Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Ada Dugaan Pelecehan Santri di Kab Banjar, Kemenag: Itu Bukan Pondok Pesantren, Izinnya Juga Sudah Kedaluarsa

M Fadlan Zakiri • Rabu, 15 Januari 2025 | 11:53 WIB

 

Ilustrasi pelecehan seksual terhadap santri
Ilustrasi pelecehan seksual terhadap santri

MARTAPURA – Dunia pendidikan sedang dihebohkan dengan kabar dugaan kekerasan seksual di lingkungan pondok pesantren di Kabupaten Banjar. Isu tersebut mencuat seiring beredarnya kabar tentang seorang oknum pimpinan pondok pesantren di Kabupaten Banjar, yang tega melecehkan santrinya sendiri.

Diduga si oknum tersebut memanfaatkan posisinya sebagai pimpinan pondok untuk menyodomi sejumlah anak didiknya. Perilaku tidak senonoh itu terungkap dalam sebuah foto tangkapan layar yang berisi obrolan antara si oknum pimpinan pondok pesantren dengan salah satu santrinya di chatting WhatsApp.

Di sana, ia meminta agar santri tersebut bisa melayaninya sebanyak tiga kali dalam seminggu. Hal ini juga dilakukannya terhadap dua santri lain secara bergiliran dengan imbalan uang sebesar Rp100 ribu.

Informasi terakhir, seluruh aktivitas di pondok pesantren tersebut juga sudah dihentikan. Benar saja saat awak media mendatangi ke lokasi pada Selasa (14/1/), lingkungan pondok pesantren tersebut tampak sepi. Seluruh pintu pun terkunci rapat, termasuk ruang Pos Jaga di depan lobi ponpes.

Sempat terlihat salah satu pengurus ponpes yang keluar masuk di bagian samping ponpes. Namun, saat ditanya mengenai isu yang beredar, si pengurus tersebut enggan memberikan komentar. "Saya mau makan dulu, permisi," ucapnya singkat sambil berlalu meninggalkan awak media.

Ketua RT setempat, Arifin mengatakan bahwa kejadian ini sangat membuat warga sekitar pondok kaget. Arifin menyebut sosok oknum pimpinan sekaligus guru di pondok pesantren yang diduga melakukan pelecehan seksual itu dikenal baik.

"Apalagi di ponpes ini setiap Selasa rutin mengadakan pengajian. Makanya saya dan warga cukup kaget adanya kasus ini," jelas dia.

Kendati demikian, ia mengaku tidak mengetahui bagaimana kasus pelecehan seksual terhadap santrinya itu bisa sampai terjadi.

”Untuk kronologi, jumlah korban dan detil kasusnya saya tidak begitu tahu. Karena ponpes lingkungannya cukup tertutup," ungkapnya.

Berdasarkan informasi di lapangan, terduga pelaku berinisial MR sudah menyerahkan diri ke Polres Banjar pada Senin (13/1/2025) malam kemarin. Adapun korban jumlahnya banyak. Ada yang menyebut belasan, ada pula yang menyebut puluhan.

Hingga siang kemarin, status terduga pelaku masih sebagai saksi. Penyidik Polres Banjar tengah menyelidiki kasus ini dengan memanggil para saksi.

Kasi Humas Polres Banjar, AKP Suwarji saat dikonfirmasi belum dapat memberikan keterangan. "Nanti kami kabari bila sudah siap dipublikasikan," ujarnya, Selasa (14/1).

Pantauan di lokasi, pesantren tersebut sudah sunyi dari segala aktivitas. Pintu-pintu terkunci. Tak ada terlihat penjaga seorang pun.

Fendi yang rumahnya selempar batu dari pesantren tersebut mengakui adanya isu tidak sedap terhadap MR, pimpinan pesantren itu.

"Sudah sejak Sabtu (11/1) tadi, santrinya dibubarkan oleh pengawas. Ya gara-gara adanya isu itu. Awalnya saya tidak tahu isu itu, namun tiba-tiba bubar dan isunya menyebar," ungkap pria paruh baya ini.

Menurutnya, pesantren itu cukup berkembang dengan santri dan santriwatinya berjumlah ratusan. Pesantren itu sudah dibangun sejak 2013 dan mulai berfungsi tahun 2015.

Ia mengatakan, sang pimpinan pesantren merupakan pendatang. Ia sendiri tidak akrab, lantaran jarang bersosialisasi dengan warga sekitar. "Agak tertutup dengan tetangga. Pas ada kematian saja tidak ada turun hadir melayat," tuturnya.

Di sisi lain, MR cukup dekat dengan ulama-ulama di Martapura. Tak jarang pada kegiatan-kegiatan keagamaan hadir di barisan depan, sejajar dengan para ulama lainnya.

Salah satu santri di pesantren tersebut, AH (21) mengatakan para santri sudah bubar pulang ke rumah masing-masing pada Sabtu (11/1) lalu, menyusul adanya isu tersebut. "Kami semua disuruh pulang, karena adanya isu itu," ungkap AH yang kini sudah tidak mau lagi kembali ke pesantrennya itu.

Ia menjelaskan, kelakuan pimpinan pesantrennya itu sudah jadi bahan perbincangan di kalangan santri sejak sebulan lalu. "Yang jadi korban santri yang berasal dari daerah jauh," ungkapnya berdasar cerita temannya yang jadi korban.

Ia menceritakan, terduga pelaku melakukan aksinya di dalam kamarnya. Modusnya, minta dipijit, lalu menawarkan ritual pembersihan nahas atau membuang sial. Setelah itu aksi tidak senonoh terjadi.

"Santri yang jadi korban dapat kenyamanan (privilege) di dalam pondok meskipun melanggar aturan. Banyak yang memilih berhenti sekolah juga setelah jadi korban," tuturnya.

Kepala Seksi Pendidikan Diniyah & Pondok Pesantren Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banjar, H Akmad Shaufie turut menyayangkan adanya kabar tersebut. Shaufie bilang bahwa pesantren tersebut sudah habis izin operasional sejak 2020 silam, dan tidak ada lagi diperpanjang oleh pengurusnya.

Ia menjelaskan meski diklaim sebagai pondok pesantren dan santrinya menginap di sana, namun tidak termasuk kategori ponpes. Melainkan madrasah diniyah takmiliyah, yaitu sekolah tambahan sore.

"Kami kemarin sudah mendatangi ke sana, tapi tidak dapat informasi apa-apa karena sudah tutup, santrinya bubar. Sehingga kami tidak mendapat informasi yang detail," tutur Shaufie.

Ia mengungkapkan, berdasarkan pengawasan pihaknya selama ini, pesantren tersebut tidak ditemukan mengajarkan hal-hal yang menyimpang.

"Kami sangat menyayangkan adanya kabar seperti ini. Biasanya kami dapat memberi sanksi mencabut izin operasionalnya. Tapi karena izinnya sudah habis, jadi tidak ada lagi yang dicabut. Semoga hal seperti ini tidak ada lagi terjadi ke depannya di Kabupaten Banjar," tutupnya.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#Pesantren #Banjar #pelecehan #Pendidikan #Kemenag #santri #Kejahatan Seksual