Sarang lebah itu berada tepat di dahan Pohon Ketapang dan dianggap sudah meresahkan warga sekitar.
Salah seorang warga, Udin, menuturkan, kawanan lebah bahkan terkadang menyerang pedagang kaki lima yang berjualan tepat di bawah pohon.
"Teman saya yang jualan martabak sering disengatnya. Itu terjadi pada malam hari. Mungkin karena kawanan lebah tertarik dengan lampu gerobaknya," ucapnya, Senin (11/7) siang, di lokasi evakuasi.
"Sebenarnya sudah lebih lima bulan bersarang di pohon itu. Tapi, tidak ada yang berani mengusir. Karena tinggi, juga takut disengat,” ucapnya.
Syukurlah, keluhan itu ditindaklanjuti personel Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Banjarmasin.
Setibanya di lokasi, petugas menyiapkan peralatan yang diperlukan. Dari alat pelindung diri (APD), hingga mengerahkan unit mobil crane milik Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Banjarmasin.
Selain dilengkapi APD, dua orang personel juga dibekali gergaji dan semprotan anti serangga. Mereka naik melalui bak mobil crane.
Saat proses dimulai, salah seorang personel DPKP yang berada di atas melambaikan tangan. Seperti meminta operator crane untuk menurunkan dirinya. Belakangan diketahui, ia diserang kawanan lebah yang merasa terganggu.
Dari pantauan, personel yang disengat rupanya tidak mengenakan APD lengkap. Ia hanya mengenakan pelindung di bagian kepala.
Syukurlah, anggota tersebut masih tampak sehat. Segera, ia mendapatkan pertolongan sementara untuk mengurangi efek bengkak akibat sengatan lebah.
Kembali ke evakuasi. Kali ini, proses berlangsung tanpa kendala. Meski hanya dilakukan satu orang saja. Sarang lebah berukuran lebih satu meter pun berhasil dimasukkan ke dalam karung.
Komandan Regu (Danru) II DPKP Banjarmasin, Ilham Pengabdi, mengakui, mereka memang kekurangan APD. Sehingga ada petugas yang terkena sengatan lebah. "Alat kami masih kurang memadai dan lengkap. Jumlahnya pun masih terbatas," ucapnya.
Kendati demikian, ia menegaskan, kendala tersebut tidak menggangu proses evakuasi sarang lebah. Ia berjanji akan mewanti-wanti personel untuk lebih hati-hati ke depan. (war)
Editor : Muhammad Helmi