BANJARBARU - Setelah dilakukan pencarian selama kurang lebih 12 jam, Tim SAR Gabungan akhirnya berhasil menemukan jasad M Yusuf. Pria berusia 56 tahun ini jadi korban dalam insiden longsor yang terjadi di salah satu titik pendulangan intan tradisional Desa Pumpung, Kecamatan Cempaka, Kota Banjarbaru pada Rabu (30/10) siang.
Jasadnya baru bisa ditemukan setelah Tim SAR Gabungan melakukan penggalian titik longsor pada kedalamannya 10 meter.
“Rabu malam, sekitar pukul 23.57 Wita, kami baru bisa menemukan tubuh korban di sebelah selatan lubang pendulangan. Korban ditemukan dalam posisi telungkup di dalam timbunan tanah longsor,” ungkap Kapolsek Cempaka, Iptu Ketut Sedemen saat dikonfirmasi, Kamis (31/10) sore.
Lambannya proses pencarian ini, ungkap Ketut, karena pengaruh cuaca yang membuat tanah di sekitar lokasi kejadian labil. “Permukaan lubang tambang sempat dua kali longsor gara-gara hujan,” ujarnya.
Usai berhasil ditemukan, jasad Yusuf langsung dibawa ke rumah duka di Desa Pumpung RT 24 Kelurahan Sungai Tiung, Kecamatan Cempaka untuk disemayamkan. “Hasil koordinasi dengan pihak keluarga, jenazah korban sudah dimakamkan pada Kamis pagi,” ungkap kapolsek.
Peristiwa ini meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban. Dalam kejadian ini, Yusuf sebenarnya hanya menggantikan anaknya yang merantau ke Batulicin. Saat peristiwa terjadi merupakan hari pertama korban bekerja di pendulangan intan.
Mengetahui sang ayah tertimbun longsor, sang anak segera pulang menuju Banjarbaru. Tiba pada Rabu (30/20) sore, ia langsung menuju lokasi pendulangan yang tak jauh dari rumahnya untuk mencari sang ayah hingga ditemukan.
Diketahui sebelumnya, peristiwa terakhir serupa terjadi pada tahun 2019 lalu. Ketika itu menimbulkan 4 korban jiwa.
Pihak kepolisian sudah menyatakan aktivitas tambang intan tradisional adalah aktivitas ilegal yang dapat membahayakan pekerjanya. Ketut meminta masyarakat yang berprofesi sebagai pendulang intan tradisional untuk lebih waspada terhadap potensi bencana alam di sekitar lokasi.
“Kami mengimbau masyarakat agar lebih waspada, terutama saat cuaca buruk, karena kondisi ini dapat meningkatkan risiko longsor,” pintanya.
Mesin Pompa Rusak
Kapolsek menjelaskan peristiwa itu bermula saat sembilan orang melakukan aktivitas pendulangan. Dalam proses mendulang intan para pekerja terbagi dalam dua kelompok. Tujuh di antaranya beraktivitas mengambil tanah. Sedangkan dua lainnya sebagai pengayak untuk mencari intan.
"Korban termasuk dalam kelompok tujuh orang. Dia bertugas sebagai penyemprot tanah," kata kapolsek, Kamis (31/10) sore.
Saat proses penyemprotan tanah berlangsung, tiba-tiba mesin yang digunakan para pekerja mati. Hal itu membuat dua dari tujuh pendulang berinisiatif memeriksa keadaan mesin di dataran lebih tinggi dari mereka.
Sedangkan lima pendulang lainnya, termasuk korban masih bertahan, di bawah. Tetap melaksanakan pengupasan secara manual.
Nahas, tiba-tiba dari areal pengupasan bagian atas terjadi longsoran.
"Korban tidak sempat menyelamatkan diri saat longsor terjadi. Sedangkan empat pekerja lainnya bisa menghindar," ujarnya.
Mendapati seorang pendulang tertimbun longsor, para pekerja yang selamat langsung meminta bantuan ke warga sekitar dan kepolisian untuk melakukan penggalian tanah longsor.
Berhubung tanah labil, pihak Polsek mendatangkan alat berat berupa ekskavator untuk mengupas tanah bagian atas yang dinilai rentan longsor. Hingga akhirnya jenazah bisa ditemuka
Editor: Eddy Hardiyanto