MARTAPURA – Pasien keracunan kecubung semakin hari kian bertambah. Kini totalnya sudah ada 39 orang sedang dirawat di RSJ Sambang Lihum Kalsel, Rabu (10/7).
Kasi Humas dan Informasi RSJ Sambang Lihum, Budi Harmanto menyebut dari 39 pasien yang dirawat, 2 orang meninggal dunia.
"Kalau dilihat dari alamat rata-rata dari Banjarmasin. Ada dari Batola, Kabupaten Banjar, Banjarbaru, Hulu Sungai Selatan," sebut Budi.
Dibanding sehari sebelumnya 28 orang, pasien mabuk kecubung bertambah sebanyak 11 orang. Meski semakin banyak pasien keracunan kecubung, status Kejadian Luar Biasa (KLB) masih belum ditetapkan. "Status menunggu perkembangan lanjut dari pihak-pihak terkait," katanya.
Maraknya kecubung dioplos dengan alkohol dan zenith menjadi atensi polisi. Sejumlah titik tongkrongan anak muda di Banjarbaru juga jadi sasaran patroli.
Kapolres Banjarbaru, AKBP Dody Harza Kusumah mengatakan tidak ingin kondisi ini juga terjadi di ibu kota Kalsel. “Apalagi sampai memakan korban jiwa," tegas Dody Harza Kusumah, Rabu (10/7) siang.
Tak hanya patroli, Polres Banjarbaru juga melakukan deteksi dini terhadap pasien-pasien yang dirawat di lima rumah sakit di wilayahnya.
"Sampai saat ini, belum ada menerima pasien yang disinyalir mengonsumsi obat-obatan zenith, buah kecubung, dan miras oplosan," ungkapnya.
Ia menekankan bahwa fenomena ini harus menjadi pengingat bagi semua pihak untuk meningkatkan kewaspadaan.
“Peran serta dari berbagai pihak juga menjadi sangat penting untuk menjauhkan mereka dari bahaya minuman oplosan dan obat-obatan terlarang,” tegasnya.
Pasien keracunan kecubung yang dirawat di RSJ Sambang Lihum datang dalam kondisi gelisah dan linglung. Psikiater Konsultan Adiksi RSJ Sambang Lihum, dr Firdaus Yamani Sp.KJ (K) menyebut efek halusinasi keracunan kecubung akan berlangsung selama 2 hingga 3 hari.
"Perawatan pasien tetap harus dilakukan evaluasi atau perawatan selama kurang lebih 2 minggu agar zat adiksi dari kecubung benar-benar hilang," simpulnya.
Dosen Psikologi ULM, Rika Vira Zwageri belum mengetahui motif pemakai kecubung yang lagi ramai. Secara umum, Rika mengatakan tanaman kecubung (Datura sp) memiliki efek samping yang serius pada kesehatan, dan perlu diatensi khusus.
"Kecubung ini memiliki zat beracun yang dapat menimbulkan beberapa gejala berbahaya jika dikonsumsi. Terlebih jika disalahgunakan sebagai zat adiktif atau psikotropika," ujarnya.
Ketika sudah mengarah pada penyalahgunaan, psikolog ULM ini menjelaskan alasan pemakai kecubung bisa jadi karena faktor lingkungan yang memengaruhi.
"Misal ada teman yang mengajari dan mengenalkan kecubung bisa untuk penenang," tuturnya.
Rika menyebut ketika seseorang menemukan permasalahan dalam hidup, beberapa orang memilih menggunakan pemecahan masalah dengan cara kurang baik. "Beda halnya dengan orang yang punya pengendalian diri bagus, pasti memilih pemecahan masalah yang positif dan lebih efektif. Jadi itu bisa jadi terkait kemampuan problem solving mereka," ujarnya.
Rika berpesan setiap permasalah yang terjadi selalu ada alternatif positif. "Misal masalahnya jangan dipendam, keluarkan segala keluhan dari permasalahan yang ada, cari support system. Jika membutuhkan bisa cari dukungan profesional," pesannya.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief