BANJARMASIN – Kasus perundungan yang menimpa siswa kelas 5 SD Islam Terpadu Ukhuwah pada Februari 2025, dianggap lantaran kurangnya pengawasan guru.
"Kalau sampai ada anak yang menjadi bahan bullying di sekolah, itu berarti guru-gurunya kurang memantau," kata Plt Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Banjarmasin, Ahmad Baihaqi, Selasa (4/3).
Menurut dia, seharusnya pihak sekolah bergerak cepat setelah mengetahui masalahnya. Jangan keburu dilaporkan ke kantor polisi baru bertindak.
"Masalah tersebut sampai ke kepolisian, mungkin lantaran pihak sekolah tidak merespons, makanya orang tua siswa akhirnya melapor," ujarnya.
Baihaqi menyayangkan masih terjadi perundungan di lingkungan sekolah. Dia pun mengingatkan para kepala sekolah dan guru terkait komitmen menciptakan lingkungan sekolah ramah anak.
Dia meminta sekolah untuk memperhatikan pendidikan akhlak siswa.
"Pendidikan moral anak didik perlu diperhatikan lebih serius," pesan Baihaqi.
Diberitakan sebelumnya, ayah korban, Reza Febiardi (39) mendapati anaknya pulang ke rumah dengan tubuh penuh lebam.
Setelah melihat rekaman CCTV sekolah, ternyata terlihat sejumlah siswa menganiaya anaknya dengan dipukul, ditendang, dipiting, dan dibanting.
Para pelaku hanya diskorsing lima hari, membuat orang tua korban kecewa dan akhirnya melapor ke polisi.
Editor: Syarafuddin
Editor : Arief