Ratusan siswa di Martapura tumbang usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis. Kini, dapur utama program itu disorot dan diselidiki langsung oleh tim investigasi nasional.
***
MARTAPURA – Dapur utama penyedia program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Tungkaran, Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar, resmi diberhentikan sementara. Langkah ini diambil setelah ratusan siswa dari sejumlah sekolah di Martapura mengalami gejala keracunan massal, Kamis (9/10).
Total ada 132 siswa yang tercatat mengalami keluhan mual, pusing, dan muntah usai menyantap menu MBG, siang hari itu. Dari jumlah tersebut, 125 orang sudah dipulangkan. Sementara 7 lainnya masih menjalani perawatan di RSUD Ratu Zalecha Martapura.
Alhasil, saat ini dapur milik Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) Tungkaran kini menjadi pusat sorotan. Tim Investigasi Independen Badan Gizi Nasional (BGN) dari Jakarta turun langsung ke lokasi pada Sabtu (11/10), untuk melakukan penelusuran menyeluruh. Mulai dari dokumen operasional, sampel makanan, kebersihan dapur, hingga sanitasi lingkungan. “Kami tidak bisa menyimpulkan apapun tanpa hasil laboratorium. Semua harus berdasarkan bukti valid,” tegas Ketua Tim Investigasi Independen BGN, Karimah Muhammad, saat diwawancarai di lokasi.
Menurutnya, tim saat ini masih menunggu hasil resmi dari laboratorium Dinas Kesehatan dan aparat penegak hukum. Pengujian dilakukan untuk memastikan dugaan adanya kandungan nitrat dalam makanan MBG yang disajikan pada hari kejadian. “Kami harus tahu angkanya berapa, di sampel yang mana, dan apakah itu masih di batas aman atau tidak. Zat berbahaya belum tentu berbahaya kalau kadarnya rendah. Semua harus berbasis data,” ujarnya.
Karimah menegaskan, hasil akhir investigasi akan menentukan apakah dapur MBG Tungkaran akan ditutup permanen, atau bisa kembali beroperasi setelah memenuhi sejumlah syarat keamanan pangan. “Kalau ditemukan pelanggaran berat, bisa jadi harus ditutup total. Tapi kalau hanya kesalahan teknis dan masih bisa diperbaiki, maka bisa dibuka kembali setelah pemenuhan persyaratan,” ucapnya.
Selain memeriksa aspek bahan makanan, tim juga menyoroti instalasi sanitasi dan kebersihan dapur yang disebut masih harus disesuaikan dengan petunjuk teknis (juknis) pengelolaan makanan bergizi. Jika dapur Tungkaran belum bisa digunakan, BGN berencana memindahkan sementara suplai makanan ke SPPG lain di wilayah sekitar.
Namun jika kapasitas dapur pengganti tidak mencukupi, distribusi MBG di sejumlah sekolah kemungkinan besar akan dihentikan sementara. “Kami tidak ingin mengambil risiko. Program MBG ini harus menjamin keselamatan anak-anak penerimanya, bukan justru membahayakan,” tegas Karimah.
Dandim 1006 Banjar, Letkol Inf Bambang Prasetyo Prabujaya yang turut memantau jalannya pemeriksaan mengatakan kondisi para pasien sejauh ini stabil. “Tidak ada yang dalam kondisi gawat. Tapi semua masih dalam pengawasan ketat,” katanya.
Ia berharap masyarakat bersabar menunggu hasil akhir investigasi agar tidak muncul spekulasi yang justru memperkeruh situasi. “Biarkan tim bekerja secara ilmiah dan objektif. Kita ingin kebenaran yang bisa dipertanggungjawabkan,” ujarnya.
Senin Uji Laboratorium Keluar
Setelah kasus dugaan keracunan massal yang menimpa 132 siswa di Martapura, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Banjar bergerak cepat.
Mereka turun langsung melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap dapur SPPG Tungkaran.
Pemeriksaan dilakukan pada Jumat (10/10) siang, hanya sehari setelah puluhan siswa dilarikan ke RSUD Ratu Zalecha Martapura dengan gejala mual, muntah, dan sakit perut usai menyantap menu MBG berupa nasi kuning dan sayur.
Kabid Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinkes Banjar, dr Widya Wiri Utami mengatakan bahwa timnya melakukan audit dapur secara komprehensif. Termasuk mengambil sampel air dan menilai sanitasi lingkungan sekitar dapur. “Kami memeriksa kondisi sekitar dapur dan mengambil sampel air. Pemeriksaan ini sangat detail karena ada 507 indikator yang harus dipenuhi untuk menilai kelayakan sanitasi,” ujar Widya saat ditemui di Martapura.
Namun, hasil pemeriksaan belum dapat disampaikan ke publik, karena proses analisis masih berlangsung. Tim teknis membutuhkan waktu beberapa hari untuk memastikan seluruh indikator telah diperiksa secara lengkap. “Petugas masih melakukan pemeriksaan dan analisis. Mudah-mudahan hasilnya bisa keluar dalam dua sampai tiga hari ke depan,” ucapnya.
Selain audit sanitasi, Dinkes Banjar juga tengah menunggu hasil laboratorium terhadap sampel makanan, termasuk nasi kuning dan lauk yang dikonsumsi para siswa pada hari kejadian. Hasil uji laboratorium tersebut diharapkan keluar pada Senin (13/10). “Untuk hasil lab makanan, kemungkinan baru bisa diumumkan hari Senin. Kami ingin memastikan semuanya benar-benar valid sebelum disampaikan,” jelas Widya.
Keracunan Massal Menu MBG Martapura
Langkah Pemerintah :
- Dapur utama SPPG Tungkaran diberhentikan sementara
- Tim Investigasi Independen BGN dari Jakarta turun langsung ke lokasi
- Pemeriksaan meliputi sampel makanan dan air, dokumen operasional, kebersihan dapur, dan sanitasi lingkungan.
- Hasil uji dijadwalkan keluar Senin, 13 Oktober 2025
Alternatif Langkah Lanjutan :
- Dapur MBG Tungkaran bisa ditutup permanen jika ditemukan pelanggaran berat.
- Jika hanya kesalahan teknis, akan dibuka kembali setelah memenuhi syarat keamanan pangan.
- Suplai makanan sementara akan dialihkan ke dapur MBG lain di sekitar wilayah.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief