Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Kebakaran di Banjarmasin Kembali Telan Korban Jiwa, Jangan-jangan Keliru Pola Mitigasi

Muhammad Syarafuddin • Senin, 10 November 2025 | 09:46 WIB

 

TRAGEDI: Puing dan arang sisa peristiwa kebakaran di Kampung Gedang, Banjarmasin Tengah, pada Jumat (7/11). Dalam insiden ini, satu keluarga meninggal.
TRAGEDI: Puing dan arang sisa peristiwa kebakaran di Kampung Gedang, Banjarmasin Tengah, pada Jumat (7/11). Dalam insiden ini, satu keluarga meninggal.

BANJARMASIN - Lagi dan lagi, kebakaran merenggut korban jiwa. Teranyar pada Jumat (7/11) lalu di Gang Binjai, Kampung Gedang, Banjarmasin Tengah, kebakaran menewaskan satu keluarga terdiri dari ayah, ibu dan anak.

Pengamat tata kota, Nanda Febryan Pratamajaya mengatakan mitigasi kebakaran di permukiman padat penduduk bukan tidak mungkin dilakukan, walaupun memang sulit.

Menurutnya, terdapat perbedaan pola pencegahan kebakaran yang mengacu karakter kawasan di sebuah wilayah.

"Saya khawatir yang diadopsi pemerintah adalah mitigasi permukiman komersil. Sedangkan cara penanganan di permukiman tradisional berbeda. Pemerintah harus membedakan caranya," ujarnya. Minggu (9/11).

Faktor bangunan yang berdiri di atas lahan rawa juga bisa menambah kerawanan. "Binatang melata bisa menggerogoti instalasi dalam rumah dan stop kontak yang overload," ucapnya.

Sebagian besar kasus kebakaran di Banjarmasin disebabkan korsleting atau arus pendek.

"Kualitas instalasi listrik menjadi faktor utama. Ini harus dievaluasi pemerintah bersama PLN untuk penanganan, minimal ada pengecekan atau pelatihan," jelas lulusan Universitas Brawijaya ini.

Sementara, opsi relokasi penduduk dari permukiman padat yang rawan terbakar hampir tak mungkin diambil.

"Yang tidak padat mungkin tidak terlalu (rawan), tapi yang padat ini yang jadi masalah. Apalagi kontruksi bangunannya rata-rata dari kayu yang cepat terbakar," sebutnya.

Nanda yang pernah terlibat dalam proyek Menara 0 KM Banjarmasin sebagai konsultan ini ini mengatakan pola-pola pencegahan lebih realistis dibanding penanganan pasca insiden.

"Masyarakat pasti tidak ingin hal seperti itu menimpa mereka, meskipun akhirnya mendapat bantuan yang tidak seberapa dibanding dokumen penting yang terbakar atau nyawa yang melayang," tegas Ketua Ikatan Nasional Tenaga Ahli Konsultan Indonesia (Intakindo) Kalimantan Selatan ini.

Ia menyarankan mitigasi secara langsung ke tengah masyarakat. "Bukan tidak mungkin, masyarakat bisa didatangi dari pintu ke pintu untuk sosialisasi, bukan hanya pada saat pembagian undangan memilih di Pilkada aja," tutupnya.

Berdasarkan rekap data Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Banjarmasin, terjadi 114 kasus kebakaran sepanjang tahun 2025, dan dua di antaranya kebakaran besar.

Insiden kebakaran di Kota Seribu Sungai cenderung turun dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Terdapat 230 insiden kebakaran pada 2023 dan 120 pada tahun 2024. "Iya (cenderung turun)," ujar Kepala Disdamkarmat Banjarmasin, Hendro saat dikonfirmasi belum lama tadi. 

Editor : Arief
#mitigasi #banjarmasin #Kebakaran #damkar