BANJARMASIN - Kecamatan Pengaron, Kabupaten Banjar, kembali menjadi sorotan menjelang musim hujan akhir tahun. Meski debit air Sungai Riam Kiwa hingga awal November masih tergolong aman, pemerintah desa dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah mengeluarkan imbauan agar warga bersiaga menghadapi potensi banjir.
Pengaron dikenal sebagai salah satu titik rawan banjir di Kalsel. Dari 12 desa yang ada di Kecamatan Pengaron, tujuh di antaranya telah ditetapkan sebagai daerah dengan tingkat kerawanan tinggi. Desa-desa tersebut meliputi Ati’im, Lumpangi, Mangkauk, Benteng, Pengaron, Lobang Baru, dan Lok Tunggul.
Sekretaris Desa Benteng sekaligus personel Desa Tanggap Bencana (Destana), Ahmad Sarpai, menyebut bahwa kondisi sungai saat ini masih di bawah separuh kedalaman normal. Namun, jika hujan deras berlangsung terus-menerus dan alat pengukur air menunjukkan angka tiga meter, maka luapan dipastikan akan merendam tujuh desa tersebut.
“Untuk saat ini debit sungai masih aman. Tapi kalau alat pengukur ketinggian air di desa sudah mencapai angka tiga meter, bisa dipastikan tujuh desa di Pengaron akan terendam,” ujarnya, Senin (3/11) malam.
Khusus di Desa Benteng, pemetaan kerawanan dilakukan hingga tingkat RT. RT 1 dan RT 2 disebut paling rawan karena seluruh wilayahnya bisa terendam saat Sungai Riam Kiwa meluap. RT 4 memiliki potensi banjir sekitar 50 persen, RT 5 sekitar 20 persen, dan RT 3 tergolong aman dengan tingkat kerawanan hanya dua persen.
Pemetaan ini dilakukan sebagai langkah antisipatif oleh BPBD bersama pemerintah desa. Wilayah hulu Sungai Riam Kiwa menjadi perhatian utama, karena peningkatan debit air di kawasan ini berpotensi memicu banjir di wilayah hilir seperti Martapura dan sekitarnya.
“Jika debit air di kawasan hulu meningkat, maka wilayah hilir seperti Martapura dan sekitarnya turut berisiko terdampak,” jelas Ahmad.
Meski ancaman banjir terus membayangi, Ahmad mengakui bahwa masyarakat di Pengaron sudah terbiasa menghadapi kondisi tersebut. Bahkan, sebagian besar warga memilih tetap bertahan di rumah meski air mulai naik.
“Warga di sini sudah terbiasa berhadapan dengan banjir. Bahkan ketika ada imbauan mengungsi pun, banyak yang memilih tetap tinggal karena sudah tahu pola airnya,” ujarnya.
Sepanjang tahun 2025 Sungai Riam Kiwa telah meluap sebanyak lima kali. Banjir pertama terjadi pada 26 Januari dengan 70 persen wilayah terdampak, disusul banjir kedua pada 7 Maret dengan dampak serupa. Banjir ketiga terjadi 2 April dengan 40 persen wilayah terdampak. Sedangkan banjir keempat pada 11 September berdampak pada 20 persen wilayah, dan banjir kelima pada 24 Oktober hanya berdampak pada 5 persen wilayah.
“Dua banjir terakhir relatif aman karena jalan belum terendam, hanya beberapa rumah warga di bantaran sungai yang terdampak,” kata Ahmad.
Melihat kondisi cuaca yang mulai tidak menentu, dia mengimbau masyarakat di bantaran Sungai Riam Kiwa untuk tetap waspada dan memperbarui informasi dari posko siaga bencana setempat. “Karena ancaman banjir ini memang sudah jadi langganan jelang pergantian tahun. Jadi kami harus meningkatkan kewaspadaan setiap akhir dan awal tahun,” pungkasnya.
Tak hanya di Pengaron, rawan banjir juga kerap menimpa Kabupaten Hulu Sungai Utara. Tiga sungai utama yang membelah Kota Amuntai, HSU, yakni Sungai Tabalong, Balangan, dan Negara kini mengalami kenaikan debit air yang cukup signifikan. Peningkatan ini dipicu oleh kiriman air dari wilayah hulu, yaitu Kabupaten Tabalong dan Kabupaten Balangan, yang bertemu di aliran sungai di Amuntai.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) HSU, Syamrani, menyatakan bahwa meski status sungai saat ini masih tergolong aman, masyarakat yang bermukim di sepanjang bantaran sungai diminta untuk tetap waspada terhadap kemungkinan kenaikan air secara tiba-tiba.
“Untuk saat ini status sungai masih aman, namun kami mengimbau masyarakat yang bermukim di tepi sungai agar lebih berhati-hati terhadap kemungkinan kenaikan air secara tiba-tiba,” ujarnya, Senin (3/11).
Dari sepuluh kecamatan di HSU, sembilan di antaranya masuk kategori rawan banjir. Hanya Kecamatan Paminggir yang dinyatakan relatif aman. Wilayah yang paling sering terdampak banjir meliputi Kecamatan Banjang, Amuntai Utara, Amuntai Tengah, Amuntai Selatan, dan Haur Gading.
Sebagai langkah antisipasi menghadapi musim hujan yang diperkirakan mencapai puncaknya pada November, BPBD HSU meningkatkan koordinasi dengan pihak kecamatan dan desa untuk melaporkan kondisi debit air secara berkala.
Syamrani menjelaskan bahwa pemantauan dilakukan secara manual karena alat ukur tinggi air di Sungai Tabalong dan Sungai Balangan mengalami gangguan teknis. “Pemantauan tetap berjalan, meski alat ukur kami sedang bermasalah. Petugas di lapangan melakukan pengukuran manual,” jelasnya.
Langkah pencegahan yang telah dilakukan meliputi sosialisasi kebencanaan ke desa-desa rawan dan sekolah tingkat atas di wilayah HSU. BPBD juga akan memasang imbauan di videotron dan titik-titik rawan banjir sebagai bentuk edukasi publik.
Mengingat kondisi debit air masih dalam tahap waspada, BPBD HSU berencana menggelar rapat koordinasi banjir bersama SKPD terkait dan lintas sektor untuk menentukan status daerah dalam waktu dekat. Selain itu, bantuan sembako telah disiapkan bagi warga terdampak jika banjir benar-benar terjadi.
“Pemerintah daerah melalui Dinas PUPR juga telah melakukan langkah antisipasi dengan pendalaman kantong air serta pembersihan sumbatan sampah di sejumlah titik sungai,” tutupnya.
TATUS SUNGAI RIAM KIWA – PENGARON
• Debit air: Masih aman (di bawah separuh kedalaman normal)
• Titik kritis: 3 meter
• Sudah 5 kali banjir sepanjang 2025
DESA RAWAN BANJIR DI PENGARON
• Ati’im
• Lumpangi
• Mangkauk
• Benteng
• Pengaron
• Lobang Baru
• Lok Tunggul
STATUS SUNGAI DI AMUNTAI – HULU SUNGAI UTARA
• Sungai Tabalong, Balangan, Negara: Debit naik signifikan
• Kiriman air dari Tabalong dan Balangan
• Pemantauan manual karena alat ukur rusak
KECAMATAN RAWAN BANJIR DI HSU
• Banjang
• Amuntai Utara
• Amuntai Tengah
• Amuntai Selatan
• Haur Gading
Editor: Oscar Fraby
Editor : Arief