BANJARMASIN - Penyelidikan kasus tiga pemuda yang tewas di halaman SMPN 35 Banjarmasin di Jalan Arraudhah, Kompleks Bawang Merah XI, Sungai Andai, Banjarmasin Utara, membuahkan hasil.
Satreskrim Polresta Banjarmasin telah menetapkan pelaku berinisial SL sebagai tersangka utama.
Ketiga korban diketahui berinisial MF (18) dan MR (22), mereka kaka beradik yang tinggal di Kampung Melayu. Serta teman mereka RN (17), warga Jalan Veteran.
Ketiganya tewas dengan luka tusuk akibat senjata tajam dalam insiden yang terjadi pada Ahad (29/6) dini hari.
Peristiwa berawal saat SL bersama beberapa temannya mengadakan pesta minuman keras di lokasi kejadian. Tak lama, korban MF datang dan cekcok mulut dengan SL.
Perselisihan itu berlanjut, hingga MF menghubungi kakaknya, MR. MR datang bersama temannya RN menggunakan sepeda motor. Situasi kian memanas, MF disebut sempat memukul SL hingga ia kabur.
Namun, bukannya menghindari pertikaian, SL justru kembali dengan membawa sajam. Ia menyerang dan mencabut nyawa ketiga lawannya.
"Ada dua senjata tajam yang kami amankan. Satu celurit milik korban, satu lagi pisau milik pelaku," terang Kasat Reskrim Polresta Banjarmasin Kompol Eru Alsepa.
Hasil penyelidikan, dahulu SL pernah terlibat kasus penganiayaan dan kepemilikan sajam. Hingga ia dihukum 10 bulan penjara.
"Setelah pemeriksaan lebih lanjut, SL kami tetapkan sebagai pelaku tunggal," tegas Eru.
Eru mengatakan peristiwa ini mendapat perhatian khusus Kapolresta Banjarmasin Kombes Pol Cuncun Kurniadi.
"Kami langsung membentuk tim khusus untuk menyelidiki kasus ini. Dalam waktu kurang dari 24 jam, pelaku ditangkap di rumahnya di kawasan Sakura Mahatama," ujarnya.
Meski sempat berkelit, SL akhirnya mengakui perbuatannya setelah dihadapkan pada bukti dan keterangan saksi.
Polisi masih mendalami kasus ini. "Kami menduga ada kaitan antara korban dan pelaku melalui teman-teman mereka, meskipun secara langsung mereka tidak saling mengenal," tutup Eru.
Atas perbuatannya, SL dijerat dengan Pasal 338 KUHP tentang pembunuhan, dan terancam hukuman berat.
Versi Saksi Mata
Menurut kesaksian UW, saksi mata yang juga teman korban, malam itu ia sedang berada di rumah MF ketika menerima telepon dari seorang teman.
"Dia bilang sedang nongkrong di SMPN 35 dan meminta kami datang," ujar UW, kemarin.
Merespons ajakan itu, UW dan MF berangkat ke lokasi. Setibanya di sana, ia melihat beberapa orang duduk-duduk sambil menenggak minuman keras. Suasana tampak anteng.
Di antara mereka, ada SL yang tidak dikenal UW dan MF.
Ketegangan mulai terasa ketika SL mengusulkan untuk menambah minuman dengan cara patungan. Namun, MF menceletuk, "Saya beli sendiri juga bisa."
Ucapan itu memantik emosi SL. Cekcok antara keduanya sempat terjadi, meski berhasil diredakan sementara.
"Kepada MF, SL bilang: panggil saudaramu ke sini," ujar UW.
Situasi berubah ketika MR dan RN tiba di lokasi. Masing-masing membawa sebilah arit.
Tanpa banyak bicara, MR langsung memukul SL.
Kemudian, MR kembali menyerang SL dengan senjata yang dibawanya, namun serangannya meleset.
SL yang sudah memegang pisau kemudian menusuk MR.
MR yang terluka kehilangan akal. Arit terlepas dari genggamannya. SL mengambil arit tersebut dan menyerang membabi buta.
Melihat kakaknya terkapar, MF berusaha menyerang untuk menyelamatkan, tetapi dia juga tak luput dari serangan membabi buta SL.
RN yang mencoba melawan setelah itu, juga tak mampu menghadapi SL. Dua korban, MR dan RN tewas di tempat.
Sementara MF yang sempat dievakuasi ke Rumah Sakit Ansari Saleh mengembuskan napas terakhirnya di perjalanan.
Masyarakat Resah
Perkelahian berdarah di SMPN 35 Banjarmasin menjadi perbincangan hangat. Kejadian yang merenggut tiga nyawa ini tidak hanya menyisakan duka, tetapi juga kekhawatiran bagi masyarakat sekitar.
Yusriansyah, salah seorang warga, mengaku mendengar suara keributan pada Sabtu (29/6) sekitar pukul 02.00 Wia. Ia sempat melihat sekelompok remaja tak dikenal melintas mengendarai sepeda motor.
"Biasanya, tiap malam Minggu, kawasan SMPN 35 memang sering jadi tempat tongkrongan anak-anak muda. Tapi kami, warga di sini sering resah karena mereka mabuk-mabukan dan membawa senjata tajam," ujar Yusriansyah.
Ia berharap pihak kepolisian rutin berpatroli untuk mencegah kejadian serupa terulang.
Sedangkan ketua RT setempat, Erwan memastikan baik korban maupun pelaku bukanlah warga setempat. "Saya pastikan mereka bukan warga Bawang Merah. Kendati kejadiannya di depan SMPN 35," ucapnya.
Evaluasi Keamanan Lingkungan Sekolah
DINAS Pendidikan Kota Banjarmasin bakal mengevaluasi pengamanan lingkungan sekolah, khususnya di malam hari.
"Yang jelas, dalam kasus ini kami melihat sekolah dijadikan tempat aktivitas yang tidak semestinya pada malam hari. Ini tentu menjadi keprihatinan kita," kata Plt Kadisdik Banjarmasin, Ryan Utama yang ditemui usai rapat paripurna di gedung DPRD, Senin (30/6).
Dalam kasus SMPN 35 Banjarmasin, ia mengakui penjagaan sekolah masih belum memadai.
"Saya sudah meminta kepala sekolah untuk segera merekrut penjaga sekolah. Tak hanya SMPN 35, tetapi juga bagi sekolah lain. Mereka harus mulai memikirkan masalah keamanan," tegasnya.
Dia juga menyebut banyak sekolah di Banjarmasin yang belum memiliki pagar sehingga mudah dimasuki orang luar.
"Kami sudah mengusulkan anggaran pengadaan pagar sekolah pada tahun ini. Tapi setiap sekolah punya masalah infrastruktur yang berbeda. Ada yang kekurangan ruang kelas, toilet, hingga UKS," tambahnya.
Untuk honor penjaga sekolah, lanjutnya, boleh diambil dari dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
Terakhir, Ryan mengingatkan pengawasan lingkungan sekolah pada malam hari tetap menjadi tanggung jawab utama sekolah.
"Kejadian ini menjadi pelajaran penting. Jangan sampai sekolah yang harusnya menjadi tempat aman bagi anak-anak, justru menjadi lokasi kejadian yang tak diinginkan," tutup Kadisdik.
Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Kota Banjarmasin, Muhammad Isnaini angkat bicara. “Ini sangat disayangkan, apalagi kejadiannya di lingkungan sekolah,” ucap Isnaini, kemarin.
Menurut legislator dari Partai Gerindra ini, pemko juga harus menjamin keamanan lingkungan sekolah. Bukan hanya mengurusi fasilitas belajar dan mengajarnya.
"Ini menjadi tanggung jawab Dinas Pendidikan," ujarnya.
Ia meminta Disdik melakukan evaluasi menyeluruh. “Kalau memang kurang, dewan siap mendukung. Apalagi ini menyangkut keselamatan anak-anak dan citra dunia pendidikan kita," katanya.
Isnaini berjanji akan akan membawa persoalan ini ke pembahasan APBD Perubahan mendatang. "Nanti kita minta paparan dari dinas dan pihak sekolah. Jangan sampai kejadian seperti ini terulang. Ini mencoreng wajah pendidikan kita," tegasnya.
Terakhir, Isnaini berharap proses hukum terhadap para pelaku bisa berjalan cepat dan tuntas.
Editor: Syarafuddin
Editor : Arief