Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Dikira Sudah Selamat Semua, Sejam Kemudian Sadar Ada Yang Hilang, Begini Kronologi Kecelakaan Perahu Rombongan Santri Al Falah

M Fadlan Zakiri • Selasa, 29 Oktober 2024 | 09:34 WIB
PENUH: Rombongan santri Ponpes Al-Falah Putra Banjarbaru menaiki perahu sebelum tragedi tenggelam di perairan Desa Aluh-Aluh, Kecamatan Aluh-Aluh, Kabupaten Banjar pada Minggu (27/10) petang.
PENUH: Rombongan santri Ponpes Al-Falah Putra Banjarbaru menaiki perahu sebelum tragedi tenggelam di perairan Desa Aluh-Aluh, Kecamatan Aluh-Aluh, Kabupaten Banjar pada Minggu (27/10) petang.

MARTAPURA - Peristiwa nahas menimpa rombongan santri Pondok Pesantren (Ponpes) Al Falah Putra, Banjarbaru.

Perahu yang mereka tumpangi terbalik di tengah sungai ketika ingin mencari hiburan ke pulau gosong di perairan Sungai Aluh-Aluh Besar, Kecamatan Aluh-Aluh, Kabupaten Banjar, Minggu (27/10) petang.

Peristiwa ini menelan tiga korban jiwa. M Hafi Mubarak, santri asal Tanah Grogot, Kalimantan Timur. M Risqi bin Hamzah asal Sungai Lulut, Kecamatan Sungai Tabuk. M Safriyan asal Kecamatan Pelaihari, Tanah Laut.

Dibalik peristiwa ini ada satu santri yang patut diacungi jempol. Firman namanya. Remaja berusia 18 tahun ini merupakan juru kemudi perahu yang karam tersebut.

Saat kejadian, ia mengaku sempat panik melihat perahu yang membawa 28 temannya itu terbalik dan karam di tengah sungai. Namun, di tengah kepanikannya itu, santri kelas IIi Aliyah di Ponpes Al-Falah Putra tersebut masih berusaha menyelamatkan puluhan temannya. Dengan sigap melempar box ikan styrofoam dari perahu tersebut ke arah kerumunan temannya yang panik menyelamatkan dirinya masing-masing.

Refleknya itu terjadi karena ia sadar bahwa tidak semua temannya yang naik perahu itu bisa berenang. “Spontan saya lempar box ikan itu ke mereka. Untungnya warga sekitar yang melihat juga memberi pertolongan,” ungkap Firman, Senin (28/10) petang.

Saat itu, Firman sudah tidak memperdulikan lagi kondisi perahu milik ayahnya yang karam. “Pikiran saya hanya satu, kami semua selamat ke tepi sungai,” ujarnya.

Setelah berhasil membawa puluhan temannya ke daratan, Firman diminta orang tuanya untuk menenangkan diri sejenak. Lalu menghitung jumlah santri yang berhasil naik ke daratan.

Awalnya, kata Firman, ia dan rekannya yang lain merasa bahwa sudah semua penumpang di atas perahu itu terselamatkan. Namun ketika dihitung kembali, ternyata dari 28 temannya, tiga di antaranya masih hilang.

“Kami baru sadar waktu menghitung jumlah orang di atas perahu dalam foto,” ungkap Firman. “Kira-kira hampir sejam, kami baru sadar kalau masih kurang tiga orang lagi,” tambahnya.

Otomatis membuat Firman langsung drop. Ia merasa terbebani karena tidak bisa menyelamatkan semua temannya.

TERMENUNG: Firman hanya termenung melihat petugas gabungan mencari jasad temannya yang tenggelam di Sungai Aluh-Aluh Besar, Kecamatan Aluh-Aluh, Kabupaten Banjar.
TERMENUNG: Firman hanya termenung melihat petugas gabungan mencari jasad temannya yang tenggelam di Sungai Aluh-Aluh Besar, Kecamatan Aluh-Aluh, Kabupaten Banjar.

Ia hanya bisa duduk termenung di tepi sungai melihat petugas gabungan melakukan penyisiran demi menemukan jasad ketiga temannya.

Diceritakan Firman, peristiwa ini berawal dari keinginan para temannya untuk mencari hiburan melepas lelah setelah selesai membantu acara hajatan guru mereka di Desa Aluh-Aluh.

Sebanyak 28 temannya sudah berada di atas perahunya. Namun, di jalan mereka menumpuk hanya di salah satu sisi perahu saja. Ketika berbelok, perahu tersebut langsung kehilangan keseimbangnya hingga terbalik. “Mereka berdiri di sebelah saja. Jadi waktu belok langsung oleng,” ujarnya.

Atas kejadian itu, Firman sangat menyesal. “Mudahan-mudahan cepat ditemukan, kasihan para orang tua mereka sudah menunggu lama,” ujarnya.

Kronologis Kelotok Karam

- Rombongan santri Ponpes Al Falah Putra, Banjarbaru mencari hiburan untuk melepas lelah setelah selesai membantu acara hajatan guru mereka di Desa Aluh-Aluh, Minggu (27/10) petang.

- Rombongan berisi 29 orang mau menuju ke pulau gosong di perairan Sungai Aluh-Aluh Besar, Kecamatan Aluh-Aluh, Kabupaten Banjar.

- Kelotok yang dikemudikan Firman oleng ketika berbelok hingga terbalik.

- Firman dibantu warga berusaha membantu rekan-rekannya ke tepian.

- Hampir satu jam di darat, ketika menghitung ulang dan membandingkan foto keberangkatan rombongan, mereka baru sadar ada tiga temannya hilang.

Ditemukan di Kedalaman 16 Meter

Jasad M Rizqi berhasil ditemukan. Ia adalah satu dari tiga santri Pondok Pesantren (Ponpes) Al Falah Putra yang menjadi korban tenggelam di perairan Sungai Aluh-Aluh Besar, Kecamatan Aluh-Aluh, Kabupaten Banjar.

Tubuh santri asal Desa Sungai Lulut, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar ini berhasil dievakuasi ke daratan pada Senin (28/10) dini hari. “Korban ditemukan sekitar 200 meter dari titik nol kejadian,” ungkap Korlap Tim Basarnas Banjarmasin, Zulkifli di lokasi pencarian, Senin siang.

Jasad Rizqi, dievakuasi dari dasar sungai setelah dilakukan penyelaman oleh tim SAR Gabungan sekira pukul 01.30 Wita.

“Waktu ditemukan tubuh korban (M Rizqi, red) sudah dalam keadaan kaku di kedalaman sekitar 16 meter,” ungkapnya.

Sedangkan dua korban tenggelam lainnya, M Hafi Mubarak santri asal Kalimantan Timur, dan M Safriyan asal Kecamatan Pelaihari, Tanah Laut masih dalam proses pencarian.

“Total ada enam tim yang turun mencari jasad kedua korban, dibantu masyarakat setempat,” ujar Kapolsek Aluh-Aluh, Ipda Muslim.

Sekadar diketahui, perahu yang dinaiki sebanyak 29 santri Al-Falah Putra tersebut terbalik karena kehilangan keseimbangan di perairan Desa Aluh-Aluh, Kabupaten Banjar, Minggu (27/10) petang.

Detik-detik kejadian itu terekam dalam video yang berdurasi 21 detik. Di sana memperlihatkan sejumlah warga yang melakukan pencarian dengan menggunakan jala ikan untuk mencari tiga di antaranya dikabarkan tenggelam, dan belum diketahui keberadaannya.

Pimpinan Ponpes Al-Falah, KH Nur Syahid Ramli menceritakan nasib nahas santrinya ini berawal ketika santri tersebut menyelesaikan pekerjaannya dalam acara hajatan salah satu gurunya di Desa Aluh-Aluh.

Rombongan berisi kurang lebih 50 santri tersebut berangkat ke acara hajatan naik angkot. Bukan pakai kelotok.

“Sebelum kejadian, mereka jadi petugas surung-sintak di acara nikahan gurunya. Setelah itu, mereka cari hiburan naik kelotok (perahu, red), dan tidak lama kemudian kelotoknya tenggelam,” ungkapnya.

Ia berharap petugas yang berwenang seperti Polairud, Basarnas maupun BPBD bisa segera menemukan ketiga anak didiknya tersebut. “Doakan supaya cepat ketemu,” pungkasnya.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#perahu #Pesantren #Kecelakaan #Banjar #Sungai #Tenggelam #santri