Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Bukan Perampokan, Bu Bidan di Kelayan A Tewas Ditikam Lantaran Menolak Meminjamkan Uang Rp500 Ribu, Pelaku Menyerahkan Diri ke Polisi

Maulana Radar Banjarmasin • Selasa, 21 Oktober 2025 | 05:48 WIB
MENYERAHKAN DIRI: Andi Julianto alias Encek saat diinterogasi Kapolsek Banjarmasin Selatan, Kompol Christugus Lirens, Selasa (21/10/20225) dini hari.
MENYERAHKAN DIRI: Andi Julianto alias Encek saat diinterogasi Kapolsek Banjarmasin Selatan, Kompol Christugus Lirens, Selasa (21/10/20225) dini hari.

BANJARMASIN - Polsek Banjarmasin Selatan memastikan kejadian penikaman yang menewaskan seorang bidan bernama Rahmaniah (58) di Gang Antasari, Kelayan A, Banjarmasin Selatan, Senin (20/10/2025) malam bukanlah perampokan.

Hal ini terungkap setelah pelaku, Andi Julianto alias Encek menyerahkan diri ke Mapolsek Banjarmasin Selatan, Selasa (21/10/2025) sekitar pukul 00.05 Wita, atau kurang lebih empat jam setelah kejadian.   

Encek menyerahkan diri ke Kantor Polisi setelah tim Polsek Banjarmasin Selatan melakukan pendekatan ke keluarganya. "Pelaku datang menyerahkan diri menaiki ojek ditemani teman pelaku," ucap Christugus Lirens, Kapolsek Banjarmasin Selatan, Selasa (21/10/2025) dini hari. 

Dari hasil interogasi Polisi, terungkap Encek tega menghabisi nyawa Rahmaniah lantaran menolak memberikan pinjaman uang senilai Rp500 ribu.

"Sedangkan, senjata tajam untuk melukai para korban adalah milik Encek sendiri yang dibawa dari rumah. Pengakuan Encek, pisau itu memang sering dibawa dan sudah menjadi kebiasaan. Tetapi semua itu masih kami dalami lagi," terang Kapolsek.

Disebut Christugus, ada empat mata luka di tubuh Rahmaniah, namun yang terparah adalah luka tusuk di bawah dada yang cukup dalam.

"Untuk anak Rahmaniah yang turut menjadi korban penganiayaan, kini masih dalam penanganan. Dia mengalami luka dipergelangan tangan dan bagian belakang," sebut Christugus didampingi Kanit Reskrim Polsek Banjarmasin Barat, Iptu Sudirno.

Usai melukai korban, pelaku bergegas pulang, lalu ke sungai Andai. "Setelah kami melakukan pendekatan melalui keluarga pelaku, akhirnya pelaku mau menyerahkan diri," jelas Christugus.

Sementara itu, Encek yang sudah dalam kondisi tangan terborgol mengungkapkan ia dan keluarganya sudah saling kenal dengan Rahmaniah.

Tak sekadar urusan berobat, Rahmaniah juga sering meminta dimasakan makanan kepada ibunya Encek. 

"Saya dan keluarga kenal, saya sering berobat, ibu juga. Waktu itu, saya datang ke rumah Bidan Rahmaniah untuk berobat, karena magh kambuh. Saya sekalian mau meminjam uang Rp500 ribu, tetapi korban menolak. Katanya tak memiliki uang," ujarnya.

Encek terus membujuk Rahmaniah agar bersedia memberikannya pinjaman uang tersebut, namun tetap saja tak diberi.

Hingga akhirnya, Rahmaniah marah dan mengeluarkan perkataan kasar kepada Encek. "Pisau memang saya bawa dari rumah, sudah kebiasaan saya. Pisau itu saya todongkan untuk mengancam saja, agar korban mau memberi utang. Tetapi saya khilaf dan tak sadarkan diri lagi,  malah menyerang korban, lupa berapa kali menikam," dalihnya.

Saat penganiayaan terjadi, anak perempuan Rahmaniah, Rina Mutia (24) yang baru pulang ke rumah turut jadi korban penganiayaan yang dilakukan Encek.

Encek mengaku tak sadar lagi, sehingga juga melukai putri Rahmaniah. "Usai menganiaya ibu dan anak, saya berlari pulang. Ibu saya sempat bertanya dan saya akui kalau sudah menusuk ibu Bidan. Ibu meminta saya lebih baik menyerahkan diri. Tetapi saya bingung dan memilih ke rumah teman, lalu ke sungai Andai. Setelah beberapa jam di sana, saya naik ojek menyerahkan diri," katanya.

Peristiwa kematian tragis yang menimpa Bidan Rahmaniah di rumahnya di Gang Antasari II RT 6, Jalan Kelayan A, Banjarmasin Selatan, menyisakan duka bagi warga setempat.

Rahmaniah dikenal sebagai sosok ramah dan baik oleh tetangga, maupun pasien yang biasa datang untuk berobat.

"Saya sudah enam tahun bertetangga dengan almarhum, orangnya baik dan ramah. Pelanggan ibu Bidan juga banyak," tutur Eti, salah satu tetangga korban.

Eti menceritakan, saat kejadian berdarah tersebut, dirinya tengah mandi. Ia dikabari putrinya bahwa Bidan Rahmaniah ditusuk seseorang.

"Saya langsung keluar rumah dan melihat Bidan Rahmaniah sudah bersimbah darah di belakang pintu. Tak lama ambulans datang mengevakuasi dan saya ikut bantu mengangkat, sepertinya sudah meninggal dunia. Anaknya syok berat," ujarnya.

Eti mengaku tak mendengar adanya keributan dari rumah korban, padahal jarak rumah mereka hanya berselang satu buah rumah.

"Yang dengar ribut itu ibu Idah, tetangga sebelah rumah korban. Katanya dikira ibu bidan lagi ribut kecil ke anaknya dan lantaran sering mendengar hal seperti itu, jadi dia tidak menyangka ada sesuatu," kisahnya.

Kejadian baru diketahui warga setelah salah satu pasien datang untuk suntik KB dan menemukan Bidan Rahmaniah sudah tak sadarkan diri.

"Pasien itu kaget dan langsung memberi tahu warga dan ibu Idah. Biasanya anak-anak muda nongkrong di rumah bu Idah, tapi malam itu sepi," tambah Eti.

Diketahui, korban baru saja pensiun dari tugasnya sebagai tenaga bidan di Puskesmas Pekauman, Banjarmasin Selatan.

Setelah pensiun, ia fokus membuka praktik layanan KB di rumah setiap malam usai salat Magrib hingga pukul 21.00 Wita.

"Korban tinggal bersama putri sulungnya yang masih kuliah yang juga menjadi korban. Dua anaknya yang lain tidak tinggal satu rumah lagi," pungkas Eti.

Editor : Fauzan Ridhani
#Bidan rahmaniah #menyerahkan diri #polsek banjarmasin selatan #Perampokan #bidan #penikaman