Polisi harus bekerja keras untuk mengungkap misteri kematian Muhammad Yamin Sajali (39) yang diduga korban pembunuhan sadis.
****
BANJARMASIN - Jasad Sajali ditemukan membusuk dengan kedua tangan dan kaki kiri terputus. Potongan-potongan tubuh itu sampai sekarang belum ditemukan.
Kasat Reskrim Polresta Banjarmasin, AKP Eru Alsepa mengatakan tim gabungan masih mengumpulkan keterangan saksi dan petunjuk.
Eru mengakui kondisi jenazah yang membusuk itu menyulitkan pemeriksaan. Leher Sajali sudah dimakan belatung.
"Pemeriksaan di lokasi temuan, kondisinya bersih, tidak ada petunjuk yang didapat," kata Eru, Selasa (27/8).
"Jika terjadi perkelahian, pasti ada bekasnya. Seperti bercak atau ceceran darah yang membeku. Hasil penelusuran kami tidak terlihat sama sekali," tambahnya.
Di Rumah Sakit Ulin, jenazah diautopsi dari Senin (26/8) pukul 22.00 sampai Selasa (27/8) pukul 02.30 Wita.
Besok paginya jasad korban dimakamkan di alkah milik keluarga, tak jauh dari rumahnya di Jalan 9 November, Benua Anyar, Banjarmasin Timur.
"Sekitar pukul 8 pagi dimakamkan. Dimandikan dan disalatkan di rumah sakit," ungkap ayah korban, Asnawi (68).
Asnawi dan istrinya Jawiah (57) yang pertama kali menemukan Sajali. Mereka khawatir karena putranya sudah tak pulang ke rumah sejak 17 Agustus 2024. Artinya almarhum sempat menghilang selama sembilan hari.
"Pagi sebelum kami temukan, putra sulung Sajali mengabari kami kalau ayahnya tak kunjung pulang. Saya dan istri lalu ke sawah naik jukung untuk mencarinya," tuturnya.
Pertama mereka mencari di sawah milik keluarga di Sungai Simpauk, Sungai Andai, Banjarmasin Utara. Nihil, mereka lantas berpindah ke pondok di lahan sawah yang telah dijual keluarga.
Posisinya agak ke pojok, tak jauh dari sawah mereka. "Istri saya tiba-tiba berteriak. Dia hampir jatuh pingsan melihat anak kami," kata Asnawi.
"Kami bingung. Mau melangkah, rasa tak kuat. Mau menelepon, tapi handphone tertinggal. Kami perlahan ke jukung dan pulang ke rumah," ujarnya.
Asnawi yakin putranya tidak memiliki musuh. Sehari-harinya korban sibuk bekerja. Pekerjaan utamanya adalah bertukang, sampingannya bertani.
Ketika sedang menganggur, Sajali akan menginap di sawah selama berhari-hari. "Setahu kami tidak ada musuh atau ribut sama orang lain. Kami pun tidak berani menduga-duga," katanya.
Asnawi dan Jawiah berharap polisi bisa mengungkap kasus ini. Keduanya yakin Sajali adalah korban pembunuhan.
"Ini pembunuhan sadis. Jika pelaku berhasil ditangkap, kami menuntut hukuman seberat-beratnya," ujarnya.
Sementara Jawiyah, beberapa hari sebelum penemuan mayat itu, mengaku kerap bermimpi buruk.
"Saya bermimpi sedang bertakziah. Melihat peti mayat sangat besar. Saya bertanya ke orang-orang: ini peti mati siapa? Mendadak saya terbangun dengan napas sesak. Saat terbangun saya terus berzikir," kisahnya.
"Mimpi itu berulang sampai tiga hari berturut-turut," ujarnya.
Jawiah menyesalkan kepergian Sajali. Mengingat dia ayah dari lima anak yang masih kecil.
Jawiah heran, sebab pondok itu bersih. Tak ada cipratan atau ceceran darah. "Kami menduga dia dieksekusi di tempat lain. Setelah mati baru dimasukkan ke pondok," ujarnya.
Makanan seperti mi instan dan kue, serta perkakas bertani seperti parang juga masih ada di jukungnya. "Jukungnya tidak karam. Walaupun penuh air, mungkin karena hujan," tukasnya.
Lokasi sawah dan pondok itu jauh dari permukiman. Sepanjang mata memandang hanya tampak sawah. Untuk mencapainya, tidak ada jalan darat, hanya bisa dicapai lewat sungai kecil.
Editor: Syarafuddin