Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Pendulang Intan Tradisional Di Pumpung Cempaka Banjarbaru Tertimbun Lagi, Korban Berada Di Titik Ini Saat Tanah Longsor

M Fadlan Zakiri • Kamis, 31 Oktober 2024 | 09:34 WIB
MANUAL: Foto proses penggalian titik longsor pada malam hari yang dilakukan secara manual oleh Tim Gabungan.
MANUAL: Foto proses penggalian titik longsor pada malam hari yang dilakukan secara manual oleh Tim Gabungan.

 

Aktivitas pendulangan intan secara tradisional di Cempaka, Banjarbaru kembali memakan korban jiwa. Tertimbun longsor tanah galian mereka sendiri.

               ********
BANJARBARU – Satu pendulang intan dikabarkan tertimbun tanah longsor di kawasan Pumpung, Kelurahan Sungai Tiung, Kecamatan Cempaka, Banjarbaru pada Rabu (30/10) siang.

Kapolsek Cempaka, Iptu Ketut Sedimen mengatakan lokasinya terjadi di salah satu lubang pendulangan intan. “Dari informasi yang kami terima, peristiwa ini terjadi sekitar pukul 11.39 Wita,” ungkapnya saat dikonfirmasi.

Ketut juga membenarkan dari peristiwa ini diketahui masih ada seorang pendulang intan yang tertimbun longsoran tanah. Atas nama Subhan alias Yusuf (45) yang tercatat sebagai warga Desa Pumpung RT 24 Kelurahan Sungai Tiung, Kecamatan Cempaka, Kota Banjarbaru.

“Warga sekitar bersama para pendulang intan lainnya masih berusaha mencari korban yang tertimbun tanah,” ujarnya.

Hendri termasuk yang selamat dari peristiwa ini. Ia menceritakan bahwa longsornya tanah ini terjadi dalam sekejap. Peristiwa bermula saat lima pendulang bekerja menggali tanah dengan linggis untuk mengambil batu.

Dalam prosesnya, pendulang intan harus membuang dulu tanah galian agar bisa mengambil batunya. Tapi tanpa disadari tanah yang berada di atas para pendulang tiba-tiba saja ambruk ke bawah menimpa mereka.

“Kejadiannya pas kami menirak (menggali pakai linggis,) tanah agar bisa mengambil batu di bawahnya,” ungkapnya.

Photo
Photo

Para pendulang yang melihat gerakan tanah langsung lari semua. “Tapi ada satu orang yang tertinggal,” ungkap Hendri saat diwawancarai di lokasi kejadian, Rabu (30/10) petang.

Hendri menyebutkan bahwa kedalaman galian itu sekitar 3 atau 4 meter. Subhan tak sempat menyelamatkan diri karena berada paling bawah. “Satu kali longsor saja,” sambungnya.

Meski mengalami cedera di bagian kaki karena sempat terjepit kayu, Hendri bersyukur nyawanya bisa selamat dari timbunan longsor.

“Dari belasan tahun jadi pendulang, ini merupakan kejadian pertama yang saya alami. Alhamdulillah selamat,” tuturnya.

Gantikan Anak Mendulang

Proses pencarian korban masih berlangsung tadi malam. Tim gabungan yang terdiri dari personel TNI-Polri, Basarnas Banjarmasin, Tagana, BPBD Provinsi Kalsel dan BPBD Banjarbaru dibantu masyarakat sekitar, terus berupaya mencari korban.

“Dari informasi umur korban sekitar 45-55 tahun. Rumahnya di dekat monumen Tugu Intan Trisakti di RT 24,” ungkap Ketua RT 26 Kelurahan Sungai Tiung, Syamsuri.

Sepengetahuan Syamsuri, menggali tanah di bawah biasanya memakai mesin. “Mungkin lagi dibetulkan atau gimana, sambil menggali (manual, red) di bawah lalu tertimbun tanah dari atas yang longsor,” ungkapnya.

Korban ini, kata Syamsuri, turun ke lokasi pendulangan untuk menggantikan anaknya yang juga bekerja sebagai pendulang intan. “Anaknya sedang magang kerja. Jadi dia menggantikan anaknya selama dua hari terakhir ini,” ungkapnya.

Saksi mata, Anang menceritakan dari sembilan pendulang, hanya ada satu orang yang tidak terlihat keberadaannya pascakejadian. "Semua yang mendulang di sini warga sekitar," ujarnya.

Mendulang intan di lokasi tersebut, ujar Anang, memang sudah menjadi aktivitas harian warga. Menurutnya, longsor ini terjadi disebabkan masifnya aktivitas mendulang intan di lokasi tersebut.

"Sebelumnya, lahan di sini sudah pernah dijadikan lokasi pendulangan dan sempat berhenti, kemudian jadi pendulangan lagi. Mungkin itulah yang membuat tanahnya mudah longsor," ujarnya.

Kucing-Kucingan dengan Polisi

Kapolsek Cempaka, Iptu Ketut Sedimen menjelaskan kegiatan pendulangan intan tradisional ini termasuk aktivitas yang sudah dilarang, karena tingginya risiko kecelakaan kerja.

“Selain itu, mereka mencari intan di kawasan yang secara administrasi terdaftar sebagai aset Geopark Meratus,” katanya.

Lokasi tambangnya ini, beber Ketut, merupakan salah satu titik cukup rawan terjadi longsor. “Kami sudah sangat sering memperingatkan para pendulang agar jangan mendulang intan di sembarangan tempat. Kelompok ini termasuk yang kucing-kucingan dengan kami,” bebernya.

IPTU KETUT SEDIMEN, Kapolsek Cempaka
IPTU KETUT SEDIMEN, Kapolsek Cempaka

Untuk mempercepat proses pencarian, pihaknya mendatangkan alat berat berupa ekskavator yang masih dalam perjalanan menuju lokasi kejadian.

“Kami sudah koordinasi dengan pihak kelurahan dan seluruh pihak terkait lainnya. Mudah-mudahan langkah ini bisa cepat membuahkan hasil,” harap Ketut.

Selain mempercepat pencarian, penggunaan alat berat juga diperlukan karena kondisi tanah di TKP sangat labil.

Supaya peristiwa serupa tidak terulang, Ketut menegaskan akan lebih mengintensifkan sosialisasi dan edukasi mengenai keselamatan kerja, hingga pemantauan aktivitas pendulangan intan.

“Sebenarnya upaya seperti ini sudah masif kami jalankan. Tapi kenyataannya kami akui masih ada yang bandel,” ucapnya.

Menurutnya, ada beberapa faktor membuat warga masih nekat mendulang intan secara manual. Di antaranya adalah dorongan faktor ekonomi.

“Urusan perut dan masalah piring nasi membuat mereka tetap nekat mendulang di lokasi yang dilarang,” ungkapnya.

Selain itu, tambah Ketut, juga karena faktor kepercayaan yang sudah tertanam kuat dalam pemikiran masyarakat Cempaka.

“Kepercayaan ini semakin kuat setelah utusan UNESCO datang ke Pumpung. Mereka yakin kalau area yang ditambang ini ada intannya,” ucap Ketut.(zkr/gr/dye)

Kronologis Kejadian

- Peristiwa longsor menimbun lubang tambang intan di kawasan Pumpung, Kelurahan Sungai Tiung, Kecamatan Cempaka, Banjarbaru terjadi pada Rabu (30/10) siang pukul 11.39 Wita

- Peristiwa bermula saat lima pendulang menggali tanah dengan linggis untuk mengambil batu.

- Ketika tanah bergerak, para pendulang berlarian menyelamatkan diri.

- Subhan alias Yusuf (45) warga Desa Pumpung RT 24 saat longsor masih berada di dalam lubang.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#intan #Cempaka #longsor #Kecelakaan #banjarbaru #kerja #ilegal #Tambang