Pedagang kelapa parut di Pasar Cemara, Romlah termasuk yang paling belakangan pulang.
"Saya biasa pulang jam 5 sore. Pas hujan berangin, saya sedang berdiri di depan kios. Tiba-tiba terdengar bunyi menggelegar," kata perempuan 32 tahun itu.
"Dikira petir, ternyata atap pasar terbang dibawa angin," tambahnya dengan muka tak percaya.
Angin kencang menyapu deretan kios yang berdiri di tepian sungai.
Romlah ngeri melihatnya. Sebab sebelum jatuh ke jalan, atap itu sempat bergulung-gulung di udara.
"Mengerikan. Ada yang jatuh ke arah hilir, ada yang ke hulu. Untung saat kejadian tak ada pengendara yang melintas," kata Romlah.
Pedagang pakaian di Pasar Cemara, Icha berharap pemko lekas memperbaiki kerusakan pasar.
"Atapnya bolong, tapi plafonnya masih utuh. Instalasi listriknya jadi terbuka. Harapannya segera diperbaiki karena berbahaya," kata perempuan 40 tahun itu.
Begitu hujan mereda, warga Sungai Miai turun gotong royong membersihkan puing-puing.
"Tidak ada warga yang menjadi korban," kata Ketua RT 21 Sungai Miai, Djamari.
Ia juga sempat menyaksikan atap-atap itu beterbangan. "Mengerikan sekali," ujarnya.
Djamari cemas, sebab musim hujan sebentar lagi tiba. Sementara banyak pohon rimbun dan tinggi di depan pasar.
"Bulan lalu saya sudah menyurati dinas terkait agar bisa memangkas pohon-pohon itu. Takut roboh pas musim hujan nanti," ujarnya.
Pantauan Radar Banjarmasin di sepanjang Jalan Tembus Perumnas, Banjarmasin Utara, banyak atap rumah, kios, dan kafe yang hancur.
Alur lalu lintas dari Banjarmasin atau dari Handil Bakti juga macet parah. Baru terurai menjelang malam hari. (lan/az/fud) Editor : Arief