Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Tidak Benar-Benar Sendirian, Bocah Perempuan Diduga Korban Penyekapan Sebut Nama Yoga

Maulana Radar Banjarmasin • Jumat, 20 Juni 2025 | 09:51 WIB
Ilustrasi penyekapan
Ilustrasi penyekapan

BANJARMASIN - Bocah perempuan berinisial A berumur 5 tahun ini diduga disekap ayahnya di sebuah rumah kosong.

Rumah itu berada di Banjarmasin Barat. Terletak di kompleks perumahan. Kondisinya buruk, dan baru saja dijual pemilik lama.

Keberadaan korban terungkap oleh pemilik baru yang datang untuk mengecek kondisi rumah tersebut.

Pantauan Radar Banjarmasin kemarin (19/6), sebagian bangunan rumah mulai dibongkar untuk direnovasi.

Anak pembeli rumah, NS bercerita, ketika ibunya mendatangi rumah tersebut sekitar pukul 17.30 Wita, di sana ditemukan A.

"Mama bertanya kamu anak siapa? Mana orang tua kamu? Dia bilang ayahnya pergi ke Sampit, Kalimantan Tengah," cerita NS.

Si anak kemudian ditanya lagi, apakah ia sendirian di rumah. A menjawab bahwa sebelumnya ia bersama seseorang bernama Yoga, yang baru saja meninggalkan tempat itu.

Belakangan diketahui kalau Yoga adalah kerabat dari mama tiri (istri ayah kandung A).

"Cerita bapaknya, Yoga itu keluarga istrinya. Selama dia pergi ke Sampit, si anak ditinggal bersama Yoga," ujar NS.

Namun ketika ditemukan A dalam kondisi lemas, kotor, dan kelaparan. Mendapati itu, si pembeli rumah iba dan buru-buru melapor ke ketua rukun tetangga (RT) setempat.

Ketua RT menyarankan agar A dibawa ke rumah ibu NS untuk sementara waktu. A lalu dimandikan, pakaiannya diganti, diberi makanan dan diinapkan selama satu malam.

"Dia tidur bersama saya," kata NS.

Keesokan harinya, seorang pria terlihat kebingungan mencari anaknya di sekitar rumah.

Ayah NS pun bertanya kepada pengemudi mobil. "Ayah saya tanya, ‘Sedang mencari anak, Pak?' Orang itu mengiyakan," tuturnya.

Pria yang kebingungan itu adalah R, ayah kandung A. Setelah mengetahui keberadaan A, R pun membawa pulang anaknya.

Namun, penemuan dan cerita A terlanjur viral di media sosial. Mencuat dugaan penyekapan dan penganiayaan terhadap A.

Saat ini, A bersama ibu kandungnya, S. Kala S dan R berpisah, umur A belum genap dua tahun.

Hari Ini Pemeriksaan Saksi

Hampir sepekan sejak ibu korban melapor, kasus ini masih dalam tahap penyelidikan.

Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polresta Banjarmasin, Ipda Partogi Hutahean mengatakan proses pemeriksaan saksi-saksi tengah berlangsung.

"Besok (hari ini) kita jadwalkan pemeriksaan sejumlah saksi," ujar Partogi mewakili Kasat Reskrim AKP Eru Alsepa, kemarin.

Diberitakan sebelumnya, Kepala UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Banjarmasin, Susan memastikan korban dalam kondisi aman.

"Visum sudah dilakukan, dan memang benar ditemukan tanda-tanda kekerasan," ujar Susan, Selasa (17/6).

"Saat ini, anak tersebut berada dalam pengasuhan ibu kandungnya. Meskipun cenderung pendiam, kondisi fisik dan emosionalnya secara umum baik-baik saja," tutup Susan.

Buah dari Keluarga Berantakan

DALAM kurun waktu sepekan, terungkap dua kasus kekerasan terhadap anak. Kedua kasus itu punya kesamaan, pelaku adalah orang terdekat.

Kasus pertama mencuat di Banjarmasin Barat, ketika seorang bocah diduga disekap ayah kandungnya sendiri.

Kasus kedua, tak kalah tragis, terjadi di Banjarmasin Selatan. Seorang ayah tega memperkosa putrinya yang baru berumur 12 tahun.

Kedua kasus itu sama-sama terjadi di tengah keluarga yang mengalami perceraian. 

Antropolog dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Nasrullah, menyoroti persoalan mendasar, yakni keluarga inti yang mengalami kehancuran akibat perceraian.

"Anak yang menjadi korban perceraian sering kali mengalami trauma psikologis. Mereka kerap merasa iri dengan teman sebaya yang memiliki keluarga utuh," ujarnya, Kamis (19/6).

Trauma ini diperburuk oleh perlakuan tidak manusiawi dari orang tua yang seharusnya menjadi pelindung mereka.

Pada kasus kedua, Nasrullah menyoroti pelanggaran serius terhadap norma budaya dan agama, yaitu larangan hubungan sedarah (incest).

"Dalam kebudayaan mana pun, incest taboo dianggap sebagai pelanggaran berat. Masyarakat di masa lalu bahkan mengucilkan pelaku inses karena diyakini dapat mendatangkan bala bagi lingkungan," tambahnya.

Sementara itu, kasus penyekapan anak mengarah pada fenomena "domestic confinement", di mana rumah yang seharusnya menjadi tempat aman bagi anak, berubah menjadi penjara yang memisahkan mereka dari dunia luar.

Isolasi sosial dalam jangka panjang dapat mengakibatkan kesulitan komunikasi dan keterasingan.

Ia juga melihat dominasi patriarki dalam keluarga yang melampaui batas kemanusiaan. "Kedua kasus ini terjadi di balik tirai hubungan orang tua dan anak. Bangunan fisik rumah sering kali menjadi pembatas yang menghalangi kontrol sosial antar tetangga," jelasnya.

Perbuatan keji ini menggarisbawahi urgensi perlindungan anak yang lebih kuat.

Trauma Jangka Panjang

Ketua Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Kalimantan Selatan, Melinda Bahri mengingatkan kekerasan seksual pada anak bisa terjadi kapan saja dan di mana saja, seringkali melibatkan pelaku yang melakukan evaluasi terhadap situasi sebelum melancarkan aksi.

"Anak-anak mudah menjadi korban karena sifat mereka yang rentan dimanipulasi. Stereotipe bahwa anak adalah figur lemah dan tidak berdaya membuat mereka menjadi sasaran empuk," terangnya, Kamis (19/6).

Melinda memaparkan sejumlah faktor yang mendukung terjadinya kekerasan seksual pada anak.

Dari sisi psikologis, pelaku memiliki gangguan kepribadian, masalah kontrol impuls, atau gangguan mental lain yang mendorong mereka melakukan tindakan keji tersebut. Di sisi lain, faktor lingkungan juga berkontribusi, terutama jika anak hidup di lingkungan yang tidak stabil, penuh kekerasan, atau terpapar kekerasan seksual.

Dinamika sosial turut memengaruhi, seperti minimnya pendidikan tentang kesehatan seksual, norma sosial yang tidak mendukung perlindungan anak, hingga akses mudah ke konten pornografi.

Tidak kalah penting, situasi di dalam keluarga sering menjadi akar masalah. Kurangnya pengawasan, hubungan yang tidak harmonis antara orang tua dan anak, atau dinamika keluarga yang tidak sehat dapat membuka peluang bagi pelaku untuk bertindak.

Selain itu, meski tidak selalu, tingkat pendidikan dan ekonomi keluarga juga menjadi faktor tambahan. "Ada kasus di mana pelaku berasal dari keluarga dengan pendidikan dan ekonomi yang baik. Namun, rendahnya tingkat pendidikan dan ekonomi memang dapat menjadi faktor risiko tambahan," jelasnya.

Kekerasan seksual kerap meninggalkan dampak psikologis yang mendalam dan kompleks.

Anak-anak yang menjadi korban sering menghadapi berbagai masalah emosional dan mental yang dapat memengaruhi perkembangan mereka dalam jangka panjang.

Gangguan kecemasan dan stres sering muncul pada korban. Mereka mungkin mengalami kecemasan berlebihan, serangan panik, atau bahkan stres post-traumatik. Trauma ini membuat mereka merasa terus-menerus waspada dan tidak aman, bahkan di tempat yang seharusnya melindungi mereka.

Kemudian, banyak korban mengalami depresi yang ditandai dengan perasaan sedih, putus asa, dan hilangnya minat terhadap aktivitas yang dulu mereka nikmati.

Anak-anak korban kekerasan ini juga sering kesulitan tidur, mengalami mimpi buruk yang berulang, atau bahkan insomnia yang menguras energi dan menghambat fungsi harian mereka.

Di sisi lain, pemaknaan diri mereka juga terganggu. Banyak korban merasa tidak berharga, diliputi rasa bersalah, atau dihantui rasa malu atas apa yang telah menimpa mereka.

Dalam banyak kasus, anak-anak korban kekerasan seksual menunjukkan perilaku maladaptif.

Beberapa mungkin menjadi agresif, menarik diri dari lingkungan sosial, atau menampilkan perilaku seksual yang tidak sesuai dengan usia mereka.

Gangguan memori dan konsentrasi juga kerap terjadi, membuat mereka kesulitan mengingat hal-hal penting atau fokus pada kegiatan sehari-hari.

Tidak jarang, korban mengalami ketergantungan pada zat atau perilaku adiktif sebagai pelarian dari rasa sakit yang mereka rasakan.

Selain itu, proses mereka dalam mengembangkan identitas diri yang sehat sering kali terhambat, membuat mereka merasa terputus dari diri mereka sendiri dan dunia di sekitar mereka.

Pemahaman mendalam terhadap dampak psikologis ini penting untuk membantu anak-anak korban kekerasan seksual pulih dari trauma. Dengan dukungan yang tepat, mereka dapat menemukan jalan menuju pemulihan dan menjalani hidup yang lebih baik di masa depan.

Maka, peran keluarga dinilai sangat penting dalam membantu anak-anak pulih dari pengalaman traumatis ini.

Saran Melinda, keluarga memberikan pengetahuan kepada anak-anak tentang cara melindungi diri dari kekerasan seksual. "Orang tua perlu mengajari anak untuk terbuka dalam menceritakan pengalaman mereka, baik yang menyenangkan maupun tidak. Memberikan penghargaan kepada anak setiap kali mereka mau berbicara dengan orang tua juga dapat membantu membangun kepercayaan dan komunikasi yang lebih baik," tutupnya.

Editor: Syarafuddin

Editor : Arief
#Anak #KDRT #banjarmasin #penyekapan