BANJARMASIN – Setelah tiga bulan kerap timbul di permukaan sungai Pemurus, tepatnya di Gang Bina Bersama, Banjarmasin Selatan, akhirnya buaya dapat ditangkap menggunakan perangkap, Sabtu (30/11/2024).
Reptil tersebut ternyata masih anak. Berukuran 1 meter dan berat 6,47 kg.
Tim Animal Rescue Banjarmasin, Andy menceritakan perangkap kembali dipasang setelah mendapatkan informasi kemunculan hewan tersebut. "Tiga bulan kami memantau, Alhamdulillah, tim berhasil menangkap menggunakan jerat pancing," ungkap Andy dikonfirmasi, Minggu (1/12).
Kendati demikian, warga sekitar diminta jangan begitu saja merasa aman. Induknya diperkirakan masih berkeliaran di sungai tersebut.
"Berdasarkan hasil pemantauan kami, tidak hanya satu ekor saja. Diduga masih ada dua ekor buaya dan ukurannya besar," bebernya. "Tetapi Animal Rescue akan terus memantau kawasan tersebut," sambung Andy.
Buaya yang berhasil ditangkap itu diketahui spesialis air tawar, jenis Siamensis. "Kondisinya sehat. Sebelum dievakuasi ke rehabilitasi buaya air tawar Kebun Binatang Mini (KBM) Jahri Saleh, kami pastikan kondisinya ke dokter hewan untuk pemeriksaan lebih lanjut," bebernya.
Selama kurang lebih tiga bulan ini, kata Andy, tidak hanya Tim Animal Rescue saja yang bekerja. Namun, juga melibatkan tim Ditpolairud Polda Kalsel dan Satpolairud Polresta Banjarmasin serta Polsek Banjarmasin Selatan.
Warga sekitar, Helda dan Lia mengaku selama kurun waktu tiga bulan ini tidak berani sama sekali melakukan aktivitas di sungai. Padahal rumahnya persis berada di tepi sungai Pemurus. "Selama melihat ada buaya timbul, kami tidak berani lagi beraktivitas di belakang rumah. Takut disambarnya," ucap mereka berdua.
Anak-anak pun tak berani main di sungai sambil berenang. "Apalagi ini masih ada dua ekor, kami masih merasa waswas. Semoga saja induknya dapat ditangkap," kata kedua ibu rumah tangga ini.
Buaya itu sesekali memang muncul, apalagi saat hari panas.
"Pernah melihat. Ukurannya yang kecil ditangkap itu. Munculnya sekitar jam 1 siang hingga sore. Pokoknya kalau harinya terik, dia berjemur," sebutnya.
Dokter hewan, Annang Dwijatmiko menduga buaya-buaya ini dari wilayah lain yang berpindah ke Sungai Pemurus. "Buaya liar yang bermigrasi. Kemungkinan dari muara Banjar," katanya, pada Minggu (1/12).
Staf Bagian Konservasi Keanekaragaman Hayati BKSDA Kalsel, Jarot Jaka Mulyono juga menjelaskan buaya ini kemungkinan besar bermigrasi dari sungai lain yang masih terhubung.
"Buaya mengikuti aliran air dan makanan yang tersedia, sehingga bisa berpindah ke sungai lain," katanya.
Meskipun buaya relatif adaptif, faktor makanan dan kompetisi antar individu bisa membuat mereka mencari tempat yang lebih nyaman. "Buaya tetap ada di sungai-sungai yang memiliki makanan cukup dan sedikit kompetisi," ujarnya.
Aktivis Walhi Kalsel, Rudy Fahrianoor yakin migrasi kawanan buaya ke Sungai Pemurus disebabkan terganggunya habitat mereka. "Bisa jadi karena makanannya berkurang, ditambah terganggu karena aktivitas lalu-lalang tongkang, sehingga membuat mereka berpindah," jelasnya.
Walhi pun meminta pemerintah untuk turun tangan memeriksa, apakah ada habitat satwa yang terganggu dan segera melakukan rehabilitasi guna mencegah semakin banyaknya satwa liar masuk ke permukiman dan membahayakan warga.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief