BANJARMASIN – Satu nyawa relawan Barisan Pemadam Kebakaran (BPK) yang gugur saat bertugas menjadi tamparan keras bagi semua pihak.
Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kota Banjarmasin menegaskan, keselamatan relawan harus jadi prioritas sebelum mereka menyelamatkan orang lain.
Kepala Disdamkarmat Banjarmasin, Hendro menyebut pelatihan keselamatan bagi petugas BPK swakarsa saat padamkan kebakaran kini menjadi fokus utama pihaknya.
“Pelatihan ini kami lakukan rutin sejak 2022. Tujuannya agar para relawan paham penanggulangan kebakaran dan penyelamatan korban di lokasi kejadian,” ujarnya, Rabu (29/10/2025).
Menurut Hendro, banyak relawan BPK yang bergerak dengan semangat tinggi.
Tapi, belum semuanya memahami Standar Operasional Prosedur (SOP) pemadaman.
“Mereka punya nyali besar, tapi belum tentu tahu cara aman memadamkan api. Itulah pentingnya pelatihan ini,” jelasnya.
Karena keterbatasan anggaran, setiap tahun hanya 40 peserta yang bisa mengikuti pelatihan—delapan orang per kecamatan—dengan pelatih langsung dari Pusdiklat Ciracas, Jakarta.
Dalam pelatihan, relawan diajarkan teknik dasar hingga penanganan kondisi berisiko, seperti saat menghadapi sumber listrik aktif di area kebakaran.
“Boleh menyemprot air, tapi cukup sekali dengan teknik tembak lepas. Kalau disemprot terus, arus listrik bisa menyambar balik,” terang Hendro.
Di lingkup Disdamkarmat, penerapan SOP bersifat wajib.
“Kalau sopir utama dan cadangan tidak ada, mobil tidak boleh jalan. Petugas juga wajib memakai APD lengkap, kalau melanggar akan kena surat peringatan,” tegasnya.
Sayangnya, hal ini belum bisa diterapkan secara menyeluruh di tingkat relawan BPK swakarsa.
Sebab sebagian besar bekerja sukarela tanpa gaji.
Bahkan sering menggantikan peran sopir atau operator bila ada yang berhalangan.
“Mereka ini orang-orang dengan jiwa sosial tinggi. Tapi justru itu, kami ingin mereka tetap aman saat membantu,” ucapnya.
Disdamkarmat pun terus berupaya meningkatkan kapasitas relawan lewat pembinaan, sosialisasi, dan pelatihan safe driving.
“Kami ajarkan kecepatan ideal, siapa yang boleh menyetir, hingga cara mengendalikan kendaraan di lapangan,” imbuhnya.
Namun, Hendro mengakui pengawasan masih jauh dari ideal.
Saat ini, terdapat sekitar 350 unit BPK swakarsa dengan lebih dari 10 ribu relawan aktif di Banjarmasin.
Sementara jumlah personel resmi Disdamkarmat hanya 70 orang, termasuk staf kantor.
“Kami tidak bisa mengawasi semuanya. Jadi sementara ini kami fokus pada pembinaan dan imbauan sesuai aturan yang berlaku,” pungkasnya.
Editor : Eddy Hardiyanto