Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Pendaki Jogja Tewas di Baturaya: Niat Membuka Jalur, Turun dengan Tali Kernmantle.

Arief • Selasa, 18 Juli 2023 | 12:10 WIB
Photo
Photo
BATULICIN - Rabu (12/7) pekan lalu, Oskar Yaikaci Davala (21), Wagiman Hadi Wijaya (23) dan Abdul Jalal (21) foto bersama saat pelepasan pendakian.

Ketiganya adalah anggota Mapala Kapakata Institut Pertanian (Instiper) Yogyakarta.

Beberapa hari kemudian, Ahad (16/7), Hadi dan Jalal melihat Oskar terjatuh di Tebing Baturaya, Kabupaten Tanah Bumbu. Oskar tewas.

Mereka tergabung dalam Ekspedisi Atap Bumi Bersujud yang dimulai dari tanggal 12 sampai 24 Juli 2023.

Hadi selaku manajer ekspedisi menceritakan, Tebing Baturaya belum banyak dieksplorasi pecinta alam. Di sana juga belum ada yang merintis jalur panjat menuju puncak tebing. Mereka menjadi tertantang.

Informasi yang ia peroleh dari Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Tanah Bumbu, Baturaya memiliki tinggi 760 mdpl dan tinggi tegak vertikal 410 meter.

Sembilan anggota Mapala Kapakata diturunkan. Dibagi menjadi dua tim, tim panjat tebing dan tim pengabdian masyarakat.

Rencananya, di puncak akan dikibarkan bendera merah putih berukuran 12x8 meter, didampingi bendera perguruan tinggi.

Misi utama adalah membuat jalur panjat di Baturaya. Plus mengamati budaya Suku Dayak Meratus di sekitar tebing.

Kepada Radar Banjarmasin, Ketua Harian FPTI Tanah Bumbu, Apriansyah mengaku sudah memberikan gambaran singkat Baturaya kepada tim ekspedisi.

"Jumlah pegiat alam yang mengeksplorasi tebing ini, sejauh ini memang masih minim," katanya, kemarin (17/7).

Kendati begitu, ditegaskannya, FPTI sudah mewanti-wanti tim ekspedisi. "Agar mengikuti standar keselamatan," sambungnya.

Dikonfirmasi terpisah, Kasi Humas Polres Tanah Bumbu, Iptu Jonser Sinaga mengatakan, Oskar adalah warga Desa Buntalan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Jonser menceritakan, Sabtu (15/7) sekira 17.00 Wita, Posko Jogja menerima laporan dari Oskar dan rekannya Hadi bahwa mereka berhasil mencapai puncak tebing.

"Mereka melapor akan bermalam di atas bukit," kata Jonser kemarin.

Ahad (16/7) sekitar pukul 10.46 Wita, mereka kembali melapor ke posko. Menyampaikan akan turun dengan cara repling atau turun menggunakan tali kernmantle.

"Mereka juga melapor akan beristirahat di pitch 1, sekira 13.45 Wita. Pitch 1 itu ketinggiannya sekitar 10-15 meter," jelasnya.



Delapan menit berselang atau pukul 13.53 Wita, posko mendapat kabar bahwa Oskar terjatuh.

Polsek Mantewe menerima informasi musibah itu sekitar pukul 14.00 Wita. Polisi langsung berkoordinasi dengan tim evakuasi Kecamatan Mantewe.

"Tim kemudian menuju lokasi untuk mengevakuasi korban. Saat itu, kondisi korban sudah meninggal. Jenazah lalu dibawa ke Puskesmas Mantewe untuk divisum," ujarnya.

Hasil pemeriksaan, ditemukan bengkak dan luka lecet di pelipis kepala bagian kiri. Diduga akibat terbentur benda tumpul.

Darah juga keluar dari telinga kanan dan kiri, yang diduga karena benturan kepala.

"Pasca kecelakaan, semua kegiatan Mapala dihentikan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan," tegasnya.

Sementara itu, keluarga Oskar membuat surat pernyataan menolak proses autopsi. Dan meminta korban segera dipulangkan ke rumah duka di Klaten Tengah.

"Hasil pemeriksaan, diduga korban meninggal karena terjatuh dari ketinggian," pungkas Jonser. (dza/gr/fud) Editor : Arief
#Panjat tebing #Kecelakaan #Pendaki Tewas