BANJARMASIN - BPK Tunas Harapan mengunjungi Kantor Biro Radar Banjarmasin di Kayu Tangi, Banjarmasin Utara pada Jumat (30/12) malam untuk memberikan klarifikasi.
Atas konten berita berjudul ‘Tunas Harapan Gugur Tersengat’ yang terbit Pada edisi Jumat (28/12).
Mereka ingin meluruskan kronologi insiden yang menyebabkan kepergian Gunawan (17).
Paman korban, Maulana (22) menegaskan kronologi yang disampaikan saksi dan dikutip media sangat berbeda dengan apa yang dihadapi timnya di tempat kejadian.
"Kami sampai ke lokasi pukul 04.05 Wita, setelah menerima informasi kebakaran di Pengambangan. Karena itu wilayah kami maka tim berangkat," ujarnya.
Jarak markas BPK dengan lokasi kebakaran di Jalan Pengambangan RT 7 Banjarmasin Timur hanya berjarak kurang lebih satu kilometer.
Malam itu, Maulana tidur berdua dengan Gunawan. Pamannya tidak membangunkan keponakannya, apalagi mengajaknya bergabung.
"Saya bergegas bangun dan bersiap menuju mobil BPK. Saya tidak tahu korban ikut juga. Seingat saya di dalam mobil cuma ada ayah korban, Ade, Ifan, Merisa, keponakan saya Daus, dan saya sendiri duduk di samping kakak yang menyetir,” kisahnya.
“Tidak ada yang melihat Gunawan di dalam mobil. Entah kenapa tiba-tiba bisa ada di lokasi,” sambungnya.
Maulana menegaskan, ketika tiba di lokasi kebakaran, sudah ada beberapa BPK yang bersiaga.
“Kami parkir tak jauh dari mobil BPK KBG. Jadi bukan kami yang datang paling awal,” jelasnya.
Mesin pompa diangkut, selang diurai, komper (moncong selang) telah siap. “Tetapi mesin tidak kami hidupkan karena listrik masih menyala,” ujarnya.
Paman korban, Musyawarah (35) juga membantah kalau timnya nekat menyemprot ketika listrik belum dipadamkan PLN. “Justru kami yang menegur BPK lain agar jangan menyemprot dulu,” timpalnya.
“Jadi tidak benar dalam pemberitaan itu kami menyemprot. Kami tidak melakukan apa-apa, hanya dalam posisi stand by,” tambah Maulana.
Maulana dan Ifan bertugas di depan memegang komper. Ketika hendak menyambung selang, Ifan mengaku sempat tersengat listrik dan terjatuh.
“Saya kira ia bercanda. Posisi saya sudah di dalam rumah. Tetapi sempat merasakan sengatan di komper. Saya kasihan kepada yang lain, lalu keluar untuk menyambung selang,” kisahnya.
“Saat itu api berkobar hebat. Tapi air sama sekali belum naik,” lanjutnya.
Lalu di mana Gunawan? Maulana mengaku tidak melihatnya.
Dari video yang direkam relawan lain, Gunawan berpisah jalan. Tidak mengikuti timnya. Berjalan mondar mandir, entah apa yang hendak diperbuatnya.
Kesaksian relawan lain, Gunawan terjatuh dekat tiang taso. Tiang yang sama yang sempat dipegang Ifan dan membuatnya tersetrum.
“Jadi tidak benar posisinya berada di depan dalam posisi memegang selang dan menyemprotkan air,” sanggahnya.
Akhirnya, seorang relawan memberanikan diri menarik tubuh Gunawan dengan selembar spanduk.
Ketika tubuh lemas Gunawan dipangku, saat itulah Maulana baru menyadari keponakannya ada di lokasi kebakaran.
Penuturan relawan, sebenarnya pelajar kelas XI di sebuah SMA negeri di Banjarmasin itu sudah meninggal dunia di lokasi.
Namun sang ayah berkeras membawanya ke IGD Rumah Sakit Ulin. Ia percaya nyawa Gunawan masih bisa diselamatkan.
Musyawarah dan Maulana menyesalkan mengapa PLN lamban dalam memutus arus listrik. “Ini sudah terjadi berkali-kali di beberapa musibah kebakaran,” kata Musyawarah.
Maulana juga mengucapkan terima kasih kepada masyarakat Banjarmasin yang mengirimkan ucapan belasungkawa dan doa untuk Gunawan.
Seperti diketabui, dalam musibah menjelang akhir tahun 2023 itu, tiga rumah terbakar di Jalan Pengambangan.
Editor: Muhammad Syarafuddin