BANJARMASIN - Hanya satu malam menjadi buronan, pria berinisial AK (27) menyerahkan diri ke Mapolsek Banjarmasin Barat pada Rabu (10/9) sore.
AK diantar keluarga besarnya. AK adalah pelaku pembunuhan terhadap Misran alias Imis Tato (41), warga Gang SDN, Jalan Intan, Telaga Biru, Banjarmasin Barat.
Pelaku merupakan warga Jalan Barito Hulu, Pelambuan, Banjarmasin Barat. Usai membunuh dia kabur ke arah Banjarbaru.
Dikonfirmasi, Kapolsek Banjarmasin Barat Kompol M Noor Chaidir melalui Kanit Reskrim Iptu Indra Permadi mengatakan AK masih dalam pemeriksaan.
"Motifnya masih dalam pendalaman," ujarnya singkat.
Peristiwa berdarah ini terjadi di Gang Empat, Jalan PM Noor, Pelambuan, pada Selasa (9/9) malam sekitar pukul 22.00 Wita.
Peristiwa berdarah tersebut terekam CCTV kios di dekat situ. Dalam rekaman tampak pelaku duduk di atas sepeda motor dan didekati korban.
Pelaku lalu berdiri dan korban menaiki motornya. Dalam sekian detik, pelaku mengeluarkan pisau dari balik saku hoodie-nya dan menusuk perut korban.
Dalam kondisi terluka, korban berjalan masuk ke dalam gang. Sementara pelaku kabur.
Informasi yang dihimpun Radar Banjarmasin, diduga korban dan pelaku sama-sama dalam kondisi mabuk miras oplosan. Pembunuhan diduga dipicu korban yang meminjam paksa motor pelaku.
"Informasinya begitu, pelaku sebenarnya tidak mengenal korban. Dia meminjam dengan cara paksa, pelaku geram dan langsung menusuk korban," tutur warga sekitar.
Ayah korban, Suwarno (61) mengatakan anaknya pamit keluar rumah sekitar pukul 18.00 Wita dan biasanya nongkrong di sekitar Banjar Raya.
"Teman mengabari anak saya berkelahi dengan seseorang, terluka dan dibawa ke rumah sakit. Awalnya saya dapat informasi dibawa ke Rumah Sakit Ulin, lalu ke Rumah Sakit Bhayangkara. Tapi ternyata balik lagi ke Ulin," kata Suwarno.
Suwarno mengaku tidak tahu apa pemicu pertikaian tersebut. Ia hanya berharap pelaku segera ditangkap. "Semoga motifnya terungkap jelas," harapnya.
Ironisnya, menurut relawan emergency yang melakukan evakuasi, korban sempat ditolak dua rumah sakit karena alasan kamar rawat penuh.
"Petugas IGD Ulin menyebut kasur sedang penuh, tanpa memeriksa kondisi korban. Kami diarahkan ke rumah sakit lain," ujar Hery (27), relawan yang ikut mengantar.
Setiba di RS Bhayangkara, mereka justru kembali diminta membawa korban kembali ke RSUD Ulin karena kondisinya dinilai sangat parah.
"Baru sampai lobi, petugas mendekat dan melihat kondisi luka korban, lalu menyuruh kami kembali ke Ulin," tambah Hendra (45), rekan Hery.
Menurut Hery, saat itu korban masih hidup. Namun karena proses evakuasi yang memakan waktu, korban akhirnya mengembuskan napas terakhir di Ulin.
"Kami seperti dipingpong. Padahal korban butuh penanganan cepat. Kami kecewa dengan respons yang diberikan rumah sakit," sesalnya.
"Cerita yang saya dengar keduanya sama-sama dalam kondisi mabuk gaduk (miras oplosan). Sudah bukan rahasia lagi, kalau terjadi perkelahian pasti karena mabuk," kata Ketua RT setempat, Raudhatul Fatimah.
Ia berharap kepolisian merazia dan berpatroli di wilayah Banjar Raya.
"Sudah sangat meresahkan. Karena gaduk itu, dampaknya sangat buruk. Berselisih sedikit saja mereka berkelahi dan nyawa melayang. Jadi saya berharap sekali polisi merazia para penjualnya. Jangan diam dengan peredaran miras oplosan yang semakin merajalela," ucapnya.
Sebelum pembunuhan ini, Fatimah menceritakan, salah seorang warganya terjatuh saat berkendara dan kepalanya berdarah. "Itu gara-gara mabuk juga," ujarnya.
"Semoga Polsek Banjarmasin Barat sering-sering merazia. Sikat penjualnya," tegasnya.
Editor: Syarafuddin
Editor : Arief