Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBPMP2A) Kota Banjarbaru, Sri Lailana menyebut bahwa pengawasan terhadap aktivitas kos-kosan di Banjarbaru sangat bergantung pada masyarakat di lingkungannya masing-masing.
"Barangkali fenomena ini terjadi karena tingkat kepedulian masyarakat kita kepada tetangganya sangat kurang. Terutama petugas RT dan RW setempat," ungkapnya.
Sebab menurut Sri, petugas RT dan RW harus mengawasi masyarakat di wilayahnya. Misalnya ada wanita yang sedang hamil namun tidak tinggal dengan suami sahnya.
"Ini harus jadi perhatian bersama, karena dalam kurun waktu berdekatan sudah ada penemuan empat bayi yang buang dengan sengaja. Bahkan kemarin saat Ramadan dan Idulfitri ada dua bayi yang dibuang," bebernya.
"Makanya kami sangat prihatin dengan kondisi masyarakat kita sekarang," tambahnya.
Senada dengan Sri, Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Banjarbaru, Rokhyat Riyadi juga menyebutkan bahwa fenomena pembuangan bayi ini kuncinya ada pada pengawasan masyarakat.
Karena itu ia meminta agar setiap petugas RT dan RW bisa mendata secara benar warga yang bermukim di wilayahnya masing-masing.
"Kalau tidak seperti itu, paling tidak ada kesadaran warga yang baru pindah untuk melaporkan diri, minimal ke petugas RT di tempat dia tinggal," pintanya.
Menurutnya, hal tersebut penting dilakukan agar masyarakat sekitar mengetahui siapa pendatang yang baru bermukim di wilayahnya.
"Kami sangat mengimbau para pendatang bisa melaporkan diri kepada ketua RT-nya," tuntasnya. (zkr/why) Editor : Muhammad Helmi