BATULICIN - Hingga hari ketiga, helikopter model BK117-D3 dengan kode registrasi PK-RGH masih belum ditemukan.
Pesawat yang dioperasikan Eastindo itu hilang jejak di kawasan lembah pegunungan sekitar Air Terjun Mandin Damar, Kecamatan Mantewe, Tanah Bumbu, Senin (1/9).
Kontak terakhir helikopter tercatat beberapa menit setelah lepas landas.
Helikopter berangkat dari Bandara Kotabaru menuju Palangka Raya pukul 08.46 Wita dan dijadwalkan tiba di Bandara Tjilik Riwut pukul 10.15 Wib, dengan kontak terakhir melalui Radio VICEF Bandara Kotabaru pada pukul 08.54 Wita.
Perjalanan udara dipilih karena memangkas waktu tempuh signifikan.
Jika dibandingkan jalur darat yang memakan waktu lebih dari sepuluh jam, perjalanan dengan helikopter hanya sekira satu setengah jam.
Meski efisien, rute ini memiliki risiko tersendiri.
Jalur udara mengharuskan helikopter melintasi kawasan pegunungan sekitar Air Terjun Mandin Damar, bagian dari Pegunungan Meratus, karena merupakan jalur lurus terpendek menuju Palangka Raya.
Kondisi cuaca pun semakin menambah tantangan.
Sebab, beberapa minggu terakhir, Tanah Bumbu terus diguyur hujan, sehingga kondisi cuaca di jalur pegunungan menjadi tidak menentu.
Angin kencang, kabut tebal, dan hujan lebat dapat muncul tiba-tiba.
Selain faktor cuaca, kondisi medan juga menambah risiko penerbangan.
Wilayah Mantewe dan sekitarnya, termasuk lembah di sekitar Air Terjun Mandin Damar, memiliki topografi berbukit dengan hutan hujan tropis yang lebat.
Lapisan atas pohon-pohon hutan yang rapat menutupi hampir seluruh permukaan, sementara pohon-pohon rimbun membuat area di bawahnya gelap dan sulit ditembus, sehingga jarak pandang pilot bisa sangat terbatas.
Buruknya cuaca dan medan yang sulit ini diakui Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Basarnas Banjarmasin, I Putu Sudayana.
Operasi pencarian bahkan sempat dihentikan sementara karena kondisi tersebut.
“Cuaca masih kami pantau. Kami masih berkoordinasi, karena safety paling utama,” katanya.
Pada hari ketiga pencarian, tim pencairan memasang antena UHF repeater untuk memperkuat jaringan komunikasi di lapangan.
Langkah ini dilakukan karena lokasi pencarian berada di hutan belantara dengan medan sulit dan tanpa akses sinyal telekomunikasi.
Editor : Arif Subekti