazela • Kamis, 13 November 2025 | 18:52 WIB
Dapur salah satu warga yang ambruk diduga akibat getaran tambang batubara.
Dapur salah satu warga yang ambruk diduga akibat getaran tambang batubara.

Banjarbaru – Aktivitas tambang batubara milik PT Merge Mining Industri (MMI) di Desa Rantau Bakula, Kecamatan Sungai Pinang, Kabupaten Banjar, dikeluhkan warga karena dinilai semakin mengancam keselamatan dan kenyamanan permukiman.

Keluhan ini diutarakan sejumlah warga Rantau Bakula saat konferensi pers di Banjarbaru, Kamis (13/11).

Salah satu warga, Pariun menceritakan getaran dari alat berat dan suara mesin pencucian batubara yang beroperasi siang dan malam membuat warga resah. Bahkan, satu rumah warga dilaporkan roboh pada Sabtu (8/11/2025) malam akibat diduga terdampak getaran tersebut.

"Rumah yang rusak milik Suparno (55) dan Mujiati (48). Bagian dapur hingga kamar mandi ambruk, sementara retakan pada dinding rumah lain di sekitar lokasi kian melebar," ucapnya.

"Setiap kali truk lewat, lantai dan dinding ikut bergetar,” katanya lagi.

Warga juga menyoroti posisi pabrik pencucian batubara (coal washing plant) yang disebut semakin dekat ke area permukiman, disertai tumpukan batubara yang semakin tinggi di sisi pemukiman.

"Kalau dibiarkan, ini bukan cuma soal lahan, tapi keselamatan. Kami seperti menunggu rumah mana yang roboh berikutnya,” ujarnya.

Suara mesin tambang kini ujar Pariun terdengar nyaring hingga malam hari. “Anak-anak susah tidur karena bising. Kami harap pemerintah turun tangan, jangan tunggu korban,” ucapnya.

Warga yang terdampak memberikan keterangan pers
Warga yang terdampak memberikan keterangan pers

Informasi yang dihimpun, warga rantau bakula yang terdampak juga telah menyerahkan data lahan kepada pihak perusahaan sejak Agustus 2025 untuk proses pembebasan lahan. Namun hingga kini, belum ada tindak lanjut.

Karena itu, ujar Pariun pihaknya mendesak penyelesaian sebelum pertengahan Desember 2025 dan meminta aktivitas tambang dihentikan sementara hingga ada kepastian. "Kami butuh keadilan," pungkasnya.

Hingga berita ini ditayangkan, Radar Banjarmasin berupaya melakukan konfirmasi kepada Direktur PT MMI Yudha Ramon, namun pesan hanya dibaca dan tidak memberikan jawaban.

Editor: Toto Fachrudin

Editor : Arief
#rumah #ambruk #Banjar #Gempa #Tambang #pemukiman