Insiden maut itu terjadi di Sungai Barito, Kecamatan Tamban Kabupaten Barito Kuala, kemarin (2/6) siang.
Ketiganya adalah warga Pulau Bromo, Banjarmasin Selatan. Mereka adalah Amat (35), Dullah (25) dan Asrani (35). Korban-korban ini masih berkerabat.
Mereka kerap memunguti "remah" batu bara dari tongkang yang belayar di sekitar perairan Barito.
Dugaan awal, mereka meregang nyawa akibat menghirup gas beracun di ruang palka.
Ketua RT 06 Pulau Bromo, Murthalib menceritakan, para korban berangkat naik perahu kelotok. Berempat bersama Supian yang lolos dan selamat.
Tujuannya, mengumpulkan sisa-sisa angkutan batu bara yang telah diturunkan di Muara Taboneo, Kabupaten Tanah Laut.
Entah bagaimana, Amat nekat membuka penutup palka dan masuk ke dalam. Sedangkan ketiga rekannya menunggu di atas kelotok.
Sekian menit ditunggu, Dullah mulai cemas. Ia memutuskan naik ke tongkang untuk mencari sepupunya.
Melihat penutup palka terbuka, ia curiga. Turun ke dalam, Dullah pun tumbang.
Asrani yang khawatir dengan nasib adik iparnya (Dullah) pun menyusul. Hanya Supian yang masih menunggui kelotok.
Ketiga rekannya tak kunjung muncul, Supian mulai panik.
"Supian akhirnya naik juga. Dia mau masuk, tapi mencium aroma gas dari lubang itu. Pengakuannya, belum sempat masuk ia sudah jatuh pingsan," tutur Murthalib.
"Hampir semua warga kami di sini bekerja mencari batu bara karungan," bebernya.
Dikonfirmasi, Kasi Humas Polres Batola AKP Abdul Malik mewakili Kapolres Batola AKBP Diaz Sasongko mengatakan, anggotanya masih memeriksa para saksi. "Untuk kasusnya ditangani Ditpolairud Polda Kalsel," ujarnya singkat. (lan/gr/fud) Editor : Arief