"Ini salah satu ancaman yang harus kita tanggulangi sejak dini," ujar Wakapolres Kompol Sofyan, kemarin, ketika memimpin rapat lintas sektoral persiapan operasi Ketupat Intan.
Faktanya, kegembiraan anak-anak bermain perang-perangan itu selalu berbuah masalah. Mulai dari mengganggu pengguna jalan sampai jatuhnya korban fisik di kedua pihak yang berperang.
Karena, walau senjata itu mainan tapi dapat menimbulkan cidera fatal. Misalnya pelurunya nyasar ke mata atau tenggorokan. Dan pada akhirnya, perang yang awalnya untuk bergembira hampir selalu berakhir perseteruan fisik.
Belum lagi kalau remaja dewasa ikut main. Senapan mereka modifikasi sedemikian rupa, sehingga peluru yang melesat kecepatannya bertambah. Per biasa diganti per payung, hasilnya kulit memar-memar jika terkena pelurunya."Tolong ini diwaspadai betul sejak sekarang," pinta Sofyan.
Lalu ancaman lainnya jelang idul fitri berkutat di kerumunan transportasi darat dan laut. "Jaga semua pos-pos darat dan laut, pastikan arus lalinnya lancar," tegas Wakapolres.
Sementara itu di lapangan, beberapa remaja saat ditanya mengaku sudah menabung. Untuk membeli senapan mainan terbaru. "Gak seru lebaran gak perang," ujar Eva yang tinggal di pusat kota.
Diceritakannya, kelompok anak-anak dan remaja berdasarkan tempat tinggal. Di hari lebaran, mereka akan berjalan-jalan. Nah, jika di perjalanan bertemu kelompok lain, itu artinya perang siap dimulai.
Sebenarnya, jika anak-anak itu memakai pengaman seperti pelindung wajah, dan permainan dilakukan di area yang sudah dimodifikasi untuk simulasi perang, akan lain ceritanya. Permainan itu bisa berubah jadi sarana yang mengasyikkan.
Tapi yang terjadi anak-anak itu kejar-kejaran di jalan raya. Gerilya di gang-gang sempit. Sampai tersudut di muara sungai pusat kota samping Mapolres Kotabaru. Karena ada yang terluka dan menangis polisi pun akhirnya turun tangan. (zal/ij/ran) Editor : Arief