Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Aktor Dibalik Skandal Guru Besar ULM Ternyata Seorang Profesor Ilmu TI di Fakultas Teknik, Punya Jaringan Dari Malaysia Sampai Inggris

Maulana Radar Banjarmasin • Rabu, 25 September 2024 | 10:01 WIB
Prof Juhriansyah Dalle
Prof Juhriansyah Dalle

BANJARMASIN - Salah satu aktor mafia jurnal itu diduga seorang profesor di Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat (ULM). Ia sudah lama menghilang dari kampus.

Namanya adalah Prof Juhriyansyah Dalle, guru besar ilmu Teknologi Informasi (TI) di Fakultas Teknik (FT) ULM.

Pendidikan doktor ia tempuh di Malaysia. Dalle dikukuhkan menjadi guru besar ULM pada akhir 2021.

Sumber Radar Banjarmasin menceritakan, Dalle seorang pakar IT yang punya jaringan di Indonesia, Malaysia, sampai Inggris.

Modus operandinya, Dalle membeli jurnal-jurnal yang terindeks ke Scopus untuk menampung artikel klien-kliennya.

Dia dibantu rekannya di CV Intellectual Edge Consultancy SDN Bhd yang berkantor di Selangor, Malaysia.

Dengan googling sederhana, muncul unggahan bukti transfer dan korespondensi ke CV Intellectual. Dari banyak dosen Indonesia, dari berbagai kampus. Dari PTN, PTS, sampai IAIN.

Transfer itu ditujukan kepada perwakilan CV Intellectual untuk Indonesia yang berkantor di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Ini data terbuka yang bisa ditelusuri dan diakses publik dengan mudah. Menurut sumber kami, sebagian dosen mentransfer ke bank CV Intellectual, sebagian lagi langsung ke rekening pribadi Dalle.

Lantas, apa bukti-bukti untuk menunjuk hidung Dalle? Satu dari sebelas guru besar FH ULM yang dicopot itu mengaku pertama kali menyadari sepak terjang Dalle saat menjalani pemeriksaan di kementerian.

"Seorang profesor senior bertanya ke dirjen: mengapa cuma ULM yang diperiksa? Mengapa kampus lain tidak? Pejabat kementerian itu menjawab, karena di ULM lah titik episentrumnya," ujarnya.

Saban kali kelar diperiksa, para profesor ini kerap berbagi cerita. Mengumpulkan keping demi keping fakta untuk memahami kasus yang rumit ini. "Saya sendiri diperiksa tiga kali. Sekali di Jakarta dan dua kali di Banjarmasin," ujarnya.

Belakangan ia menyadari dua hal. Pertama, Dalle dan Huda lebih dahulu diperiksa. Kedua, empat dari sebelas dosen FH itu menggunakan jurnal yang terafiliasi ke Dalle.

Bukti-bukti transfer itu terlacak oleh Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Bukti transfer itulah yang dipegang Inspektorat. Mendasari pemeriksaan lanjutan terhadap 20 guru besar dan dua calon guru besar ULM sekarang.

"Salah seorang dekan langsung mengangkat bendera putih saat diperiksa. Dia kehabisan alibi. Karena tim investigasi ternyata memegang bukti-bukti transfer tersebut," bebernya.

Sepengetahuannya, nominalnya antara Rp40 juta sampai Rp80 juta per artikel. Kita sedang membicarakan uang dalam jumlah yang tidak sedikit.

Dan, Dalle diduga tak hanya menyediakan jasa penerbitan jurnal. Ia juga diduga menyediakan jasa joki. "Karena kami tahu ada profesor yang cuma menulis bagian abstrak. Tiba-tiba jurnalnya ada. Tiba-tiba SK guru besarnya terbit. Lucu banget," katanya.

Selama pemeriksaan, Inspektorat menanyakan substansi artikel jurnal. Tujuannya mengecek pemahaman si guru besar. Kalau menulis sendiri, tentu bisa memaparkan dengan lancar.

Baca Juga: Cerita ke Ayah Jadi Korban Pencabulan, Gadis Bawah Umur di Banjarmasin Malah Disetubuhi Ayahnya Sendiri, Begini Kronologinya

"Malah ada yang tidak bisa menjelaskan. Makanya kami berani menuduh ada jasa perjokian," tukasnya.

Dugaan Misconduct
Prof Abdul Halim Barkatullah dan Prof Khoirul Huda tak hanya saling mengenal. Mereka berkolaborasi dalam penulisan dua karya tulis ilmiah yang terbit di dua jurnal berbeda pada 2022.

Halim diduga melakukan misconduct. Dalam artikel berjudul Does Self Regulation Provide Legal Protection and Security to e-Commerce Consummers? yang terbit di Electronic Commerce Researchs and Application, muncul kejanggalan.

Artikel itu diterima, direvisi, dan disetujui pada hari yang sama. Tanggal 17 Mei 2018.
Itu super cepat. Sebab untuk terbit di jurnal, sebuah hasil penelitian harus melalui dua tahapan: tinjauan rekan sejawat (peer-review) dan penyuntingan (editing). Sementara proses peer-review saja bisa memakan waktu lima pekan.

Masih untuk artikel Halim, terjadi perubahan kredit nama penulis. Mulanya Halim menjadi penulis kedua, belakangan diedit menjadi penulis pertama. Jangan disangka artikel itu terbit di jurnal abal-abal. Keterangannya terindeks ke Scopus.

Lolosnya artikel itu membuktikan betapa buruknya screening yang menjadi tugas para asesor. "Para asesor semestinya tidak menjadi bagian dari mafia jurnal," kata whistleblower itu.

Paling anyar, Halim mengajukan artikel berjudul Community Participation Facilitated Through Social Inclusion: A Study Examining Policies that Enhance Empowerment Among the Poor in Society Through Social Housing yang terbit di jurnal Oeconomia Copernicana.

Halim sebagai penulis pertama, sementara Hairudinor (Guru Besar FKIP ULM) sebagai penulis ketiga. Terbit pada Volume 15 Nomor 1 Tahun 2024, terindeks ke Scopus. Namun, saat edisi tersebut dicek, di antara tujuh artikel yang terbit, tidak ada nama Halim.

Diduga kuat, artikel tersebut terbit di jurnal predator yang melakukan duplikasi.
Senin (23/9) pagi di kantornya di Pascasarjana ULM, Halim membenarkan dirinya turut diperiksa Inspektorat. "Iya, memang ada pemeriksaan, tapi selebihnya tanya ke pimpinan," kata Halim kepada Radar Banjarmasin.

Halim membantah dirinya terlibat dalam bisnis jurnal predator bersama Prof Juhriansyah Dalle. "Dugaan-dugaan seperti itu hal biasa. Kami semua berteman. Saya tidak tahu soal itu. Saya tidak ada hubungan dengan Dalle," tepisnya.

Ketika ditanya lebih lanjut soal keterlibatan Dalle dalam dugaan mafia jurnal, Halim membenarkan adanya "indikasi" itu. Tapi ia sudah lama tak bertemu Dalle.

Halim juga mengakui mengenal Prof Mokhamad Khoirul Huda. "Kami kan sama-sama alumni Universitas Islam Indonesia (UII)," ujarnya.

Soal beberapa jurnalnya yang bermasalah, Halim memilih untuk tidak berkomentar. Ia mengatakan hal tersebut telah diserahkan kepada Inspektorat untuk dinilai. "Saya tidak bisa berkomentar soal itu. Sudah dinilai Inspektorat sesuai prosedur. Silakan tanyakan ke mereka," ujarnya.

Halim menambahkan, jurnal-jurnal yang disoal itu tidak termasuk persyaratan meraih gelar guru besar miliknya.

Prof Dalle Menghilang
Mengutak-atik keyword di mesin pencarian, Radar Banjarmasin menelusuri sepak terjang Prof Juhriyansyah Dalle. Namanya muncul di mana-mana. Ia menjabat editor in chief dan managing editor di banyak jurnal lokal dan lintas bidang keilmuan.

Di jurnal manajemen pendidikan, hukum, lingkungan, kesehatan, dan budaya. Temuan menarik, Dalle menulis bareng Prof Siti Nur Azizah dalam artikel berjudul Indonesia's Halal Business Practices with Japan: Promoting Muslim Friendly Initiatives. Terbit di Journal of Human Security yang berbasis di Basel, Swiss. Pada volume 19 nomor 2 tahun 2023.

Dalle sebagai penulis kedua dan Azizah sebagai penulis pertama. Azizah adalah Guru Besar Universitas Negeri Surabaya. Dia putri Wakil Presiden Ma'ruf Amin.

Dalam laporan Tempo, Azizah mengakui mentransfer sejumlah uang untuk penerbitan jurnalnya. Namun ia mengaku lupa berapa nominalnya.

Kembali ke Dalle, lewat penelusuran di internet, ia sering menulis bareng dosen ULM. Bukan hal yang aneh. Tapi beberapa nama penulis lain itu termasuk dalam daftar target pemeriksaan Inspektorat.

Sebut saja Prof Ahmad Yunani dari FEB, Prof Amka dari FKIP, dan mantan Rektor ULM Prof Sutarto Hadi.

Jumat (20/9/2024), Radar Banjarmasin mendatangi Fakultas Teknik ULM. Wartawan menyamar sebagai rekan kerja yang ingin berkonsultasi. Hasilnya, Dalle sudah lama tak terlihat. Dan tak ada yang tahu Dalle ke mana.

Saat dihubungi, nomor ponsel Dalle sudah tidak aktif. Kabarnya Dalle sudah kabur ke Amerika Serikat. Namun itu cuma rumor. Sebab dalam profil di researchgate.net tertulis, Dalle adalah dosen tamu di Fort Myers, Florida.

Ia menjadi visiting professor di Florida Gulf Coast University sejak Januari 2024 sampai sekarang. Radar Banjarmasin lalu mencari rumah Dalle di Kompleks Taman Pesona Permai, Sungai Andai, Banjarmasin Utara.

Ketua rukun tetangga (RT) setempat membenarkan, rumah berkelir merah pudar itu tempat tinggal Dalle.

Wartawan lantas memanggil dari luar pagar setinggi dua meter. Puluhan kali dipanggil, tak ada sahutan. Di sisi kanan, tampak CCTV yang langsung mengarah ke muka tamu.

Radar Banjarmasin kembali ke rumah RT. Setahunya, Dalle masih di Indonesia.
"Betul, beliau memang dosen terbang. Mengajar di Malaysia dan Amerika Serikat. Tapi, tiga hari yang lalu saya melihat Pak Dalle," imbuh Pak RT.

Dituturkannya, rumah Dalle itu luas. Tembus sampai ke kompleks sebelah, Perdana Mandiri Residence. Pak RT menyebutkan, Dalle setidaknya memiliki sebelas buah rumah di kompleks tersebut. Tujuh dikontrakkan.

Ketujuh rumah itu dipasangi CCTV canggih yang mengikuti pergerakan pengunjung.
Salah seorang penghuni kontrakan mengetahui Dalle seorang dosen ULM, tapi ia tak pernah bertatap muka. "Kalau mau bayar sewa biasanya transfer," ujarnya.

Masih Mengisi Absensi
Dekan Fakultas Teknik ULM, Prof Iphan Fitrian Radam mengaku juga kehilangan jejak Dalle.
"Kami tidak ada komunikasi sejak pemeriksaan Inspektorat Kemendikbud," ungkap Iphan saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (24/9/2024) petang.

Iphan mengaku kaget ketika diberitahu bahwa nama Dalle tersandung kasus mafia jurnal dan sampai tiga kali dipanggil Inspektorat. Akhirnya, Jumat (20/9/2024), Iphan mengutus salah satu pegawai fakultas untuk menyerahkan surat instruksi agar yang bersangkutan bersikap kooperatif dan mengikuti pemeriksaan.

Surat diantarkan langsung ke rumah Dalle, diterima seorang kerabat. "Surat ini kami keluarkan agar masalah ini cepat selesai dan ada kepastian hukum," tegas Iphan.

Sebab, hal ini berpotensi mencoreng nama baik universitas. Iphan juga mengakui, Dalle lama tak terlihat di kampus, baik di Banjarmasin atau Banjarbaru. Meski demikian, dari rekap data kehadiran di aplikasi Simari, Dalle masih rutin mengisi absensi.

"Artinya beliau (Dalle) tetap hadir untuk mengajar mahasiswanya secara tatap muka," kata Iphan. Dikuatkan dengan pengakuan mahasiswa Prodi Teknik Informatika.

Habis Kesabaran
Di tengah pencarian, Radar Banjarmasin mendengar cerita menarik dari pegawai Yayasan Cahaya Bangsa. Dalle sempat menjabat Rektor Universitas Cahaya Bangsa dari Januari sampai September 2021.

Kampus swasta ini berada di Jalan Ahmad Yani km 17, Gambut. "Kami mengajukan permohonan resmi ke Rektor ULM guna meminjam Pak Dalle menjadi rektor kami," ujarnya seraya meminta namanya tak dikorankan.

Dalam perjalanan yang singkat itu, Dalle kerap bersimpang jalan dari visi universitas. Dalle juga lebih sibuk mengurusi bisnis pribadinya. Sampai akhirnya pihak yayasan kehabisan kesabaran. "Puncaknya Pak Dalle kami kembalikan ke ULM," ucapnya. (mr-162/lan/gmp/zkr/fud/dye)

Editor : Fauzan Ridhani
#profesor #skandal guru besar ULM #banjarmasin #teknologi informasi #Fakultas Teknik