BANJARMASIN – Ribuan ikan bawal yang dibudidayakan dalam jaring apung (keramba) di sepanjang Sungai Martapura, Kelurahan Banua Anyar, Kecamatan Banjarmasin Timur, Kota Banjarmasin, ditemukan mati, Jumat (13/12).
Kejadian yang terjadi secara tiba-tiba ini menimpa tujuh kelompok tani di kawasan tersebut.
Salah satu pembudidaya, Salamiah mengatakan, kematian ikan ini dimulai pada Jumat sore. Ia menduga karena perubahan kualitas air.
Salamiah pun merugi hingga puluhan juta rupiah. Sebab, ikan yang biasanya dijual Rp20-22 ribu per kilogram, hanya laku Rp3-5 ribu per kilogram untuk dijadikan bahan olahan pakan ikan.
"Hari ini sudah ada satu ton yang kami angkat, dan masih banyak lagi yang mati. Padahal sebentar lagi mau panen. Mungkin kerugian mencapai Rp60 juta," keluh Salamiah, Sabtu (14/12/2024).
Koordinator Penyuluh Perikanan Kota Banjarmasin, Roslina menjelaskan kejadian ini tidak disadari para pembudidaya. Karena tidak ada tanda-tanda awal seperti perubahan warna air atau perilaku ikan yang tidak mau makan.
"Biasanya masa kritis air sungai sudah berlalu, tapi kali ini kejadian terjadi begitu saja. Teman-teman pembudidaya juga tidak sempat mengantisipasinya," kata Roslina.
Ia mengungkapkan, kejadian serupa pernah terjadi tiga tahun lalu dan hanya berdampak pada ikan jenis bawal. Sementara ikan patin atau toman masih bertahan dan tidak terpengaruh.
Untuk mengurangi potensi kerugian lebih besar, Roslina mengatakan langkah yang diambil adalah mempercepat panen ikan yang masih layak konsumsi.
Bersama dinas terkait, pihaknya juga akan memeriksa kualitas air untuk mengetahui penyebab pasti dari kematian ikan-ikan tersebut.
"Kita arahkan pembudidaya untuk segera panen lebih awal. Kita tidak tahu sampai kapan kondisi ini akan berlangsung," ujarnya.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Banjarmasin, Yuliansyah Effendi mengatakan kematian ikan ini terjadi berulang hampir saban tahun.
"Tidak hanya di Banjarmasin, tahun ini di Tanah Laut dan Banjar juga terjadi kematian ikan mendadak," ujarnya.
Catatan Radar Banjarmasin, kejadian serupa juga sempat terjadi di Banua Anyar pada awal Oktober 2019.
"Mungkin karena faktor perubahan cuaca, membuat kualitas air berubah. Namun untuk lebih pastinya, kami bersama Dinas Lingkungan Hidup Kalimantan Selatan akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut," pikirnya.
Sebagai bentuk perhatian bagi para pembudidaya, kata dia, Dinas Kelautan dan Perikanan Kalimantan Selatan akan membantu memberikan bibit ikan untuk dibudidaya pada tahun mendatang.
"Nanti para pembudidaya bisa mengusulkan bantuan," tutupnya.
Editor : Muhammad Syarafuddin