Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

BMKG: Gempa Tarakan Tak Menjalar ke Kalsel, Tapi Sesar Meratus Bisa Picu M7

M Fadlan Zakiri • Kamis, 6 November 2025 | 13:49 WIB
Ilustrasi dampak gempa bumi (FREEPIK)
Ilustrasi dampak gempa bumi (FREEPIK)

BANJARBARU – BMKG menegaskan gempa berkekuatan M4,8 di Tarakan, Kalimantan Utara, tidak akan merembet ke wilayah Kalimantan Selatan (Kalsel).

Meski demikian, ancaman lain justru bersumber dari dalam Kalsel sendiri: Sesar Meratus, yang berpotensi memicu gempa hingga magnitudo 7,0.

Kepala Stasiun Geofisika Balikpapan, Rasmid, menegaskan bahwa gempa di Tarakan yang terjadi pada Rabu (5/11/2025) pukul 17.37 WIB bersumber dari aktivitas Sesar Tarakan, bukan patahan lain.

“Patahan Sesar Tarakan hanya sepanjang sekitar 100 kilometer dan berbeda sumber dengan Sesar Meratus. Karena itu, tidak ada potensi menjalar ke Kalimantan Selatan,” ujar Rasmid, Kamis (6/11/2025) siang.

Gempa di Tarakan berpusat di laut, 24 km tenggara Tarakan, kedalaman 10 km, tergolong gempa dangkal.

Sesar ini berarah tenggara–barat laut dan hingga kini masih aktif, ditandai gempa kecil berulang dengan kekuatan 2,0–4,7 Mw.

Namun, fokus utama justru mengarah ke Sesar Meratus, patahan aktif sepanjang 100–110 km yang membelah Kalsel dari selatan ke utara.

“Anggapan Kalimantan aman dari gempa itu keliru. Sesar Meratus justru termasuk yang paling aktif di pulau ini,” tegasnya.

Dalam beberapa bulan terakhir, BMKG mencatat banyak gempa mikro di sepanjang Pegunungan Meratus. Memang, sebagian besar hanya terdeteksi alat dan tidak dirasakan warga, tetapi ancamannya nyata.

“Jika seluruh segmen Sesar Meratus bergerak bersamaan, potensi gempanya bisa mencapai M7,0,” ungkap Rasmid.

Pulau Kalimantan sendiri, jelas Rasmid memiliki tiga sesar aktif utama. Pertama adalah Sesar Meratus. Sesar naik yang terletak di bagian Kalimantan Selatan, tepatnya di sepanjang Pegunungan Meratus.

“Sehingga, daerah yang rawan terkena getaran dari aktivitas Sesar Meratus adalah yang berada di sepanjang pegunungan Meratus,” lugas Rasmid.

Kedua, Sesar Tarakan. sesar ini mendatar yang berada di daerah Kalimantan Utara, memanjang dari daratan ke laut lepas.

Dan ketiga adalah Sesar Mangkalihat. Ini adalah sesar mendatar yang ditemukan di pantai timur Kalimantan dan bergabung dengan Sesar Palu Koro di Sulawesi.

Sesar-sesar ini memiliki potensi untuk menimbulkan gempa bumi, meskipun secara umum Kalimantan memiliki aktivitas gempa yang lebih rendah dibandingkan pulau lain di Indonesia.

Kendati demikian, topografi wilayah Kalimantan Selatan yang mayoritas adalah lahan gambut dan rawa di wilayah pesisir memperkuat getaran.

Sebab, gelombang seismik di tanah lunak seperti gambut bisa bertahan lebih lama dan amplitudonya lebih besar, sehingga bangunan di atasnya lebih rentan.

“Berbeda dengan wilayah pegunungan berbatu keras, yang getarannya cepat meredam,” ujarnya

Rasmid juga menepis asumsi bahwa gempa Kalsel berasal dari aktivitas tambang. “Alat seismik kami bisa membedakan. Gempa yang terekam di Meratus murni tektonik, bukan blasting pertambangan,” katanya.

Karena itulah pihaknya terus mengimbau masyarakat agar tidak termakan hoaks dan hanya merujuk informasi resmi melalui kanal terverifikasi.

Saat ini, pihaknya terys memantau Sesar Meratus dengan lima alat seismik di Kotabaru, Banjarbaru, Paramasan, Tabalong, dan satu titik lain di jalur Meratus, untuk membaca dinamika patahan secara real-time.

Sejak 1915, lebih dari 800 gempa tercatat di Kalimantan, mayoritas di Kaltara, Kaltim, dan Kalsel.

“Kalimantan memang bukan zona subduksi seperti Jawa, tapi bukan berarti bebas dari ancaman. Karakter gempanya berbeda, namun tetap berpotensi merusak,” tutup Rasmid.

Editor : Arif Subekti
#menjalar #tarakan #Meratus #Gempa #Kalsel #bmkg