Kemarin (22/2), dua orang yang mengaku korban dugaan penipuan ini mencurahkan isi hatinya kepada Radar Banjarmasin. Mereka mengurai bahwa kasus yang mereka alami bisa dikatakan serupa dengan apa yang terkuak di kasus menghebohkan di Banjarmasin.
Kedua korban ini yakni JG (24) dan WT (25). Keduanya sama-sama warga Banjarbaru. Adapun pihak yang disebut mereka terduga penipuan berkedok arisan online ini berinisial SPS, seorang ibu rumah tangga beranak satu yang berdiam di wilayah Sungai Besar Banjarbaru.
Selain curhatan dari kedua wanita yang mengaku korban ini. Kasus ini rupanya sudah menyeruak ke sosial media Instagram. Sebuah akun dengan nama @korbanarisansyifut turut membocorkan aksi dugaan penipuan oleh SPS.
Menurut JG dan WT, orang yang mengaku jadi korban SPS jumlahnya sudah puluhan. Dari hitung-hitungan mereka totalnya ada 74 orang. Angka ini disebut terus bertambah usai kasus ini viral di media sosial.
"Kita ada wadah komunikasi yakni grup WA. Totalnya ada 74 orang yang gabung jadi member. Terbaru, dari pengakuan korban jika ditotal kerugian yang dialami semuanya mencapai Rp334 juta," kata WT didampingi JG yang mengaku merugi Rp9 juta dari kasus ini.
SPS ujarnya disebut berperan sebagai penampung uang yang disetorkan member, atau kerap mereka sebut bandar. Ia menggunakan skema arisan online dengan sistem slot. Satu slot mulai dipatok dari 500 ribu rupiah dengan benefit SPS mengiming-imingi bisa melipatgandakan uang tersebut.
Modus SPS diduga tutup tambal lubang. Artinya, ia menjanjikan kelipatan sampai 50 persen kepada calon membernya. Ketika member tertarik, ia akan mencari lagi member lain untuk memutar uang yang disetorkan tersebut.
"SPS ini sudah mulai aktif membuka arisan online sejak 2019. Kalau saya ikut 2021. Sebenarnya SPS ini reputasinya terkenal bagus, amanah. Tapi di Oktober 2021 mulai kelihatan tidak beresnya," ceritanya.
Ketidakberesan ini kata WT bermula ketika uang yang seharusnya pihaknya terima tak kunjung dibayarkan oleh SPS. Sistem pembayaran ataupun pencairan diketahui melalui sistem transfer.
"Di awal-awal saya ikut itu normal saja, artinya beres saja. Nah makin kesini tepatnya di Oktober 2021 malah mulai bermasalah. Uang yang harusnya terima di tanggal sekian tak kunjung saya terima, bahkan itu nyaris lewat lima bulan dari tanggal yang dijanjikan," tambahnya.
Sebagai korban, pihaknya klaim WT sebetulnya sudah berusaha menghubungi SPS untuk mempertanyakan uang tersebut. Namun, WT maupun korban lainnya mengklaim jika SPS selalu menghindar dan melontarkan alasan berbelit-belit.
"Kita pernah mencoba menagih atau meminta kejelasan. Alasannya macam-macam, dari uangnya habis tertipu investasi bodong hingga katanya dibawa kabur rekannya senilai Rp200 juta," katanya.
Amarah WT dan JG makin memuncak ketika SPS tak menggubris upaya komunikasi mereka. Bahkan beberapa kontak korban lain kata WT diblokir. Teranyar, akun personal milik SPS maupun akun arisan onlinenya sudah dinonaktifkan.
"Kita kasihan dengan member atau korban lain, ada yang kondisinya perlu uang untuk biaya bersalin, ada yang mau keperluan nikah bahkan infonya ada yang sampai sakit gara-gara memikirkan kasus ini," ceritanya.
Lantas apakah para korban sudah melaporkan dugaan penipuan ini ke pihak berwajib? Baik JG maupun WT mengaku sudah melapor ke Polres Banjarbaru. Bahkan beberapa korban lain disebutkan juga melakukan hal serupa.
"Januari tadi kita ada datang ke Polres dan melaporkan SPS ini. Cuman kita belum bisa menindaklanjuti karena jujur karena ada kesibukan dan sambil kerja. Kita berharap kasus ini bisa diselidiki serius, karena kasihan korban lain atau bakal ada calon korban lainnya lagi," ujarnya.
Sementara itu, pihak Polres Banjarbaru ketika dikonfirmasi Radar Banjarmasin menjawab jika memang ada laporan yang masuk dengan nama terlapor seperti yang diklaim korban.
"Iya ada. Sekarang masih proses, ini masuk tahapan lidik termasuk juga pemanggilan saksi-saksi. Nanti kalau ada informasi lanjutan kita informasikan," jawab Kapolres Banjarbaru, AKBP Nur Khamid melalui Kasi Humas, AKP Tajuddin Noor kemarin (22/2) petang. (rvn/ij/bin) Editor : Arief