Antropolog dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Nasrullah menjawab, pemikiran primitif dan liar semacam itu tetap akan hidup di tengah alam pemikiran modern.
"Termasuk kepercayaan terhadap benda-benda tertentu yang mendatangkan kekuatan," ujarnya kepada Radar Banjarmasin kemarin (15/7).
Dia membagi pemikiran manusia menjadi permukaan luar dan terdalam. Teknologi canggih dan kehidupan modern mungkin hanya menyentuh permukaan luar.
"Sedangkan di dalamnya masih percaya hal-hal dari masa lalu," tambah dosen yang mengajar mata kuliah pendidikan sosiologi itu.
"Jadi teknologinya saja yang canggih. Selama hanya menjadi pemakai, jangan terkejut dengan kemunculan perilaku primitif atau kuno seperti itu," tambahnya.
Maka, bagaimana memberantasnya? Dia menjawab, mempertajam daya kritis dan memperkuat pemahaman agama.
"Nabi Muhammad saja pernah terluka dalam pertempuran. Artinya rasul saja tidak kebal," tegasnya seraya mengutip cerita Perang Uhud.
Logika Nasrullah, jika ilmu kebal itu benar-benar ada, maka mengapa Indonesia susah payah mengusir penjajah. "Harusnya mudah, kan mempan peluru," selorohnya.
Bagi Nasrullah, mencuri kulit alis dan kelopak mata jenazah memang tak lazim. "Perlu pendalaman. Agak aneh. Karena biasanya cukup mencuri potongan kain kafan saja," pungkasnya.
Terpisah, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) HST, Wajihuddin dengan tegas pencarian ilmu kebal itu menyimpang dari akidah Islam. "Seperti menggunakan tumbal atau pergi ke tempat yang dianggap keramat," ujarnya.
Wajihuddin menceritakan, ada juga yang mengaku-ngaku kebal berkat bacaan Alquran. Menurutnya, itu bukan kekebalan. Melainkan pertolongan dari Allah karena hamba-Nya meminta dengan sangat yakin.
"Tidak ada ilmu kebal dalam syariat. Nabi Muhammad saja berdarah ketika dilempar batu," pungkasnya.
Diwartakan sebelumnya, Sayuti yang tinggal di Desa Benawa Tengah Kecamatan Barabai ditangkap Polres HST pada Rabu (13/7). Kakek 65 tahun itu dilaporkan tetangganya saat kepergok menyayat mata jenazah dengan silet, Selasa (12/7).
Polisi menemukan barang bukti, berupa 88 lembar kulit alis dan kelopak. Atau 44 pasang, sebelah kanan dan kiri. Sayuti mengaku sudah mengumpulkannya selama dua tahun. Tujuannya untuk dijadikan jimat. (mal/gr/fud) Editor : Muhammad Helmi