BANJARMASIN – Dalam sehari, Jumat (27/12), Kota Banjarmasin tiga kali diamuk kebakaran.
Insiden pertama terjadi di Gang Nuruddin, Jalan Ir PHM Noor, Pelambuan, Banjarmasin Barat, sekitar pukul 1 dini hari.
Api melahap 23 rumah, membuat 24 kepala keluarga atau 67 jiwa kehilangan tempat tinggal.
Relawan damkar kesulitan mencapai titik api, sebab harus melewati titian yang lebarnya hanya 1 meter.
Peristiwa kedua terjadi di kawasan pabrik plywood di Jalan Gubernur Soebardjo, Basirih, Banjarmasin Barat, sekitar pukul 13.00 Wita.
Beruntung kebakaran berhasil dipadamkan sebelum membesar.
Dua jam berselang, terjadi di Kompleks Air Mantan, Jalan Yos Sudarso, Telaga Biru, Banjarmasin Barat.
Kebakaran bermula dari sebuah bengkel las yang kosong dan merambat ke tiga rumah warga di sampingnya.
Kebakaran masih menjadi momok bagi Kota Seribu Sungai. Berdasarkan data Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Banjarmasin, 134 kebakaran terjadi di sepanjang tahun 2024.
Dari ratusan kejadian tersebut, jatuh 7 korban jiwa.
Jumlah insiden memang menurun jika dibandingkan dengan tahun 2023 yang mencatat 190 kebakaran.
Namun angka itu masih cukup tinggi bila dibandingkan dengan 2022, yang "hanya" 106 kebakaran.
Kepala Disdamkarmat Banjarmasin, Hendro mengungkap korsleting dan kelalaian masih menjadi faktor nomor satu kebakaran. "Misalnya, lupa mencabut stop kontak saat meninggalkan rumah," katanya.
Selain itu, banyak instalasi listrik di rumah-rumah warga yang sudah tidak sesuai standar.
"Padahal instalasi listrik idealnya diperiksa ulang jika sudah berumur lebih dari 5 tahun untuk memastikan keamanannya," ujarnya.
Faktor tata ruang kota yang semrawut juga berkontribusi. Banyaknya rumah yang dibangun dempet-dempetan meningkatkan risiko kerusakan.
"Dampak kebakaran lebih parah karena banyak rumah saling berhimpitan," bebernya.
Ditanya apa upaya pencegahan dari pemerintah, ia menjawab edukasi ke masyarakat.
Hingga akhir tahun 2024, pihaknya telah menggelar sosialisasi di 35 dari 52 kelurahan di Banjarmasin.
Kemudian, seluruh SMA di kota ini juga telah dikunjungi untuk memberikan pemahaman kepada siswa mengenai pencegahan kebakaran.
Hendro menekankan, penting di setiap rumah memiliki alat tabung pemadam api ringan (apar).
"Setiap rumah idealnya memiliki satu apar. Jika tidak memungkinkan, setidaknya setiap RT memiliki 5 apar yang bisa digunakan bersama," ujarnya.
Mengapa bukan pemko yang membelikan? Hendro mengatakan mestinya pengadaannya di kelurahan. Dalihnya, dinasnya tidak memiliki alokasi anggaran untuk itu.
"Kelurahan kan memiliki dana untuk itu. Tapi perlu diingat, anggaran pemko juga terbatas," tutupnya.
Senada dengan Kepala Bidang Pencegahan Disdamkarmat Banjarmasin, Marliansyah. Menurutnya, edukasi harus terus digencarkan. Karena menurutnya masih banyak masyarakat yang cuek pada pentingnya keamanan instalasi listrik.
Kualitas, Bukan Kuantitas
Pengamat tata kota dari Universitas Lambung Mangkurat, Akbar Rahman menilai perlu langkah strategis dan terarah untuk menjadikan kota ini lebih aman dari ancaman kebakaran.
"Selama ini belum terlihat adanya roadmap yang jelas dalam penanganan kebakaran," ujar Akbar, kemarin.
Dia menyarankan pemko menyusun roadmap yang jelas untuk penanganan kebakaran jangka pendek, menengah, dan jangka panjang.
Akbar menekankan pentingnya pembenahan aspek nonfisik. Sebab kewaspadaan masyarakat adalah kuncinya.
"Jika masyarakat memiliki tingkat kewaspadaan yang tinggi, risiko kebakaran bisa diminimalkan," ujarnya.
"Penting agar masyarakat punya pengetahuan dasar, supaya bisa bertindak cepat ketika kebakaran terjadi," tambahnya.
Selama ini, Akbar mengaku belum melihat upaya sosialisasi yang masif dari pemerintah.
Akbar juga menyoroti tantangan di gang-gang sempit dan permukiman padat. Yang kerap menghambat relawan damkar.
"Relawan sulit menjangkau lokasi dengan cepat, hingga api membesar dan semakin sulit dikendalikan," jelasnya.
Terakhir, Akbar meminta peningkatan kompetensi relawan damkar. Intinya kualitas, jangan membanggakan kuantitas melulu.
Ia mengusulkan adanya pelatihan khusus agar para relawan memiliki keterampilan yang lebih baik dan memenuhi standar.
"Pemadaman kebakaran tidak bisa dilakukan sembarangan. Relawan harus dilatih dan dibekali peralatan yang memadai," tegasnya.
Ia hakulyakin, dengan roadmap yang jelas dan eksekusi yang konsisten, Banjarmasin dapat menjadi kota yang lebih aman dari ancaman kebakaran di masa depan.
"Pemerintah tidak boleh melihat kebakaran sebagai hal biasa, apalagi jika terjadi terus-menerus. Ini harus menjadi prioritas serius," tutupnya.
Editor: Syarafuddin
Editor : Arief